Thursday, May 4, 2017

Presiden atau Broker

*LISTRIK NAIK, BUMN RUGI, DAN KEBIJAKAN MENJUAL ASET BUMN...*

_*Oleh: Ferdinand Hutahaean*_

_*memang lidah tak bertulang*_
_*tak terbatas kata-kata*_
_*tinggi gunung seribu janji*_
_*lain di bibir lain di hati*_

Syair sebuah lagu yang pernah tenar dibawakan penyanyi handal Bob Tutupoli dengan judul Lidah Tak Bertulang, meski judulnya berubah menjadi Tinggi Gunung Seribu Janji dalam versi non keroncong  mengawali artikel pendek saya siang ini.

Lagu yang menurut saya tepat dan pas menjadi lagu pengantar tulisan ini terkait pencabutan subsidi listrik daya 900 VA, 26 BUMN yang merugi 3 Trilliun lebih pada kwartal I 2017 dan kebijakan Presiden Jokowi yang berhasrat menjual aset-aset BUMN demi mimpi infrastruktur yang mulai menuju melambat, jauh tertinggal faktanya dibanding propaganda media yang selalu memberitakan _ground breaking_ alias peletakan batu pertama meminjam istilah umum.

*Memang unik Presiden kita, gemar _ground breaking_ dan gemar peresmian.*

Sesuai topik judul di atas, mari kita urai satu persatu dari 3 topik utama yang menjadi judul artikel ini.

Awalnya saya justru ingin menggunakan judul *Jokowi dan Lidah Tak Bertulang*, namun saya urungkan karena saya tidak mau menyakiti perasaan presiden meski perasaan saya sering sakit melihat kebijakan presiden mengurus negara ini.

Bagaimanapun, Jokowi adalah presiden RI, meski Jokowi menjadi presiden yang yang jauh dari ekspektasi saya sebagai salah satu yang pernah mendukung Jokowi pada Pilpres 2014 silam.

Berbicara tentang Tarif Dasar Listrik yang beberapa hari terakhir ramai dibicarakan publik baik di media maupun media sosial, adalah fakta sahih bagaimana rejim berkuasa ini tidak punya niat sedikitpun mencoba memahami kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh rakyat secara umum.

Rejim berkuasa ini hanya melihat dan berkaca kepada dirinya yang dengan kekuasaannya mudah memperoleh apa saja, mendapat gaji besar dari uang rakyat serta mendapat segala macam fasilitas.

Tampaknya kondisi seperti itu yang dijadikan cermin  kondisi ditengah publik, maka menjadi wajar rejim ini merasa semua baik-baik saja dan ekonomi sedang bagus.

Padahal fakta sesungguhnya, rakyat saat ini mayoritas hanya hidup untuk bertahan bukan hidup untuk bertumbuh.

Apa yang ada dalam hati rakyat saat ini bahwa tarif dasar listrik naik. Sesungguhnya inipun pemahaman yang salah karena TDL tidak naik atau tetap.

Yang terjadi adalah, dari sekitar 23 Juta pelanggan PLN dengan daya 900 VA, sekitar 19 Juta pelanggan dinyatakan oleh pemerintah sesuai data dari Tim Percepatan Pemberantasan Kemiskinan tidak layak mendapat subsidi.

Maka mulai Januari 2017 secara bertahap hingga Mei 2017 pencabutan subsidi itu dilakukan dan puncaknya bulan ini sebesar 30%.

Ini memang masalah keadilan bagi penerima subsidi, bahwa kita sepakat subsidi harus dinikmati oleh yang berhak. Terlebih masih banyak saudara kita yang belum menikmati listrik. Jadi sesungguhnya tidak ada kenaikan TDL, yang ada pencabutan subsidi listrik dari konsumen daya 900 VA.

Lantas dimana letak masalah dalam pencabutan subsidi Listrik ini? Letak masalah adalah momentum pencabutan yang tidak tepat. Ekonomi rakyat belum bertumbuh, rakyat baru saja dipajaki ugal-ugalan atas nama Tax Amnesty, waktunya menjelang bulan Puasa dan musim pendaftaran siswa baru atau kenaikan kelas yang tentu menjadi biaya tambahan bagi masyarakat.

*Mengapa pemerintah tidak bersabar? Mengapa tidak menunggu hingga momennya tepat? Lantas dana subsidi yang dicabut itu kenapa tidak digunakan untuk mensubsidi kesehatan misalnya? Haruskah dialihkan ke infrastruktur yang semu?*

*Sepertinya memang rejim ini tidak bisa merasa tapi hanya merasa bisa.*

*Selain masalah listrik yang menjadi _trending topic_, ada juga kisah 26 BUMN yang merugi 3 Trilliun lebih pada Kwartal I 2017.*

Berita ini tentu membuat kening berkerut. Kenapa demikian? Karena menjadi aneh ketika BUMN merugi disela berita-berita yang diproduksi pemerintah yang menyebutkan infrastruktur jalan dan ekonomi membaik serta meningkat.

Jika memang infrastruktur jalan dan ekonomi meningkat, lantas mengapa 26 BUMN tersebut merugi? Sementara BUMN dengan segala fasilitas lebih banyak harusnya tidak rugi. Artinya, ada 2 hal fakta yang berbanding terbalik dengan berita produksi pemerintah.

Ekonomi tidak sedang tumbuh dan infrastruktur baru hanya sebatas catatan kertas.

Cobalah kita mengalah mengikuti informasi pemerintah yang menyatakan infrastruktur sedang jalan dan ekonomi sedang membaik. Kira-kira dengan informasi tersebut, apa yang membuat BUMN kita rugi?

