Friday, January 20, 2017

WITH US OR AGAINST US

~Apakah kamu pikir jika kamu bukan anggota FPI, maka kamu akan aman?~

"Buka Mata, Buka Telinga dan Buka Hati"

Sambil nunggu motor saya dicuci, saya mengambil sebuah majalah usang yang disediakan oleh jasa pencucian motor tersebut untuk saya baca…

Saking tuanya sehingga jangankan sampul, banyak halamannya yang sudah robek dan lecek…

Tandanya bahwa pelanggan malas membaca, sehingga pemilik jasa pencucian tidak berminat mengganti majalahnya…

Majalah tahun 90an itu isinya tentang perang Bosnia. Salah satu yang saya ingat adalah sebuah testimoni warga Bosnia di awal-awal berkobarnya perang.

Pemuda itu berkata: "Sebelum pecah perang, kami anak-anak muda kaum Muslimîn di Bosnia hidup dengan cara hidup mereka para pemuda Serbia. Berpesta, fashion, minuman keras, dan segala macam cara hidup mereka. Tak ada yang membedakan kami dengan mereka, kecuali hari Jum‘at dan Hari Raya. Tapi ketika pecah perang, mereka yang dulunya adalah teman-teman kami berpesta, kini memerangi dan membantai kami!"

Selesai.

Saya lalu berpikir, saat ini musuh-musuh Islâm menyerang Islâm tahap demi tahap. Awalnya dengan issue ISIS. Mereka berteriak bantai ISIS karena mereka tahu mayoritas kaum Muslimîn juga tidak setuju dengan ideologi ISIS, sehingga mereka bisa menyalurkan kebencian terhadap Islâm dengan mengatasnamakan kebencian terhadap ISIS.

Setelah itu mereka menyerang FPI, karena praktek amar ma’ruf nahi munkar FPI yang banyak mendapat kritikan, sehingga mereka nebeng menyerang FPI. Padahal sebenarnya yang mereka ingin serang adalah Islâm.

Selanjutnya kejadian kemarin, Sekjen MUI Pusat yang mereka berusaha untuk serang. Mereka mengatasnamakan "Cinta NKRI" dan menuduh Tengku Zulkarnain tidak tahu berbhinneka, sehingga mereka menyerangnya.

Demikian seterusnya…

Maka anda jangan menganggap bahwa jika anda bukan anggota FPI, maka anda akan aman.

Tidak…

Karena mereka akan memerangi kalian selama kalian "Muslim",  walaupun anda Muslim yang sekuler, muslim yang katanya berbhinneka, Muslim yang mengucapakan selamat terhadap hari raya agama lain, Muslim yang mabuk, Muslim yang dukung pemimpin kâfir dlsb.

Atau anda mungkin mengatakan bahwa cara beragama anda lebih hikmah dan lebih lurus dari FPI, maka pasti jika tiba peluang itu, maka anda akan diperangi. Jangankan kalian, bahkan anak bayi kalian pun yang tidak tahu apa-apa, mereka semua akan diperangi!

Atau mungkin anda katakan bahwa anda tidak setuju FPI karena FPI tidak berilmu, tapi yakinlah jika tiba saatnya, maka kalian juga akan diperangi oleh musuh-musuh Islâm itu!

Karena yang mereka benci sebenarnya bukan FPI, bukan yang menuntut Ahok dipenjara.

*Tetapi yang mereka benci adalah Islâm!*

Maka jika anda Muslim, maka anda adalah target mereka.

Jadi pilihan hanya dua: with us or against us.

Bersama kita rapatkan shoff dalam bingkai aqidah Islâmiyah, atau menjadi musuh Islâm itu sendiri.

Tak ada tempat yang ketiga – lâ manzila bayna manzilatain.

Bergabung dengan perahu besar Kaum Muslimîn, karena jika anda hanya mengandalkan sekoci, maka sekejap ia akan hilang ditelan oleg gelombang serangan musuh yang makin membabi buta.

Ingatlah peristiwa inkuisisi di Granada, ketika kaum Muslimîn, baik yang shôlih maupun thôlih diberi pilihan, masuk ke dalam agama mereka atau dibunuh? Tak peduli apakah kaum Muslimîn itu rajin sholât atau rajin mabuk, mereka sama di hadapan Majelis Inkuisisi, karena dosa mereka satu, yaitu: *mereka adalah Muslim*.

Wallôhul musta‘an..

Jika bermanfaat maka sebarkanlah sebagai amal sholeh

Sumber: Fathul Andalush

Wednesday, January 18, 2017

DIABOLISME INTELEKTUAL

*TALBIS IBLIS*
Oleh: Dr. Adian Husaini

Dr. Syamsuddin Arief, alumni ISTAC yang sedang mengambil doktor keduanya di Frankfurt Jerman, beberapa waktu lalu menulis satu artikel yang menghebohkan di hidayatullah.com. Judulnya: "DIABOLISME INTELEKTUAL"

Artikel ini segera menyulut tanggapan keras dari seorang aktivis Islam Liberal, yang segera menuduh bahwa orang seperti Dr. Syamsuddin Arief cenderung punya kelainan jiwa (mental disorder), karena merasa dirinya paling benar dan paling bersih.

Melalui artikelnya, Syamsuddin menjelaskan, bahwa "diabolisme" berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya.

