Monday, September 1, 2014

Kirim Aku Bunga - With Lyric (Slank)

video

Bunga,
Kau Bunga yang Tuhan anugerahkan

Tuesday, August 26, 2014

PUPUS (Request By Some one)

PUPUS

Meranggas sebelum bertunas,
41 sudah jalan kuretas,
Lintasi segala batas,
Semuanya bias.

Pupus,
Pupus,
Pupus,
Lekaslah besar wahai tunas yang bagus.

Amien
video

Monday, August 4, 2014

Allah Hi Allah Kiya Karo - Maher Zain (Full Translate)

video

Allah-hi-Allah-kiya-karo
(Katakan Allah, hanya Allah)
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo
(Jangan melukai siapapun)
Jo-duniya-ka-malik-hai
(Dia yang menguasai semua alam)
Naam-usi-ka-liya-karo
(hanya menyebutkan namaNya)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)


(Repeat)

Just like a sunrise
(seperti matahari yang terbit)
Can’t be denied
(tidak bisa di hentikan)
Just like the river
(seperti sungai)
Will find the sea
(yang akan menemukan lautan)

Oh Allah, You’re here
(Oh Allah, Engkau ada di sini)
You’re always near
(Engkau selalu dekat)
And I know without a doubt
(Dan aku tahu tanpa keraguan)
That you always hear my prayers
(bahwa kau akan selalu mendengar doaku)

Such-ki-rahoon-pey-chala-karo
(Tetap berjalan pada jalan yang benar)
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo
(Jangan melukai siapapun)
Jo-duniya-ka-malik-hai
(Dia yang menguasai semua alam)
Naam-usi-ka-liya-karo
(hanya menyebutkan namaNya)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)

Allah-hi-Allah-kiya-karo
(Katakan Allah, hanya Allah)
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo
(Jangan melukai siapapun)
Jo-duniya-ka-malik-hai
(Dia yang menguasai semua alam)
Naam-usi-ka-liya-karo
(hanya menyebutkan namaNya)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)

So many bright stars
(Begitu banyak bintang bersinar)
Like diamonds in the sky
(Seperti intan yang ada di langit)
It makes me wonder
(ini membuatku kagum)
How anyone can be blind
(bagaimana semua orang tidak bisa melihat)

To all the signs so clear
(pada semua tanda yang begitu jelas)
Just open your eyes
(Bukalah mata kalian)
And I know without a doubt
(dan aku tahu tanpa ragu)
You will surely see the light
(Kau akan melihat cahaya itu)

Theri-duniya, theri-zameen
(Duniamu, Tanah mu)
Yeh-kehkashan-hai
(Seperti sebuah galaxy)
Yeh-thu-hai-Kareem
(Dan engkau yang paling mengagumkan)
Meray-Maula, sun-lay-dua
(Tuhanku, jawablah doaku)
Hum-baybus-hain-theray-bina
(Kamu tidak bisa apa2 tanpa-Mu)

Roshan-kar-jahaan
(Aku mohon berikan cahaya pada duniaku)
Aisa-zulm-na-kiya-karo
(jangan melakukan tindakan yang tidak adil)
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo
(Jangan melukai siapapun)
Jo-duniya-ka-malik-hai
(Dia yang menguasai semua alam)
Naam-usi-ka-liya-karo
(hanya menyebutkan namaNya)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)

Allah-hi-Allah-kiya-karo
(Katakan Allah, hanya Allah)
Dukh-na-kisi-ko-diya-karo
(Jangan melukai siapapun)
Jo-duniya-ka-malik-hai
(Dia yang menguasai semua alam)
Naam-usi-ka-liya-karo
(hanya menyebutkan namaNya)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)
Allah-hi-Allah
(Allah, hanya Allah)

(Repeat) (x2)

Allah-hi-Allah (x2)

---------------- Sejuknya lagu ini, semoga bahagia ---------------------

Friday, July 18, 2014

Bara & Belati

Seonggok bara membuncah,
Gapai titik api yang mulai beku.
Menyeringai retak, pecah
Bagai cermin dihantam peluru

Aku.....,
Hanya secuil harap dari sisa waktu
Menyayati sembilu berpilu-pilu
Meranggas, terhempas dan mengabu
Waktu telah menikamku bertalu-talu