Jawabannya mungkin hanya tersisa dua bagian. Pertama, BUMN diurus orang yang tidak tepat dan salah, atau kedua uang BUMN kita dikorupsi.

*Apakah kedua hal ini yang mengakibatkan BUMN kita rugi? Tampaknya BPK harus segera turun melakukan audit. Kerugian ini penting segera diusut. Terlebih BUMN sekarang banyak diurus oleh Relawan Jokowi.*

Jangan sampai nama Relawan Jokowi rusak oleh kerugian BUMN ini. Maka sudah selayaknya seluruh Relawan Jokowi mendukung investigasi penyebab kerugian ini. Supaya jelas dan _clear_ apa yang menjadi penyebab utama.

Stigma ditengah publik terlanjur terbentuk negatif, maka sudah selayaknya para relawan itu membuka ke publik apa yang telah mereka lakukan untuk meningkatkan kinerja BUMN yang diurusnya.

Buktikan dengan konkret kontribusi apa yang sudah diberikan agar semua menjadi jernih. Terlebih dalam 2 tahun saja, BUMN kita telah menerima lebih dari 100 Trilliun dana Penyertaan Modal Negara.

Nah, mengalir kemana itu uang negara? Kenapa bisa merugi? Ayo para relawan, tunjukkan ke publik bahwa kalian berprestasi dan layak di sana dengan menunjukkan bukti konkret kinerja selama menjabat.

*Terlepas dari kisah rugi BUMN tersebut, kembali kita dikejutkan oleh pernyataan Jokowi yang memerintahkan BUMN menjual asetnya supaya bisa membangun infrastruktur.*
*Ini ceroboh dan terlalu bermental broker atau makelar. Dimana-mana negara selalu menambah aset, bukan menjual aset.*

*Demikian juga BUMN selalu berorientasi menambah kekayaan dalam bentuk aset bukan malah menjual-jualin aset yang ada.*

*Ini bahaya, lama-lama kita ini menjadi bangsa broker yang punya segalanya tapi tak memiliki.*
*Inilah negara yang kita tuju? Negara yang menjual kedaulatannya atas nama infrastruktur?*

*Saya pikir presiden Jokowi harus belajar lagi tentang konsep kedaulatan bangsa, ketahanan bangsa dan kemandirian bangsa.* *Berhenti sejenak dengan mimpi-mimpi infrastruktur yang megah tapi bukan milik kita.*

*Itu semua palsu dan semu, tidak lebih dari sebuah istana pasir yang terlihat indah.*

*Fatamorgana janganlah menjadi basis berpikir dalam mengurus negara, tapi realita harus dikedepankan dalam menentukan prioritas kebijakan.*

*Untuk apa ada Kerta Api Cepat jika kemudian rakyat hanya mampu membayar jalan kaki? Sadarlah wahai rejim.*

*Memang lidah tak bertulang, dulu Jokowi bilang akan beli kembali Indosat, sekarang malah ingin jual-jualin aset BUMN.*

_*Oh lidah... mengapa kau tak bertulang?*_

*Ferdinand Hutahaean*
*Jakarta, 03 Mei 2017*

Presiden atau Broker

*LISTRIK NAIK, BUMN RUGI, DAN KEBIJAKAN MENJUAL ASET BUMN...*

_*Oleh: Ferdinand Hutahaean*_

_*memang lidah tak bertulang*_
_*tak terbatas kata-kata*_
_*tinggi gunung seribu janji*_
_*lain di bibir lain di hati*_

Syair sebuah lagu yang pernah tenar dibawakan penyanyi handal Bob Tutupoli dengan judul Lidah Tak Bertulang, meski judulnya berubah menjadi Tinggi Gunung Seribu Janji dalam versi non keroncong  mengawali artikel pendek saya siang ini.

Lagu yang menurut saya tepat dan pas menjadi lagu pengantar tulisan ini terkait pencabutan subsidi listrik daya 900 VA, 26 BUMN yang merugi 3 Trilliun lebih pada kwartal I 2017 dan kebijakan Presiden Jokowi yang berhasrat menjual aset-aset BUMN demi mimpi infrastruktur yang mulai menuju melambat, jauh tertinggal faktanya dibanding propaganda media yang selalu memberitakan _ground breaking_ alias peletakan batu pertama meminjam istilah umum.

*Memang unik Presiden kita, gemar _ground breaking_ dan gemar peresmian.*

Sesuai topik judul di atas, mari kita urai satu persatu dari 3 topik utama yang menjadi judul artikel ini.

Awalnya saya justru ingin menggunakan judul *Jokowi dan Lidah Tak Bertulang*, namun saya urungkan karena saya tidak mau menyakiti perasaan presiden meski perasaan saya sering sakit melihat kebijakan presiden mengurus negara ini.

Bagaimanapun, Jokowi adalah presiden RI, meski Jokowi menjadi presiden yang yang jauh dari ekspektasi saya sebagai salah satu yang pernah mendukung Jokowi pada Pilpres 2014 silam.

Berbicara tentang Tarif Dasar Listrik yang beberapa hari terakhir ramai dibicarakan publik baik di media maupun media sosial, adalah fakta sahih bagaimana rejim berkuasa ini tidak punya niat sedikitpun mencoba memahami kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh rakyat secara umum.

Rejim berkuasa ini hanya melihat dan berkaca kepada dirinya yang dengan kekuasaannya mudah memperoleh apa saja, mendapat gaji besar dari uang rakyat serta mendapat segala macam fasilitas.

Tampaknya kondisi seperti itu yang dijadikan cermin  kondisi ditengah publik, maka menjadi wajar rejim ini merasa semua baik-baik saja dan ekonomi sedang bagus.