Dalam kitab suci al-Qur'an dinyatakan bahwa Iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis tidaklah atheis atau agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan.

Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen.

Tetapi, meskipun ia tahu kebenaran, ia disebut 'kafir', karena mengingkari dan menolak kebenaran.
Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang. (QS 2:34, 15:31, 20:116); ia sombong dan menganggap dirinya hebat (QS 2:34, 38:73, 38:75). Iblis juga melawan perintah Tuhan.

Allah berfirman: *Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain kepada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim (QS 18:50).*

Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya. Iblis adalah 'prototype' intelektual 'keblinger'.

Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.

*"Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!"* Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64).

Maka Iblis pun bertekad: *"Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17).*

Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, cetakan Beirut, al-Maktabah al-Asriyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).

Selanjutnya, Syamsuddin Arief menelaborasi ciri-ciri cendekiawan bermental Iblis.

Pertama,
selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya. Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya.
Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu.

Kedua,
cendekiawan bemental Iblis itu bermuka dua, menggunakan standar ganda (QS 2:14).

Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha').

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an : *"Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (QS 7:146).*

Ketiga,
ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta.

Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.

Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.
Al-Qur'an pun telah mensinyalir: *"Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka" (QS 22:3-4).*

Demikianlah peringatan dan paparan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri cendekiawan yang bermental Iblis. Peringatan ini sepatutnya menjadi renungan serius bagi para cendekiawan yang benar-benar memiliki niat ikhlas untuk mencari kebenaran, dan bukan saja mencari popularitas dan keuntungan duniawi.

Apa yang dilakukan Syamsuddin Arief bukanlah hal baru. Banyak ulama sebelumnya yang telah memberikan peringatan serupa, tentang bahaya taktik dan tipudaya Iblis dalam menyesatkan umat manusia.

Masalah ini begitu penting, sebab, memang Iblis adalah musuh manusia yang nyata, bukan musuh yang tersembunyi. Iblis dan kroni-kroninya seharusnya diketahui dengan jelas ciri-cirinya.

Imam al-Ghazali menulis satu Kitab Khusus tentang masalah Iblis dan tipudayanya, yang diberi judul Talbis Iblis. Kitab dengan judul yang sama juga ditulis oleh al-Hafizh Ibnul Jauzy al-Baghdady. Dalam Kitabnya, Ibnul Jauzy mengingatkan, bahwa talbis artinya menampakkan kebatilan dalam rupa kebenaran.

Ibnul Jauzy menjelaskan talbis Iblis terhadap berbagai jenis agama dan aliran masyarakat, yang tumbuh dan berkembang ketika itu.

Talbis Iblis, atau tipudaya setan, yang hobinya mengaburkan yang haq dan bathil sangatlah perlu diwaspadai oleh manusia. Apalagi, jika yang melakukan talbis itu orang-orang yang dikategorikan ke dalam golongan intelektual atau cendekiawan.

Mereka dengan segala kemampuan ilmunya tidak ragu-ragu mengikuti jejak Iblis, memutarbalikkan yang haq menjadi bathil dan yang bathil menjadi haq.

Di era kebebasan informasi saat ini, kaum Muslim menghadapi masalah yang sangat pelik, yang belum pernah dihadapi di masa-masa lalu. Nyaris setiap hari, media massa melakukan penjungkirbalikan nilai-nilai kebenaran, dengan menggunakan slogan-slogan atau istilah-istilah yang indah, seperti pluralisme, kebebasan, hak asasi, pencerahan, dan sebagainya.

Paham penyamaan semua agama yang jelas-jelas keliru dibungkus dengan istilah indah: pluralisme. Paham penyebarluasan kebebasan amoral dalam bidang perzinahan dan homoseksual dikemas dengan bungkus rapi bernama hak asasi manusia.

Dengan tipudaya Iblis, khamar  diiklankan dan dijadikan kebanggaan oleh sebagian manusia modern, perzinahan dilegalkan dan tidak dipersoalkan kebejatannya, sementara poligami diopinikan sebagai bentuk kejahatan.

Rasulullah saw pernah mengingatkan: *Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Pada waktu itu di pendusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan dusta. (HR Ibnu Majah).*

Di zaman globalisasi saat ini, diakui, bahwa informasi adalah kekuatan yang paling dahsyat. Penguasa informasi adalah yang menguasai otak manusia saat ini. Mereka dengan leluasa berpotensi memutarbalikkan fakta dan kebenaran.

Di sinilah talbis Iblis dapat terjadi. Yang haq dipromosikan sebagai kebatilan, dan yang bathil dikampanyekan sebagai al-haq. Banyak motif para pelaku talbis Iblis. Bisa karena memang ada kesombongan, ada penyakit hati, atau karena motif mencari keuntungan duniawi.

Dalam situasi seperti ini, peringatan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri pelaku talbis Iblis di kalangan intelektual, sangat relevan untuk direnungkan. Sangatlah tidak tepat jika dia dikatakan mengalami gangguan jiwa.

Tugas para Nabi dan pewarisnya (para ulama) adalah menjelaskan mana yang haq dan mana yang bathil, menyeru umat manusia, agar tidak mengikuti jalan-jalan Iblis, jalan yang sesat, yang mengantarkan manusia kepada api neraka.

Jika ada cendekiawan yang tugasnya senantiasa mengaburkan nilai-nilai kebenaran dan kebatilan, maka ia perlu melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri. Allah SWT sudah menjelaskan: Tidak ada paksaan (untuk masuk) agama Islam. Sungguh telah jelas yang benar dari yang salah. (QS 2:256). 