Lidah api kini menari-nari,
Menusuk ruang dari segala dimensi
Bagai belati meliuk penuh birahi
Menggores asa dari dua sisi

Bara yang beku, dan
Belati yang legam lebam
Meremas kata dan nada
Ada

*Kedaung, 18 Juli ‘14

Thursday, July 17, 2014

Satu-Satunya CInta (Maha Dewi)

video

Satu-Satunya Cinta

katamu kamu cinta kepadaku selamanya
katamu kamu rindu kepadaku selalu
tapi mengapa aku masih ragu

katamu aku ini cinta terakhir kamu
katamu aku ini cinta dalam hidupmu
tapi mengapa aku masih ragu

mungkinkah aku ini menjadi satu-satunya cinta
yang terakhir kamu dan tak akan ada cinta yang kedua
dan ketiga dan cinta lainnya

katamu kamu hilang jika aku pun pergi
katamu kamu musnah jika cintaku punah
tapi mengapa aku masih ragu

katamu kamu cinta kepadaku selamanya
katamu kamu rindu kepadaku selalu
katamu aku ini cinta terakhir kamu
katamu aku ini cinta dalam hidupmu
tapi mengapa aku masih ragu

mungkinkah aku ini menjadi satu-satunya cinta
yang terakhir kamu dan tak akan ada cinta yang kedua
dan ketiga dan cinta lainnya

mungkinkah (mungkinkah) aku ini (aku ini)
menjadi satu-satunya cinta (satu-satunya cinta)
yang terakhir (yang terakhir) kamu dan tak akan ada (tak akan ada)
cinta yang kedua (cinta kedua) dan ketiga (cinta ketiga) dan cinta lainnya