Padahal fakta sesungguhnya, rakyat saat ini mayoritas hanya hidup untuk bertahan bukan hidup untuk bertumbuh.

Apa yang ada dalam hati rakyat saat ini bahwa tarif dasar listrik naik. Sesungguhnya inipun pemahaman yang salah karena TDL tidak naik atau tetap.

Yang terjadi adalah, dari sekitar 23 Juta pelanggan PLN dengan daya 900 VA, sekitar 19 Juta pelanggan dinyatakan oleh pemerintah sesuai data dari Tim Percepatan Pemberantasan Kemiskinan tidak layak mendapat subsidi.

Maka mulai Januari 2017 secara bertahap hingga Mei 2017 pencabutan subsidi itu dilakukan dan puncaknya bulan ini sebesar 30%.

Ini memang masalah keadilan bagi penerima subsidi, bahwa kita sepakat subsidi harus dinikmati oleh yang berhak. Terlebih masih banyak saudara kita yang belum menikmati listrik. Jadi sesungguhnya tidak ada kenaikan TDL, yang ada pencabutan subsidi listrik dari konsumen daya 900 VA.

Lantas dimana letak masalah dalam pencabutan subsidi Listrik ini? Letak masalah adalah momentum pencabutan yang tidak tepat. Ekonomi rakyat belum bertumbuh, rakyat baru saja dipajaki ugal-ugalan atas nama Tax Amnesty, waktunya menjelang bulan Puasa dan musim pendaftaran siswa baru atau kenaikan kelas yang tentu menjadi biaya tambahan bagi masyarakat.

*Mengapa pemerintah tidak bersabar? Mengapa tidak menunggu hingga momennya tepat? Lantas dana subsidi yang dicabut itu kenapa tidak digunakan untuk mensubsidi kesehatan misalnya? Haruskah dialihkan ke infrastruktur yang semu?*

*Sepertinya memang rejim ini tidak bisa merasa tapi hanya merasa bisa.*

*Selain masalah listrik yang menjadi _trending topic_, ada juga kisah 26 BUMN yang merugi 3 Trilliun lebih pada Kwartal I 2017.*

Berita ini tentu membuat kening berkerut. Kenapa demikian? Karena menjadi aneh ketika BUMN merugi disela berita-berita yang diproduksi pemerintah yang menyebutkan infrastruktur jalan dan ekonomi membaik serta meningkat.

Jika memang infrastruktur jalan dan ekonomi meningkat, lantas mengapa 26 BUMN tersebut merugi? Sementara BUMN dengan segala fasilitas lebih banyak harusnya tidak rugi. Artinya, ada 2 hal fakta yang berbanding terbalik dengan berita produksi pemerintah.

Ekonomi tidak sedang tumbuh dan infrastruktur baru hanya sebatas catatan kertas.

Cobalah kita mengalah mengikuti informasi pemerintah yang menyatakan infrastruktur sedang jalan dan ekonomi sedang membaik. Kira-kira dengan informasi tersebut, apa yang membuat BUMN kita rugi?

Jawabannya mungkin hanya tersisa dua bagian. Pertama, BUMN diurus orang yang tidak tepat dan salah, atau kedua uang BUMN kita dikorupsi.

*Apakah kedua hal ini yang mengakibatkan BUMN kita rugi? Tampaknya BPK harus segera turun melakukan audit. Kerugian ini penting segera diusut. Terlebih BUMN sekarang banyak diurus oleh Relawan Jokowi.*

Jangan sampai nama Relawan Jokowi rusak oleh kerugian BUMN ini. Maka sudah selayaknya seluruh Relawan Jokowi mendukung investigasi penyebab kerugian ini. Supaya jelas dan _clear_ apa yang menjadi penyebab utama.

Stigma ditengah publik terlanjur terbentuk negatif, maka sudah selayaknya para relawan itu membuka ke publik apa yang telah mereka lakukan untuk meningkatkan kinerja BUMN yang diurusnya.

Buktikan dengan konkret kontribusi apa yang sudah diberikan agar semua menjadi jernih. Terlebih dalam 2 tahun saja, BUMN kita telah menerima lebih dari 100 Trilliun dana Penyertaan Modal Negara.

Nah, mengalir kemana itu uang negara? Kenapa bisa merugi? Ayo para relawan, tunjukkan ke publik bahwa kalian berprestasi dan layak di sana dengan menunjukkan bukti konkret kinerja selama menjabat.

*Terlepas dari kisah rugi BUMN tersebut, kembali kita dikejutkan oleh pernyataan Jokowi yang memerintahkan BUMN menjual asetnya supaya bisa membangun infrastruktur.*
*Ini ceroboh dan terlalu bermental broker atau makelar. Dimana-mana negara selalu menambah aset, bukan menjual aset.*

*Demikian juga BUMN selalu berorientasi menambah kekayaan dalam bentuk aset bukan malah menjual-jualin aset yang ada.*

*Ini bahaya, lama-lama kita ini menjadi bangsa broker yang punya segalanya tapi tak memiliki.*
*Inilah negara yang kita tuju? Negara yang menjual kedaulatannya atas nama infrastruktur?*

*Saya pikir presiden Jokowi harus belajar lagi tentang konsep kedaulatan bangsa, ketahanan bangsa dan kemandirian bangsa.* *Berhenti sejenak dengan mimpi-mimpi infrastruktur yang megah tapi bukan milik kita.*

*Itu semua palsu dan semu, tidak lebih dari sebuah istana pasir yang terlihat indah.*

*Fatamorgana janganlah menjadi basis berpikir dalam mengurus negara, tapi realita harus dikedepankan dalam menentukan prioritas kebijakan.*

*Untuk apa ada Kerta Api Cepat jika kemudian rakyat hanya mampu membayar jalan kaki? Sadarlah wahai rejim.*

*Memang lidah tak bertulang, dulu Jokowi bilang akan beli kembali Indosat, sekarang malah ingin jual-jualin aset BUMN.*

_*Oh lidah... mengapa kau tak bertulang?*_

*Ferdinand Hutahaean*
*Jakarta, 03 Mei 2017*

Wednesday, April 26, 2017

BAHLUL dan LOGIKA YANG SALAH

*"BAHLUL"*

Dalam pergaulan keseharian, terlebih rekan2 etnik Arab, kita kerap mendengar hardikan "Bahlul" ... Tahukah kalian, siapa sesungguhnya "Bahlul" ?