Sikap merasa benar sendiri terhadap kebenaran agama Islam dan yakin dengan kebenaran al-Islam adalah sikap yang sudah seharusnya. Dalam hal ini tidak boleh ada keraguan. Yang haq harus dikatakan haq dan bathil harus dikatakan bathil. Itulah tugas setiap cendekiawan Muslim.

Allah juga mengingatkan:
Al-haq itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Sikap meragu-ragukan terhadap kebenaran adalah sikap dan perilaku Iblis, yang tidak perlu dicontoh oleh kaum Muslim.

Thursday, December 8, 2016

Karena Kau Bidadari Syurgaku

"Kau adalah perhiasan, adalah pusat keindahan
Yang tanpa bersolekpun tetap indah,
Apatah lagi dihias tentu akan sangatlah indah
Maka berhiaslah untuk suamimu.
Wajah & senyummu manis, maka persembahkanlah hanya untuk suamimu"

Islam tidak mengatakan bahwa perempuan (muslimah) tidak boleh meng-upload photo di media online. Memang dalam Islam ada perbedaan pendapat tentang larangan penggunaan gambar, tetapi saat ini kita tidak bisa sepenuhnya menghindari, karena untuk kepentingan resmi (seperti pembuatan kartu identitas), kita membutuhkannya. 

Setelah mengetahui dan menyaksikan banyak hal yang terjadi di internet, maka kaum perempuan (muslimah) sebaiknya tidak meng-upload photo pribadinya maupun video di media online..

Banyak muslimah yang belum mengetahui hal ini dan meng-upload photo mereka ke media online. Kendatipun demikian banyak dari para muslimah yang rajin meng-upload foto-foto pribadinya, mungkin karena dianggap sebagai kekinian sehingga banyak muslimah yang tidak memandang hal ini sebagai masalah serius, untuk itu kepada para AYAH, IBU, SUAMI, dan muslimah untuk memberi perhatian khusus tentang masalah ini.

Sikap positif dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah bahkan mkan fatwa bagi kaum muslim perempuan (muslimat) yang sudah berstatus sebagai istri dilarang keras meng-upload foto-foto pribadinya di media sosial atau media online. Seorang istri tidak boleh upload foto pribadinya di media sosial apapun, baik itu foto anggota badan maupun wajah, apalagi wajah, karena wajah seorang istri itu haknya suami untuk memandangnya, maka jangan biarkan dilihat oleh orang yang tidak berhak, maka jika kemudian foto atau gambar seorang istri akan menarik perhatian dan akan melahirkan berbagai tanggapan dan komentar, nah ini tentu memancing kecemburuan suaminya bahkan bis berahir dengan perpisahan. Hancurlah bahtera cinta yang selama ini di bina". demikian Zainal Abidin

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Allah SWT. memerintahkan kaum perempuan untuk berhijab dan menyembunyikan kecantikan dirinya kecuali kepada yang berhak yakni suaminya dan muhrimnya secara fisik bukan berarti boleh menampilkan keindahanmu melalui photo?! Bukankah itu sia-sia?

QS. Al-A’raf : 26, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

QS. AL-Ahzab : 33, “Dan hendaklah engkau tetap di rumahmu dan janganlah berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu.”

QS. An-Nuur : 31, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

QS. Al-Ahzab: 36 pun, sudah jelas dikatakan bahwa, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.”

Berangkat dari ini maka aku nasihatkan kepadamu bidadari syurgaku; 
+ : “Dik hapuslah photo pribadimu yang sudah engkau upload, karena sangat berbahaya, bukankah  engkau percaya padaku untuk menjagamu?!”
- : “Mas, photo-photoku kan pake hijab”
+ : “Wajahmu haram untuk di pajang di medsos, akan banyak fitnah di kemudian hari, dan itu mengundang kecemburuanku.”

Saat dunia sudah dipenuhi tipudaya ini, banyak photo wanita yang dicuri dan digunakan sebagai:
1. Prostitusi/ gadis panggilan
2. Untuk mempromosikan website
3. Digunakan untuk iklan situs dewasa

Buktinya bisa dilihat disini :
http://islamgreatreligion.files.wordpress.com/2008/12/add.jpg
http://islamgreatreligion.files.wordpress.com/2009/11/girl7.jpg
http://islamgreatreligion.files.wordpress.com/2009/11/girl6.jpg
http://islamgreatreligion.files.wordpress.com/2009/11/girl-1.jpg
(Copy link diatas ke tab baru di browser anda)

Saya yakin perempuan-perempuan itu adalah korban, bukanlah (maaf) pelacur, tetapi mereka terdaftar disana. Bahkan yang berhijab pun tak aman. Tidak sedikit website yang mengedit photo wanita telanjang dengan menempatkan wajah muslimah. Dan mereka akan memberi label sebagai "pelacur muslim", "pelacur berhijab", dll. Pertanyaan sekarang, apakah Anda ingin photo Anda terpampang sebagai wanita pelacur disana? Apakah Anda ingin ada banyak pasang mata yang memperhatikan tubuh Anda dengan pandangan nafsu? Berpikirlah bahwa itu akan membawa dampak yang buruk, wahai muslimah..