"Bahlul" adalah kata yang biasa kita gunakan untuk mensifati orang yang bodoh, tapi tahukah dari mana asal kata itu..?

Dikisahkan, sesungguhnya BAHLUL seorang yang dikenal sebagai orang gila di zaman Raja Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah).

Pada suatu hari Harun Al-Rasyid lewat di pekuburan, dan dilihatnya Bahlul sedang duduk disana.

Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya :

"Wahai Bahlul, kapankah kamu akan menjadi orang yang berakal, dan sembuh dari gilamu.. ?"

Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik ke atas pohon. lalu dia berteriak memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon.

" Wahai Harun yang gila, kapankah engkau akan sadar  akan kegilaanmu ....? "

Menfengar hal itu, maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon, dan dengan sambil menunggangi kudanya ia berkata : "Siapa yang gila Bahlul, aku atau engkau yang selalu duduk di kuburan ini ...?"

Bahlul berkata :

"Aku berakal dan engkau yang gila",

Harun : "Bagaimana itu bisa...?",

Bahlul : "Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur, dan kuburan ini akan tetap ada. maka itu aku memakmurkan kubur sebelum nanti ke istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita...?".

Bergetarlah hati Harun, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya, lalu Harun berkata : "Demi ALLAH engkau yang benar, Tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul".

Bahlul : "Cukup bagimu Al-Qur'an maka jadikanlah pedoman".

Harun : "Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul....? Aku akan penuhi".

Bahlul : "Iya aku punya 3 permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu".

Harun : "mintalah..."

Bahlul : 1. "Tambahkan umurku".

Harun : "Aku tak mampu",

Bahlul: 2. "Jaga aku dari Malaikat maut".

Harun : "Aku tak mampu",

Bahlul: 3. "Masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka".

Harun : "Aku tak mampu".

Bahlul : "Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu".

*Kisah ini dikutip dari kitab yang berjudul عقلاء ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ "Orang-orang Gila Yang Berakal"

Tetapi kita menggunakan perkataan BAHLUL untuk mengatakan seseorang itu bodoh sedangkan ia adalah merupakan nama Ulama yang hebat.

Makam Syech Bahlul Majnun Di Baghdad Irak.

Mari berbagi kebaikan walaupun satu Alif.

Thanks brur @Ishak

Thursday, March 23, 2017

Rembulan Rebah


Rembulan rebah,
Tak lagi purnama memang,
Hangat malam memicu gerah,
Tanpa baju dadaku telanjang.

Kalimatmu hanya sepatah,
Membacanya jadi gamang,
Harapku pupus, tak pernah,
Meski nadiku mengejang

Mawar merah,
Berduri tak pernah rebah,
Durimu lindungi dari para lebah,
Aromamu menebar marwah

Berhikmat pada rasa,
Berjingkat asa,
Berharap dapat ku gauli sentausa,
Kuboyong pada nirwana

Nirwana mayapada,
Menggerus magma selaksa sutra,
Langit merona,
Karena senyummu adanya

Tangsel, 17 Maret 2017

Wednesday, March 8, 2017

Anis - Sandy

*PROGRAM KERJA ANIS-SANDI JIKA TERPILIH NANTI*

1. Kartu Jakarta Pintar Plus (KJP Plus)

Merevisi dan memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar dalam bentuk Kartu Jakarta Pintar Plus untuk semua anak usia sekolah (6-21 tahun). Juga dapat digunakan untuk Kelompok Belajar Paket A, Bdan C, pendidikan madrasah, pondok pesantren dan kursus keterampilan serta dilengkapi dengan bantuan tunai untuk keluarga tidak mampu.

2. Membuka Akses Lapangan Kerja & Membangun Kewirausahaan

Mengadakan program OK OCE (One Kecamatan, One Centre for Entrepreneurship), untuk menghasilkan 200.000 pengusaha baru, selama lima tahun.

3. Program Hunian Terjangkau dan DP Nol Rupiah

Program ini adalah salah satu upaya mewujudkan affordable housing (hunian yang terjangkau) sebagai salah satu kebutuhan pokok dan menurunkan biaya hidup warga Jakarta.

4. Transportasi Terintegrasi

Membangun sistem transportasi umum yang terintegrasi dalam bentuk interkoneksi antarmoda, perbaikan model manajemen layanan transportasi umum, memperluas daya jangkau transportasi, pengintegrasian sistem transportasi umum dengan pusat pemukiman, pusat aktivitas publik, dan moda transportasi publik dari luar Jakarta.

5. Menghentikan Reklamasi

Menghentikan reklamasi Teluk Jakarta untuk kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup serta perlindungan terhadap nelayan, masyarakat pesisir dan segenap warga Jakarta.

6. Kartu Jakarta Sehat Plus

Memperluas cakupan jaminan kesehatan kelas satu oleh pemerintah provinsi bagi para guru mengaji, pengajar sekolah minggu, penjaga rumah ibadah agama, khatib, penceramah, dan pemuka agama.

7. Menambah Pusat Kuliner Jakarta

Menambah pusat jajanan berbasis PKL dan menyelenggarakan festival kuliner untuk meramaikan pusat kuliner Jakarta.

8. Menghidupkan Kembali Titik-Titik Sejarah di Jakarta

Membentuk konsorsium untuk kawasan sejarah, mempermudah akses transportasi ke sana, dan mengajak masyarakat terlibat dalam perbaikan tempat sejarah.

9. Mengembangkan Wisata Konvensi Jakarta

Menjadikan Jakarta sebagai tempat konvensi dan pertemuan internasional.

10. Revitalisasi Museum

Menghidupkan museum dengan membuka kesempatan kepada masyarakat untuk mengadakan kegiatan di museum, bekerja sama dengan swasta untuk menyemarakkan museum.

11. Revitalisasi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Menggabungkan PDS HB Jassin di bawah Pemprov Jakarta, mendorong pihak swasta dalam digitalisasi karya sastra, menyelenggarakan kegiatan sastra dan budaya yang berpusat di HB Jassin.

12. Membangun Taman Benyamin Sueb

Membangun Taman Benyamin Sueb sebagai pusat pengenalan budaya Betawi, yang di dalamnya terdapat museum dan kegiatan-kegiatan kebudayaan Betawi.

13. Program Khusus Lansia: Tunjangan Hari Tua

Mewujudkan Jakarta sebagai kota yang ramah dan aman bagi warga lanjut usia.

14. Anies Ingin Hapus Sistem DP untuk Kredit Rumah

Bank DKI akan diminta mengganti syarat pembayaran DP yang saat ini sebesar 30 persen dari harga rumah, dengan jumlah sebesar di tabungan calon konsumen.

15. Siaga Persalinan Darurat

Pengadaan “Unit Darurat” di Setiap Puskesmas, dengan perlengkapan yang disesuaikan dengan kondisi Jakarta dan pertolongan pertama pada pasien.

16. Posyandu & Posbindu, dan Dokter Keluarga Untuk Jakarta

Anies-Sandi akan fokus pada peningkatan pelayanan kesehatan preventif (pencegahan), sehingga warga akan semakin sedikit dan jarang terkena penyakit. Manfaatnya, rumah sakit dapat lebih optimal dalam memberikan pelayanan, serta anggaran APBD yang digunakan pun dapat lebih terkendali.

17. Menghidupkan Kembali JIFFEST & Bioskop Rakyat

Menyelenggarakan kembali Jakarta International Film Festival dan mengadakan layar tancap keliling.

18. Kebijakan Madrasah Jakarta

Meningkatkan kualitas madrasah dengan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) serta perbaikan sarana dan prasarana.

19. Program Community Centre Ruang Bersama Jakarta (RBJ)

Perlunya ruang pusat interaksi warga yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan seperti coworking space, tempat bermain anak, pusat aktivitas lansia, dll.

20. Revitalisasi Pasar Tradisional dan Menata Pedagang Kaki Lima

Melibatkan peran pedagang dari perencanaan program, sebelum pasar ditata, mengajak pedagang berkomunikasi dan melibatkan mereka dalam setiap prosesnya.

21. Jakarta Bebas Banjir

Menangani permasalahan lingkungan di Jakarta yang menjadi penyebab utama banjir, mengembalikan cadangan air tanah, dan mengajak warga Jakarta untuk berpartisipasi dalam berbagai program penanganan banjir.

22. Kebijakan Guru Jakarta

Meningkatkan kualitas guru dan juga pemerataan penyebaran guru berkualitas

23. Festival Olahraga Sepanjang Tahun

Memfasilitasi kompetisi olahraga (juga untuk warga difabel) dengan sistem musim kompetisi dan membangun sistem pembinaan olahraga.

24. Menghidupkan Festival Rakyat Jakarta

Menyelenggarakan festival kerakyatan, memastikan tidak ada pelarangan acara seni dan budaya, dan mengizinkan sekolah mengadakan pentas seni.

25. Stadion Sepakbola Bersama

Saat ini di Jakarta hanya ada satu stadion berkapasitas besar, yakni Stadion Gelora Bung Karno yang statusnya adalah stadion nasional, bukan milik Jakarta.

26. Festival Budaya Islam

Mengadakan festival budaya tahunan dan mempermudah perizinan kegiatan keagamaan.

27. Pemberdayaan PAUD dan Taman Pendidikan Al-Qur'an

Meningkatkan kualitas PAUD dan Taman Pendidikan Al-Qur’an, baik guru-gurunya maupun fasilitasnya.

28. Memelihara Lingkungan Hidup dan Mengelola Sampah

Mengendalikan produksi sampah DKI Jakarta dengan memaksimalkan pengelolaan dan pengolahan sampah.

29. Program Percepatan ASI Eksklusif Untuk Memenuhi Target Nasional

Langkah-langkah guna mencapai 80% Ibu yang mengimplementasikan ASI Eksklusif dalam 5 tahun.

30. Kesetaraan Bagi Penyandang Disabilitas

Memaksimalkan fasilitas publik untuk penyandang disabilitas.

31. Reformasi Birokrasi dan Antikorupsi

Mengembangkan kinerja dan tata kelola pemerintahan untuk merealisasikan rencana kerja hingga 95 persen. Mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam audit laporan keuangan, mencapai predikat 80 dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), Menghentikan praktik penyelewengan di dalam birokrasi,dan memperbaiki manajemen aset-aset milik Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.

32. Memperluas Cakupan Daya Serap Anggaran

Meningkatkan Realisasi Rencana Program (daya serap anggaran) untuk memperluas cakupan dan efektivitas program-program penanggulangan banjir dan kemacetan, rehabilitasi dan pemeliharaan lingkungan hidup serta pengelolaan sampah.