Ketahuilah bahwa setiap bagian tubuh wanita dapat menggoda lelaki. Photo-photo yang di upload di medsos (FB, WA, BBM, Line, IG, dll.) Jika mereka (lelaki) melihat, berfikir dan berkomentar "Wow, kamu cantik bunda", "senyumu manis sekali", "bibirmu indah" "matamu memancarkan damai" dll.. SELAMAT, Anda telah memperoleh DOSA!!

Ada banyak website yang menggunakan photo wanita untuk mendapatkan uang. Jika engkau upload photomu dan menambahkannya diberbagai laman. Users akan melihat photomu dan mereka mendapatkan uang. Jadi kembalilah berpikir sebelum meng-upload photo pribadi ke internet demi alasan jebaikan dan keamanan. Sekarang bayangkan ada berapa banyak kaum perempuan yang mendapatkan kejadian buruk? Dan ingatlah bahwa photo yang telah di upload ke internet bukanlah mutlak milik kita. Siapapun boleh mengambil dan menggunakannya atau bahkan mengaku photo itu sebagai dirinya.

Ingatlah bahwa menunjukkan kecantikan (tabarruj) adalah salah perbuatan dosa. Bahkan jika seorang wanita keluar rumahnya dengan menggunakan parfum dan lelaki dapat mencium wangi parfumnya, wanita tersebut seperti seorang pezina.. Nauzubillah tsumma nauzubillah... Tak ada yang bisa menyelamatkan kita dari dosa selain dari diri kita sendiri.. Jadi, STOP menampilkan kecantikan diri pada yang bukan berhak..!! Ini bukan hanya pada facebook tetapi juga pada media online yang lainnya. 

Islam sangat mengagungkan wanita. Pahamilah betapa berharganya dirimu. Sesuatu yang berharga sudah pasti tertutup. Seperti halnya berlian dan mutiara. Ia terletak jauh dan terlindungi. Engkau muslimah jauh lebih berharga dari berlian dan mutiara itu. Bukankah kita tahu bahwa seindah-indah perhiasan dunia ialah wanita sholehah? Hijab bukan hanya melindungi fisik dengan selembar kain, bukanlah hijab fisik belaka tetapi hijab dalam segala hal, yaitu menyembunyikan kecantikan dari yang bukan hak. Kecantikan seorang sitri adalah hak suaminya.

Semoga Allah meridhoi dan melindungi kita dananak-anak kita semua. Aamiin

Friday, November 18, 2016

NYINYIR

Menuntut runut
Bukan dari buntut.
Mengorek fakta
Bongkarlah isi kepala

Lihat dadamu.
Periksa otakmu.
Agar faham & tahu
Siapa kamu!!!

Aku mengulir ukir
Tak hirau luka mengalir.
Anyir.
Tapi kau malah nyinyir

Hatimu terbuat dari tembaga
Yang menjamur biru rupanya.
Kepalamu batu
Tak tega kupukul kau dengan palu

Biarlah aku begini saja
Nikmati rona merah yang hanya pura pura
Nikmati baktimu yang pura pura

Dan aku?
Pura pura hidup
Menua keriput kusut
Ahirnya pura pura maut

Hanya pura pura
Aslinya entah seperti apa
Mungkin yang tahu dia......
Angin yang bersenggama

Entah

Saturday, October 29, 2016

Mensyukuri TERPLESETnya Lidah Sang Penista

LEBIH dari 14 abad silam, peristiwa serupa pernah terjadi di Madinah. Di awal-awal hijrah dan terbentuknya masyarakat muslim, segala karakter dan status keimanan tercampur di kota itu. Kaum muslimin bingung kepada siapa harus berteman akrab dan kepada siapa harus berhati-hati? Kawan dan lawan menyatu tanpa bisa dibedakan. Hingga akhirnya, datanglah ancaman 3000 Pasukan Quraisy dalam Perang Uhud, tahun 3 Hijriyah.

Mobilisasi untuk mempertahankan Islam pun digelar, dan hasilnya 1000 orang siap berangkat berjihad, dari berbagai golongan.

Tapi, Allah Subhanahu Wata’ala tidak rela para pembela agamanya kecuali dari kalangan yang tulus imannya. *Allah gentarkan hati kaum munafikin* itu, hingga sekitar sepertiga pasukan pun berbalik pulang dengan beragam alasan.

Abdullah bin Ubay bin Salul tidak bisa lagi menyembunyikan wajah aslinya yang buruk menyeringai itu. Demikian pula konco-konconya. Sejak saat itu, *Rasulullah pun paham dan para Sahabat mengerti siapa yang sungguh-sungguh bersama mereka dan siapa yang munafik.*

*Allah Subhanahu Wataala mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya:*

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia *menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)*. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (QS Ali Imran: 179).

*Siapa Bersama Kita, Siapa Bersama Mereka*

Sudah menjadi *ketetapan Allah Subhanahu Wata’ala* bahwa kita tidak bisa mengetahui yang ghaib. Isi hati manusia adalah rahasia seseorang dengan Tuhannya saja. Tapi, saat Allah berkehendak menyingkapnya, Dia akan mewujudkan sebab-sebab yang mendorong siapa pun untuk bereaksi secara alamiah sesuai isi hatinya itu, tak terelakkan lagi.

Andai Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak terpeleset lidahnya di Kepulauan Seribu, kita tidak pernah tahu siapa yang peduli pada agamanya dan siapa yang cuek pada Kitab Sucinya Al-Quran.