33. Perbaikan Pelayanan Tanah Wakaf

Mempermudah birokrasi pengurusan tanah wakaf, edukasi perwakafan serta penggratisan biaya pembuatan sertifikat tanah wakaf.

34. Memuliakan Perempuan dan Keluarga

Memuliakan perempuan Jakarta dengan mendukung Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Ekslusif, memberikan cuti khusus bagi suami selama proses kelahiran anak, serta menyediakan fasilitas-fasilitas publik khusus seperti Ruang Menyusui dan Tempat Penitipan Anak yang dikelola secara sehat, profesional dan bisa diakses seluruh warga.

35. Pemberdayaan Perempuan

Memberdayakan perempuan Jakarta dengan mendukung sepenuhnya partisipasi perempuan dalam perekonomian, antara lain melalui pemberian Kredit Usaha Perempuan Mandiri.

36. Jakarta Kota Hijau dan Kota Aman

Menjadikan Jakarta sebagai Kota Hijau dan Kota Aman yang ramah, sejuk dan aman bagi anak, perempuan, pejalan kaki, pengguna jalan, dan seluruh warga; Menggalakkan kegiatan cocok tanam kota (urban farming); Melakukan audit berkala keamanan kampung; Mememperluas cakupan dan menperbaiki kesejahteraan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

37. Pemberdayaan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA)

Meningkatkan kualitas guru TPA dan bantuan fasilitas TPA serta mempermudah pendirian TPA.

38. Perlindungan Perempuan dan Anak

Melindungi perempuan dan anak-anak Jakarta dari praktik pelecehan, kekerasan, diskriminasi, dan praktik perdagangan manusia (human trafficking) dengan mengaktifkan 267 Rumah Aman. Menggerakkan Unit Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan berbasis aplikasi yang bekerjasama dengan Kepolisian Daerah Jakarta, dan memberi subsidi bantuan hukum bagi korban.

39. Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri

Mengatasi kesenjangan Ibukota dengan menjadikan Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri dengan menyediakan infrastruktur, lapangan kerja, fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi segenap warganya dan menjadikannya sebagai pusat inovasi konservasi ekologi.

40. Mendirikan Taman Maju Bersama

Mengaktifkan kembali taman-taman yang sudah ada melalu berbagai kegiatan dan interaksi warga, misalnya dengan mengaktifkan komunitas budaya dan olahraga. Membangun taman baru di wilayah pinggir Jakarta dan membangun Taman Pintar (Science Park).

41. Membangun dan merevitalisasi pusat-pusat pengembangan kebudayaan

Membangun dan merevitalisasi pusat-pusat pengembangan kebudayaan, antara lain dengan :

(a) Membangun Taman Benyamin Sueb sebagai pusat perawatan dan pengembangan kebudayaan Betawi dan pusat interaksi lintas-komunitas.

(b) Menyelamatkan dan merevitalisasi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dengan melakukan digitalisasi seluruh koleksinya.

(c) Menjadikan Jakarta sebagai pusat International Film Festival.

42. Meningkatkan Bantuan Sosial untuk Masjid dan Majelis Taklim

Perluasan cakupan penerima Bansos, mempermudah pengajuanserta mempercepat proses pencairan dana.

43. Menjadikan SMK di Jakarta, Unggul dan Berkualitas

Menyatukan manajemen SMK yang muridnya sedikit, mempersiapkan SMK di Kep. Seribu menjadi unggulan, Menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan dual system. Mempersiapkan lulusan SMK berkualitas.

44. Sembako Murah dan Berkualitas

Mempermudah warga mendapatkan bahan kebutuhan pokok (Sembako) yang berkualitas dan murah. Membangun Lumbung Kota untuk menjaga kualitas bahan makanan dan mempersingkat rantai distribusi.

45. Festival Olahraga dan Kesenian Jakarta Sepanjang tahun

Menyelenggarakan festival olahraga dan kesenian Jakarta sepanjang tahun untuk mengembangkan pembinaan olahraga dan kesenian berbasis komunitas.

46. Program Percepatan Pelayanan Air Bersih Warga

Memperluas cakupan dan memperbaiki kualitas layanan air bersih dengan prioritas pada wilayah-wilayah dengan kualitas air terburuk dan memberikan subsidi langsung untuk warga tidak mampu.

47. Perumahan Murah

Meningkatkan ketersediaan hunian sesuai kebutuhan warga dengan mendorong inisiatif warga, mengadakan bank tanah, dan mempermudah pemilikan hunian untuk warga kurang mampu melalui kredit murah berbasis tabungan.

48. Museum dan Tempat Bersejarah di Jakarta

Membangun pusat-pusat pariwisata, tempat-tempat bersejarah dan pusat-pusat kegiatan warga sebagai tempat yang ramah, aman dan sejuk bagi anak, lansia dan warga difabel.

49. Meningkatkan Bantuan Sosial

Meningkatkan Bantuan Sosial untuk rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, lembaga sosial, Sekolah Minggu dan Majelis Taklim berbasis asas proporsionalitas dan keadilan.

50. Pengembangan Wirausaha Muslim

Pengembangan pusat kegiatan OK OCE di ponpes dan majelis taklim, serta permodalan syariah dan bimbingan usaha.