Kita pun tidak akan punya bukti nyata siapa mukmin yang jujur dan siapa yang munafik.

Maka, jangan menyangka ini buruk bagi kita. Justru peristiwa ini baik bagi kaum muslimin. Allah Subhanahu Wata’ala masih menyayangi umat Islam di sini, sehingga Dia tidak membiarkan kita berada dalam ketidakjelasan status seperti sebelumnya.

Sekarang, kita sudah bisa menyaksikan siapa saja yang berdiri bersama umat Islam dan siapa pula yang justru bersama “mereka” pencela Al-Quran.

Media massa apa saja yang berpihak dan di mana posisi mereka. Andai Allah Subhanahu Wata’ala tidak memunculkan sebab ini, kita tidak mungkin mengerti isi hati mereka. Itu perkara ghaib bagi kita, tapi tidak bagi Allah, dan sebegitu mudahnya Allah bongkar topeng-topeng mereka sekarang.

Jadi, bersyukurlah Allah Subhanahu Wata’ala masih memperhatikan kita dan bersedia menunjukkan jatidiri kawan maupun lawan kaum muslimin yang sesungguhnya. Semoga kita dipilih oleh-Nya menjadi bagian dari orang-orang yang berada di belakang Rasul-Nya, bukan di depannya; yang mengangkat Al-Quran di atas kepalanya, bukan yang menginjaknya. Ayat 179 dari surah Ali Imron di atas menyiratkan sebuah “seleksi alam”. Kita sedang _*diayak*_ oleh Allah, untuk dipilah dan dipilih. Kita hanya diminta beriman dengan sungguh-sungguh, dan kita tunggu apa yang akan Dia perjalankan selanjutnya.

Allah Subhanahu Wata’ala tidak tidur dan alam semesta tidak dilepaskan bergulir begitu saja. Dia terus memperhatikan kita dan mengendalikan urusan-urusan. Bila kaum munafiqun, kafirun, musyrikun itu punya rencana, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala juga punya rencana-Nya. Dan, rencana-Nya teramat teguh tak terkalahkan. Kita akan menyaksikan peristiwa-peristiwa lebih besar setelah ini, entah apa, cepat maupun lambat. Bersiap-siagalah!.

Kontributor: 'Alimin Mukhtar, guru di Ma’had Ar-Rohmah Putri, PP Hidayatullah Malang

Seni CURHAT

Kepada Siapa Curhat?

Curhat pada tempat yang salah samadengan membuka pintu masuk kepada orsnglain

Curhat terbuka hanya bisa dibenarkan kepada tiga pihak berikut:
Pertama, curhat  kepada pasangan.Ini yang seharusnya anda lakukan. Pada prinsipnya, masalah keluarga harus diselesaikan berdua antara suami dan istri. Di rumah, suami dan istri harus membiasakan curhat kepada pasangan. Para suami  hendaknya menjadi tempat curhat yang paling baik bagi istrinya, dan para istri hendaknya menjadi tempat curhat yang paling baik bagi suaminya. Jika hal ini sudah bisa terwujud, maka mereka akan menjadi keluarga harmonis yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan berumah tangga.

Kedua, curhat kepada pihak yang memiliki kompetensi untuk menyelesaikan masalah keluarga anda. Hal ini dilakukan jika permasalahan tidak bisa lagi diselesaikan berdua dengan pasangan, sehingga memerlukan intervensi pihak lain yang memiliki kompetensi. Contoh pihak yang memiliki kompetensi ini adalah seorang psikolog, psikiater, konselor atau seorang ustadz dan ustadzah yang terpercaya. Curhat dilakukan di ruang konseling yang bercorak privat, bukan di ruang publik, bukan di televisi dan sosial media. Langsung kepada pihak-pihak tersebut, tanpa ada pihak lainnya yang tidak memiliki kompetensi untuk menyelesaikan masalah.

Ketiga, curhat kepada Allah. Ini adalah curhat yang selalu benar. Jika kita memiliki masalah apapun dalam kehidupan, curhat kepada Allah adalah cara yang menenteramkan hati. Pada sepertiga malam yang terakhir, bangun untuk melakukan shalat malam dan munajat memohon pertolongan kepada-Nya. Mintalah kekuatan, kemudahan dan keberkahan dari Allah dalam menyelesaikan masalah keluarga. Mintalah petunjuk dan bimbingan kepada Allah dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan. Mintalah kepada Allah agar memberikan kelembutan hati dan kelapangan hati kepada pasangan sehingga bisa keluar dari permasalahan.

Ayo duduk berdua. Selesaikan sendiri masalah keluarga anda bersama pasangan, jangan disebar kemana-mana. Cari solusi dan jaga nama baik pasangan anda. Mendekat kepada Allah agar mendapat kemudahan dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan berkeluarga.

Friday, October 28, 2016

Maaf Untuk Ahok #nukilan

Apakah ahooak bisa dimaafkan?
Berikut penjelasan nya.

KETIKA MAAF TIDAK DIMAAFKAN
Oleh Al-Ustadz Amin Muchtar
(Anggota Dewan Hisbah PP Persis)

Bacalah dengan Saksama hingga Tuntas...

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok, akhirnya meminta maaf pada umat Islam. Dia menyesali pernyataannya mengenai tafsiran Ayat 51 surat Al-Maidah saat menggelar dialog dengan warga di Kepulauan Seribu Selasa lalu, 27 September 2016, telah menciptakan gejolak keresahan di masyarakat.

Melalui media massa, Ahok mengakui telah membuat kegaduhan, terutama bagi seluruh umat Islam. Dia meminta maaf karena menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 51. Ahok menyatakan tak bermaksud menyinggung atau melecehkan Islam.“Untuk semua pihak yang jadi repot, gaduh, gara-gara saya, saya sampaikan mohon maaf,” ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (10/10/2016).

“Kasus permintaan maaf Ahok” itu selanjutnya dibedah oleh berbagai nara sumber dalam program TV One Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (11/10/2016). Kepiawaian Bang Karni dalam memandu acara bertajuk: “Setelah Ahok Minta Maaf” itu tampak jelas saat beliau menyitir surat Ali Imran: 134: “Bukankah orang-orang takwa itu orang yang menginfakkan hartanya ketika lagi lapang/ berada atau lagi sempit, dan orang-orang yang bisa menahan amarahnya serta orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.” Demikian ujar Bang Karni dalam mengantar “Panasnya diskusi” di malam itu.

“Ahok sudah minta maaf, kalo sudah minta maaf yah diselesaikan saja. Dan saya rasa Ahok bukan orang jahat lah… Diselesaikan dengan baiklah dengan fair tanpa ada kampanye hitam” ucap Buya— panggilan akrab Syafii Maarif— saat dimintai tanggapan soal kegaduhan pernyataan Ahok terkait Surat Al-Maidah, yang semakin menambah  “panas diskusi” pada Selasa (11/10/2016) itu.

Pengantar Bang Karni dan pernyataan Buya telah “memancing” sebagian jamaah Pengajian untuk bertanya kepada kami: “Apakah semua kesalahan dapat dimaafkan?” “Apakah kesalahan Ahok dapat dikaterogikan ‘salah bernilai maaf’?

Memilah Kesalahan

Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita untuk memilah beragam jenis kesalahan. Pemahaman terhadap ragam kesalahan ini hendak mengantarkan kita agar tidak salah dalam bersikap terhadap kesalahan yang diperbuat oleh seseorang.

Dilihat dari segi hak yang dilanggarnya, kesalahan suatu perbuatan dibagi menjadi dua bagian:
(1) yang menyinggung hak Allah,
(2) yang menyinggung hak manusia, perorangan atau masyarakat.

Sementara dilihat dari kehendak si pelaku, Al-Qur’an memilah kesalahan dalam dua kategori: (1) Al Khatha’ (الخطأ) dan
(2) Al Khathii’ah (الخطيئة).

Perbedaan keduanya dilihat dari ada dan tiadanya unsur kesengajaan (iraadah/maqsudah). Suatu kesalahan yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan disebut Al khatha’ (الخطأ), semisal seseorang melakukan atau mengucapkan sesuatu yang terlarang karena unsur ketidaktahuan, lupa, atau keterpaksaan. Kesalahan ini dikategorikan sebagai antonym (lawan) dari kebenaran (الصواب). Namun jika dilakukan dengan kesengajaan/ sadar, atau bahkan mengulangi kesalahan yang sama, disebut Al khathii’ah (الخطيئة). Orang yang melakukan kesalahan dalam kategori khathii’ah tidak merasa berdosa atau tidak ada itikad untuk berhenti dari kesalahannya.

Sikap Berbeda Terhadap Kesalahan

Kesalahan dalam kategori Al khatha’ (الخطأ) boleh jadi dibenarkan dalam Islam, dan pelakunya tidak berdosa dan tidak dikenai hukuman dengan syarat tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan ini termasuk sifat manusia yang tidak steril darinya (ma’shum), selain para nabi dan rasul. Meski begitu, pelakunya diharuskan bertaubat, beristigfar, dan memohon maaf kepada Allah Swt. Demikian itu berdasarkan sabda Nabi saw.:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap manusia berbuat salah, dan yang paling dari orang yang berbuat salah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Namun dalam kondisi tertentu, kesalahan jenis ini dapat pula berakibat dihukum (‘uqubah) sekiranya menimbulkan kerugian pada yang lain, seperti menembak burung namun terkena pada seorang Muslim hingga meninggal dunia (qatlu al-khata’). Meski tidak berdosa, pelaku dikenai hukuman berupa kewajiban membayar diyat/ denda kepada wali korban. Diyat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan (QS. An-Nisa:92).

Sementara kesalahan dalam kategori Al khathii’ah (الخطيئة), selain dipandang berdosa pelakunya juga senantiasa dikenai hukuman (‘uqubah), seperti pencurian, pembunuhan secara sengaja, meninggalkan shalat, dan murtad (keluar dari agama Islam). Kesalahan dalam kategori ini dikenai jenis hukuman sesuai dengan bentuk perbuatannya. Untuk perbuatan zina, menuduh zina tanpa dibuktikan dengan 4 orang saksi (qadzf), pencurian, perampokan, pemberontakan (al-buqhat), mengganggu ketertiban umum atau mengacaukan keamanan (hirabah), minum minuman keras, dan riddah (murtad), dikenai hukuman berupa hudud, yaitu macam dan sanksinya ditetapkan secara mutlak oleh Allah, sehingga manusia tidak berhak untuk menetapkan hukuman lain selain hukuman yang ditetapkan Allah Swt. Sanksi hudud tidak mempunyai batas terendah dan tertinggi dan tidak bisa dihapuskan oleh perorangan (si korban atau walinya) atau masyarakat yang mewakili (ulil amri).