Semoga program ini nyata
Jayalah Jakarta, jayalah Indonesia kita

Monday, March 6, 2017

Masa Idah dan Jejak Sidik Laki-Laki

Penelitian tentang Masa Iddah Perempuan, Membuat Pakar Genetika Yahudi ini Masuk Islam. Subhanallah


Seorang pakar genetika Robert Guilhem mendeklarasikan keislamannya setelah terperangah kagum oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang iddah (masa tunggu) wanita Muslimah yang dicerai suaminya seperti yang diatur Islam.
Guilhem, pakar yang mendedikasikan usianya dalam penelitian sidik pasangan laki-laki baru-baru ini membuktikan dalam penelitiannya bahwa jejak rekam seorang laki-laki akan hilang setelah tiga bulan.
Guru besar anatomi medis di Pusat Nasional Mesir dan konsultan medis, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa pakar Robert Gelhem, pemimpin yahudi di Albert Einstain College dan pakar genetika ini mendeklarasikan dirinya masuk Islam ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan.

Ia menambahkan, pakar Guilhem ini yakin dengan bukti-bukti ilmiah.
Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan.
Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan. Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya.

Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Afrika Muslim di Amerika.
Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa setiap wanita di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja. Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain di Amerika membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki dua hingga tiga. Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahan yang sah.

Yang mengagetkan sang pakar ini adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri. Sebab ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya. Setelah penelitian-penelitian yang dilakukan ini akhirnya meyakinkan sang pakar Guilhem ini memeluk Islam.
Ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan social. Ia yakin bahwa wanita Muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini. (islammemo/atb)

dinukil dari:
https://moeflich.wordpress.com/2012/08/28/penelitian-tentang-masa-iddah-perempuan-dalam-islam-membuat-pakar-genetika-yahudi-ini-masuk-islam/

Tuesday, January 31, 2017

POKOKNYA ISLAM SALAH TIDAK USAH NGEYEL

POKOKNYA SALAH, TIDAK USAH NGEYEL!

Oleh: Ust. Choirul Anam

Di zaman demokrasi seperti sekarang, memeluk agama apapun itu hak dan tentu saja pilihan bebas. Bahkan beragama dianggap sebaai hak asasi paling fundamental.

Termasuk memeluk agama Islam atau yang lain. 1000% bebas. Meski memeluk Islam itu bebas, tapi menjalankan Islam itu tidak bebas. Islam hanya boleh dijalankan yang berkaiatan dengan masalah privat, tetapi tidak dalam masalah yang lain.

Jika ada yang melaksanakan Islam dalam urusan non privat, maka itu salah dan merupakan pelanggaran hukum.

Umat Islam boleh sujud semalam sampai keningnya hitam, atau baca alquran sampai khatam setiap hari. Tapi jangan coba-coba bawa SATU ayat saja dalam kehidupan nyata. Haramnya pemimpim kafir memang ajaran Islam, tapi jangan sekali-kali disampaikan apalagi jadi sikap dalam menentukan langkah hidup. Itu pelanggaran yang teramat keras dalam demokrasi.

Pokoknya, jika umat Islam bicara Islam, apalagi syariah Islam, apalagi Khilafah Islam, apalagi sok-sokan bela Islam, maka itu salah, kuno, fanatik, berbahaya, intoleran, tak berpendidikan, garis keras, brutal, kolot, seabrek gelar lainnya.

Bahkan, menutup aurat menurut Islam saja, sudah dianggap berbahaya dan disuruh pindah ke Arab. Boleh pakai baju tapi tidak boleh ada nuansa Islamnya, apalagi berdasarkan Islam. Kalau ada nuansa yang lain, seperti barat atau cina tidak apa-apa karena itu berarti go international.

Mengatur rambut (yang tumbuh di mana pun) itu bebas. Tapi jangan sampai berjenggot sesuai Islam. Itu berbahaya dan bisa jadi delik terorisme. Boleh manjangin jenggot, tapi tubuh harus ditato. Nah itu baru keren. Itu baru taat hukum.

Menyampaikan pendapat itu bebas. Tapi tidak boleh ada kaitannya dengan Islam. Bicara Islam itu dianggap monopoli kenenaran, sok suci dan patut diwaspadai. Tapi kalau mengkritik Islam, itu baru kritis, intelektual, punya nalar, berwawasan terbuka.

Nulis tauhid di bendera, wah itu penghinaan berat negara. Itu menusuk rasa kebangsaan terdalam. Itu penodaan yang sangat fatal. Kalau nulis selainnya, itu berarti sangat cinta Indonesia. Itu berarti terjadi perpaduan harmonis antara nasionalisme dan kreativitas. Apa yang dilakukan Slank, misalnya, adalah contoh musisi dengan rasa cinta tanah air yang luar biasa.

Sudah, pokoknya umat Islam yang bicara Islam di ruang publik itu salah dan pelanggaran hukum. Tidak usah ngeyel.

Kalau tidak terima, silahkan protes. Bawa jutaan umat ke Monas. Tak ada pengaruhnya. Mau ngadu, ya sudah ngadu saja ke Tuhan yang katanya Maha Mendengar.

*****

Begitulah demokrasi. Jika kemarin, demokrasi masih malu-malu menampakkan wajah, sekarang demokrasi menampakkan wajah aslinya.

Demokrasi selalu bersembunyi dibalik nama rakyat, sekarang wajah aslinya tampak. Demokrasi hanyalah mengabdi kepada pemilik modal. Jutaan rakyat boleh protes, tapi keinginan tuan reklamasi pantai tidak boleh terusik.

Menghadapi wajah asli demokrasi yang sangat mengerikan memang tidak ringan. Tapi bagaimanapun, tetap lebih baik srigala berwajah srigala, sehingga kita menjauhinya, daripada srigala berwajah domba.

Kita sekarang ditakdirkan Allah menghadapi srigala dalam wujudnya aslinya.

Memang tidak ringan. Semoga Allah melindungi kita semua. Insya Allah hari-hari yang di nanti semakin dekat waktunya.