Untuk pembunuhan dengan sengaja atau penganiayaan dengan sengaja dikenai hukuman Qishash (serupa/ semisal) dan Diyat  atau ganti rugi dari si pelaku atau ahlinya kepada si korban atau walinya. Adapun untuk maksiat, perbuatan yang membahayakan kepentingan umum, atau pelanggaran (mukhalafah), yang hukumannya tidak ditentukan oleh syara’ dikenai sanksi Ta’zir. Menurut Imam Al-Mawardi, “Ta’zir adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa (maksiat) yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara.”  Maka untuk menetapkan hukuman atas kesalahan perbuatan dalam kategori ini diserahkan kepada pemerintah (ulil amri) atau keputusan hakim (Qadhi).

Kategori Kesalahan Ahok dan Pembelanya

Dilihat dari segi hak yang dilanggarnya, kesalahan Ahok dikategorikan perbuatan yang menyinggung dua hak sekaligus:
(1) hak Allah,
(2) hak ulama.

Pertama, melanggar Hak Allah, karena dalam Al-Quran surah al-Maidah ayat 51, secara eksplisit (gamblang, tegas) Allah telah melarang umat Islam menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Hak Allah telah diintervensi oleh Ahok dengan:

tafsiran bahwa “konteks yang sebenarnya ayat itu melarang orang Islam memilih Nasrani dan Yahudi menjadi teman, sahabat.”,
kandungan surah al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin dinyatakan sebuah KEBOHONGAN. Tafsiran dan pernyataan Ahok dinilai sudah memenuhi unsur penistaan agama dan penodaan terhadap Al-Quran.

Kedua, hak ulama, karena ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam sesuai dengan ketetapan Allah bahwa memilih pemimpin Muslim adalah wajib. Dan setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin. Hak ulama telah dinodai oleh Ahok dengan menyatakan BOHONG terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat 51 tentang larangan menjadikan kafir sebagai pemimpin. Pernyataan Ahok dinilai sudah memenuhi unsur penghinaan terhadap ulama.

Sementara dilihat dari ada dan tiadanya unsur kesengajaan (iraadah/ maqsudah), kesalahan Ahok dikategorikan Al khathii’ah (الخطيئة), karena tafsiran dan pernyataan Ahok dilakukan dengan kesengajaan (dalam keadaan SADAR). Kesalahan ini memiliki konsekuensi hukum (‘uqubah), sebagaimana dinyatakan secara tegas di dalam Al-Qur’an dan Sunnah berikut ini:

Penjelasan Al-Qur’an

Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ
“Jika mereka merusak sumpah (janji)-nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.”
(QS. At-Taubah: 12).

Dan firman-Nya:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang penghinaan yang mereka ucapkan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian minta maaf karena kalian telah kafir sesudah beriman.” (QS At-Taubah 65-66).

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُّهِيناً وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِينا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS.Al-Ahzab: 57-58).

Penjelasan Sunnah

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الْأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ قَالَ نَعَمْ
“Siapakah di antara kalian yg sanggup membunuh Ka’ab bin Al-Ayhraf? Sebab dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Maka Muhammad bin Maslamah berkata, “Wahai Rasulullah, setujukah anda jika aku yang akan membunuhnya?” Beliau bersabda: Ya.”
(HR. Muslim).

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ

Dari Ikrimah, ia berkata, “Ibnu Abas telah menceritakan kepada kami, ‘Bahwa ada seorang laki-laki buta yang mempunyai ummu walad (budak wanita yang melahirkan anak dari tuannya) yang biasa mencaci Nabi saw. dan merendahkannya. Laki-laki tersebut telah mencegahnya, namun ia (ummu walad) tidak mau berhenti. Laki-laki itu juga telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Hingga pada satu malam, ummu walad itu kembali mencaci dan merendahkan Nabi saw. Laki-laki itu lalu mengambil pedang dan meletakkan di perut budaknya, dan kemudian ia menekannya hingga membunuhnya. Akibatnya, keluarlah dua orang janin dari antara kedua kakinya. Darahnya menodai tempat tidurnya. Di pagi harinya, peristiwa itu disebutkan kepada Rasulullah saw. Beliau saw. mengumpulkan orang-orang dan bersabda, ‘Aku bersumpah dengan nama Allah agar laki-laki yang melakukan perbuatan itu berdiri sekarang juga di hadapanku.’ Lalu, laki-laki buta itu berdiri dan berjalan melewati orang-orang dengan gemetar hingga kemudian duduk di hadapan Nabi saw. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, akulah pembunuhnya. Wanita itu biasa mencaci dan merendahkanmu. Aku sudah mencegahnya, namun ia tidak mau berhenti. Dan aku pun telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Aku mempunyai anak darinya yang sangat cantik laksana dua buah mutiara. Wanita itu adalah teman hidupku. Namun kemarin, ia kembali mencaci dan merendahkanmu. Kemudian aku pun mengambil pedang lalu aku letakkan di perutnya dan aku tekan hingga aku membunuhnya.’ Nabi saw. bersabda, ‘Saksikanlah bahwa darah wanita itu hadar (sia-sia)’.” HR. Abu Dawud dan An-Nasai