Wallahu a'lam.

Tuesday, January 24, 2017

PANCASILA (dan Tuhanpun Diperas Menjadi Gotong Royong)

DAN TUHAN PUN DIPERAS MENJADI GOTONG ROYONG

Dalam amanatnya pada Kursus Kader Nasakom, 1 Juni 1965 Presiden Soekarno mengatakan antara lain,
“Saudara-saudara di dalam pidatoku waktu aku menganjurkan Pancasila itu, aku juga telah berkata, Pancasila dapat kita peras menjadi tiga, Trisila: Ketuhanan JME, Sosio-nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Peraslah tiga ini jadi satu, menjadi Ekasila. Ekasila adalah gotong royong. Perasan secara lain adalah Nasakom. NASAKOM ADALAH PERASAN DARI PANCASILA?. Jika Nasakom adalah perasan dari Pancasila, maka perasan dari Nasakom adalah gotong-royong.”

Marx-Engels dalam buku Manifesto Komunis mengatakan, kenapa ajaran mereka disebut “Manifesto Komunis”, mengapa bukan Sosialis, karena gerakan sosialis di masa itu (1847) seperti Owenist, Fourrierist adalah utopis. Gerakan kelas menengah. Sedang Komunis adalah gerakan rakyat jelata.
Jelas bahwa yang dimaksud NASAKOM oleh Bung Karno adalah Nasakom yang revolusioner. Nasakom yang tidak revolusioner hanyalah coro-coro dan cecunguk-cecunguk kontra revolusi. Maka, meskipun Bung Karno mengakui Marxisme sebagai satu-satunya ilmu yang berkompeten untuk memecahkan masalah sejarah, politik, dan masyarakat, tetapi teoretis Marxis yang benar adalah KOM(unis).
Dalam salah satu ceramahnya, Aidit memetik ajaran Bung Karno, “Gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Bung Karno tahun 1926 makin hari makin terbukti kebenarannya. Dilihat dari segala segi bagi rakyat Indonesia, tidak ada jalan lain kecuali harus melaksanakan Nasakom di segala bidang. Alternatif lain daripada Nasakom adalah berkelahi antara kekuatan-kekuatan yang hidup di negeri kita”.

sumber http://tukpencarialhaq.com/2016/08/14/gayung-bersambut-duet-pemimpin-besar-revolusi-bung-karno-ketua-cc-pki-aidit-tentang-pancasila-pro-nasa-komunis-versi-1-juni/



Alhamdulillah, pagi ini dapat pencerahan dari Prof. YIM via WA, berikut petikannya sesuai redaksi chat dari beliau:

[24/1 08.56] Yusril Ihza Mahendra: Pancasila yang dianut rezim sekarang nampaknya Pancasila versi 1 Juni 1945

[24/1 08.56] Kiranya konsekwensinya apa prof?

[24/1 08.56] Yusril Ihza Mahendra: Konsekuensinya besar sekali. Pancasila 1 Juni itu murni pemikiran Sukarno sebagai usul kepada BPUPKI. Rumusan yang disepakati bersama oleh semua anggota BPUPKI adalah Pancasila dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Kesepakatan itu kemudian direvisi menjadi kesepakatan bersama tanggal 18 Agustus 1945 oleh semua anggota PPKI. Itulah Pancasila yg menjadi falsafah negara kita. Bukan Pancasila usulan Sukarno tgl 1 Juni dan bukan pula Piagam Jakarta 22 Juni. Kalau mau diteruskan lagi adalah kesepakatan terakhir sebagaimana tertuang dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Anda bisa baca perbedaan rumusan antara 1 Juni 45, 22 Juni 45, 18 Agustus 45 dan terakhir 5 Juli 59. Saya mengajak marilah kita menerima Pancasila sebagai kesepakatan bersama tersebut, bukan Pancasila usulan Sukarno kepada BPUPKI yang belum disepakati oleh seluruh the founding fathers bangsa kita. Upaya memaksakan kehendak agar kita menerima Pancasila usulan Sukarno tanggal 1 Juni 45 sebagai "ideologi negara" bukan saja tidak punya pijakan historis dalam sejarah penyusunan UUD 45, tetapi juga bisa menimbulkan perdebatan baru di antara semua komponen bangsa. Negara ini, seperti dikatakan Sukarno, kita ciptakan satu untuk semua dan semua untuk satu!. Karena itu marilah kita menerima Pancasila sebagai kesepakatan bersama the founding fathers bangsa kita, yang kesepakatan itu juga dicapai atas upaya dan jasa yang luar biasa dari Sukarno yang sangat cinta akan persatuan dan kesatuan bangsa dan jangan memaksakan kehendak suatu pihak atau suatu golongan agar diterima oleh golongan atau pihak lainnya.

Golongan Islam menolak Pancasila diperas menjadi Trisila dan Trisila diperas lagi jadi Ekasila yakni "gotong royong" seperti usul Bung Karno tgl 2 Juni 45. Kalau Pancasila diperas jadi Ekasila maka Tuhan pun diperas menjadi "gotong royong". Ini tidak bisa diterima golongan Islam. Maka dirumuskanlah Piagam Jakarta sebagai kesepakatan tgl 22 Juni 45. Tapi golongan Nasionalis belakangan tidak bisa menerima frasa kata "dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk2nya", maka dirumuskanlah Pancasila dalam Pembukaan UUD 45 yg disahkan tgl 18 Agustus 45. Pancasila tidak diperas2 lagi dan tidak juga ada lagi kata syari'at Islam yg diganti dengan frasa baru Ketuhanan "Yang Maha Esa". Kok sekarang mau pakai Pancasila 1 Juni 45 lagi?