Darahnya hadar, maksudnya darah perempuan yang mencaci Nabi saw. itu sia-sia, tak boleh ada balasan atas pembunuhnya dan tak boleh dikenakan diyat/ tebusan darah. Jadi darahnya halal alias halal dibunuh.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا

Dari Ali Ra. bahwa seorang wanita Yahudi telah memaki/ menghina Nabi saw. dan mencelanya, maka seorang lelaki mencekiknya hingga mati, maka Rasulullah saw. membatalkan darahnya. (HR. Abu Dawud)

Berbagai penjelasan Al-Qur’an dan Sunnah di atas dipandang cukup untuk menunjukkan bahwa  segala bentuk penistaan terhadap Islam dan syiar-syiarnya sama dengan ajakan berperang dan pelakunya ditindak tegas. Seorang muslim yang melakukan penistaan Islam dihukumi murtad dan dia akan dihukum mati. Apalagi bila itu dilakukan orang-orang kafir.

Dengan demikian, perbuatan Ahok dapat dikategorikan kesalahan yang tidak dimaafkan. Maafkanlah umat Islam apabila tidak dapat memenuhi permintaan maaf Pak Ahok, karena pemberian maaf atas kesalahannya adalah:
1. Hak Allah (yg tdk dapat diwakili oleh siapapun & harus dibela oleh Nabi/ UmmatNya), dan
2. Hak para Ulama yang telah dinistakan hak-haknya.

Catatan:
1. Nabi Muhammad Saw adalah Pemaaf, tapi selama itu menyinggung Pribadi beliau bukan menyinggung Islam (Allah, Al Quran, dll)
2. Bagi Ulama & ummat Islam DIWAJIBKAN membela Islam (Allah, Al Quran/ Hadits, Shahabat Nabi).

Mohon DISEBARKAN supaya Ummat Islam paham Ajarannya & tdk Bingung serta yg Non Islam bisa MEMAHAMI hal ini. Syukron, wslm.

By Amin Muchtar,

Wednesday, October 5, 2016

SILATURRAHIM DAN TIPU DAYA SYETAN

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Kata “silaturrahim” atau “silaturrahmi” terdiri dari dua kata: silah, artinya hubungan dan rahim atau rahmi artinya rahim tempat janin sebelum dilahirkan. Sehingga yang dimaksud silaturrahim adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan keluarga atau tali persaudaraan dengan kita.

Dengan demikian, kata SILATURRAHIM atau SILATURRAHMI tidak bisa digunakan untuk menyebut hubungan yang dilakukan antar-tetangga, teman dekat, kolega bisnis, rekan kerja, komunitas/grup dan semacamnya, yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah, kekerabatan dan tali keluarga dengan kita. SILATURRAHIM, kata ini hanya khusus terkait jalinan hubungan antar-kerabat yang memiliki hubungan darah dan kekeluargaan. (al-Qadhi Iyadh (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 6:253)).

Beberapa kasus, hubungan pertemanan antara lelaki dan wanita yang bukan mahram, prempuan dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki membangun hubungan silaturahim dan kemudian mewadahi dalam sebuah komunitas atau grup, dan dengan itu seringkali menjadikan kata “silaturrahmi” sebagai dasar pijakan. Ketika diingatkan, jangan melakukan komunikasi seperti itu, jangan ladeni yang seperti itu; maka alasannya, saya tidak ingin memutus silaturahmi. Beberapa kasus rumahtangga retak dan kurang harmonis bahkan terjadi perselisihan dan kesalahpahaman yang berlarut-larut. Ketika diminta untuk memutus hubungan itu, hampir semua beralasan: saya tidak ingin memutus silaturrahmi dengan teman-teman saya, saya bisa menjaga diri koq. Masya Allah, mereka telah menjadi korban tipuan setan. Setan mengelabui hubungan haram atau minimal dapat mengantarkan kepada yang haram mereka seolah menjadi hubungan halal dan bahkan mendatangkan pahala dengan menjual kata SILATURRAHMI.

KEPADA SIAPA SILATURRAHIM WAJIB DIJAGA?
  • Pendapat pertama, setiap keluarga yang masih memiliki hubungan mahram. Dimana, andaikan dua keluarga ini yang satu laki-laki dan yang satu perempuan, maka tidak boleh menikahkan keduanya. Pendapat ini berdalil dengan hadis yang melarang seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita dengan saudarinya atau bibinya sekaligus. Karena hal ini bisa menyebabkan putusnya tali silaturrahim antara keduanya. Berdasarkan pendapat ini, maka sepupu tidak termasuk kerabat RAHIM. Karena sepupu halal dinikahi.
  • Pendapat kedua, semua keluarga yang memiliki hubungan kekeluargaan saling mewarisi, baik mahram maupun bukan mahram. Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(Yang berhak mendapat warisan darimu) adalah keluarga dekatmu, kemudian yang lebih dekat, dan yang lebih dekat.” pendapat kedua ini lebih benar, insyaa Allah  (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 6:253).
  • Pendapat ketiga, semua keluarga termasuk keluarga dari pihak istri atau suami (yang se-RAHIM dengan istri atau suami)


Jadi menjalin hubungan baik kepada teman almamater, teman kerja, teman arisan dll, ITU BUKAN SILATURAHIM


Allahu a’lam