#For sameone in my life

Thursday, July 10, 2014

Belajar dari Pilpres 2014 - Kafil Yamin

ADA yang lebih penting dari kemenangan dalam Pilpres ini, paling tidak bagi saya, yakni anak-anak muda Indonesia terutama, bisa belajar berpartisipasi politik yang baik. Sehingga kehidupan politik Indonesia adalah politik yang bermoral; sehingga generasi muda Indonesia adalah generasi berjiwa besar; bertenggang rasa; punya solideritas yang tinggi; generasi yang bermartabat.
Tadinya saya berharap anak-anak muda Indonesia bisa belajar dari tokoh-tokoh politik yang sekarang manggung. Tapi, melihat kenyataan politik hari ini, harapan itu masih jauh. Apa boleh buat.
Tadinya saya berharap tokoh-tokoh politik yang sekarang manggung itu bisa memberi tauladan; organisasi dan kelompok politik bisa memberikan pendidikan politik yang baik. Harapan itu juga masih jauh.
Banyak dari generasi muda Indonesia, lebih tertarik pada eforia adu kekuatan, provokasi, hujatan, caci-maki, bukan pada mengembangkan kemampuan nalar, analisis, penilaian yang matang.
Tapi bagaimana generasi muda bisa demikian bila yang mereka lihat adalah politisi dan kelompok politik yang hanya memperlihatkan nafsu berkuasa? Dan untuk itu mengeksploitasi sentimen massa? Sayangnya, emosi kebanyakan kita mudah diekspolitasi, mudah dipermainkan.
Kaum ‘intelektual’, akademisi, lebih menonjolkan kemampuannya dalam mencari kesalahan dan cacat orang lain. Dan para politisi, lebih banyak unjuk kekuatan ketimbang unjuk kebijaksanaan dan kecintaan kepada bangsa. Mereka lebih tampak sebagai anak-anak yang saling menunjukkan ‘siapa saya’, ‘siapa kami’. Sedikit sekali di antara mereka yang bisa jadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk membangun dan mengembangkan kepribadian yang luhur.
Contoh-contoh yang saya kemukakan di sini akan terasa memihak, apa boleh buat, karena lebih banyak ditunjukkan oleh salah satu pihak. Pasti ada yang tidak senang.  Tapi perlu saya sampaikan sebagai contoh.
Deklarasi kemenangan oleh Megawati, Jokowi-JK, pada saat suara yang masuk baru 70 persen, dan lembaga penghitungnya bukan lembaga resmi, adalah tindakan kekanak-kanakan. Kita tahu alasannya: Mereka ingin cepat membangun opini publik bahwa merekalah pemenangnya. Ini bukan tindakan dewasa, meski umur mereka lebih dari dewasa. Dan karena itu bukan contoh yang baik bagi siapa pun, terutama bagi generasi muda.  Kenapa mereka tak bersabar menunggu hasil penghitungan KPU?
Mestinya mereka mempertimbangkan emosi massa, keharmonisan hidup masyarakat. Tindakan mereka itu menyulut emosi. Dan itu tindakan yang tidak patut. Bayangkan sekelompok organisasi resmi dan besar, mendasarkan pernyataan resmi kemenangannya pada hasil hitungan cepat tidak resmi.
Dan sungguh naif mereka mengemasnya dengan pidato kemenangan di Tugu Proklamasi.
Segera setelah itu Megawati memperingatkan KPU untuk 'tidak memanipulasi hasil Pilpres.' Peringatan yang bernada menuduh.
Pihak Prabowo-Hatta melakukan hal yang sama sebagai ‘tindakan balasan’, yang juga berdasarkan hitungan cepat tidak resmi. Tanpa tindakan kubu Megawati –Jokowi-JK, bisa dipastikan kubu Prabowo-Hatta tak akan bertindak seperti itu. Tapi apa pun alasannya, kubu Prabowo-Hatta mestinya tidak membalas kesalahan dengan kesalahan.
Slogan kubu Jokowi-JK bahwa “hanya kecurangan yang bisa mengalahkan kita” adalah pendidikan politik buruk bagi masyarakat. Padahal mereka bersaing untuk jadi pemimpin.
Dalam hal ini, kubu Prabowo-Hatta lebih menunjukkan sikap ksatria dan bijaksana “Kami akan menghormati bila rakyat memberikan mandat kepada saudara Jokowi.”
Muda-mudahan, masih ada yang masih bisa ditauladani dan dipelajari dari beberapa orang di antara mereka.
Orang sering mengatakan “politik itu kotor”. Tapi justru karena kotor itulah kita ingin menjadikannya bersih. Dan politik yang bersih itu ada. Sumpah, ada. Dan kita ingin memilikinya.
Media – mudah-mudahan ada yang masih bisa dikecualikan – menambah kekotoran politik itu dengan pemihakan yang sangat telanjang. Tanpa malu. Media mengekspoitasi emosi massa. Dan kebanyakan kita begitu mudah ‘dimakan’ media-media pengobar kebencian itu.
Mudah-mudahan dinding fesbuk saya ini jadi forum sebagian kecil kita untuk mengasah sikap kritis; menyaring informasi; memperkuat kemampuan mengendalikan diri; meningkatkan kepekaan, sehingga tidak gampang jadi objek kepentingan sempit sekelompok orang.
Memang, tidak gampang memelihara kesantunan di tengah ajang caci maki. Tapi bagi yang berniat menjadi pribadi yang sehat, ini tantangan tersendiri. Anda misalnya, berkomentar dengan argumentasi dan bahasa yang baik, tiba-tiba dijawab seseorang hanya dengan satu dua kalimat hujatan pendek: “Hahaha..ngawur!” – tanpa menjelaskan ngawurnya bagaimana.
Maklumi saja, biasanya, penanggap yang hanya menuliskan satu dua kata hujatan itu memang tak bisa berdiksusi. Kalaupun memaksakan diri, kelihatan pikirannya ngawur.
Kita harus jadi masyarakat yang pintar, lebih pintar dari mereka yang terlihat lapar kekuasaan. Bila para politisi, media, ‘intelektual’ sekarang lebih tampak menebar benih-benih konflik sosial; benih-benih kekacauan masyarkat, mungkin kemampuan mereka memang sebatas itu. Tapi kita tak mau jadi sekelas mereka. Kita ingin jadi bangsa yang tak gampang dipecahbelah. Dan untuk itu kita harus jadi masyarakat yang menyandarkan pertimbangan kita pada kedaulatan akal sehat kita sendiri. Untuk inilah kita perlu belajar bersama.
Dan di masyarakat yang baik, pempimpin buruk akan terpental dengan sendirinya. Itu hukum alam. Persoalannya, apakah semua kita punya niat jadi masyarakat yang baik?
Salam kebangsaan.

Sunday, June 22, 2014

PRABOWO Ancaman Para Mafia China

Mengapa PDIP Memaksakan Jokowi Sebagai Capres 2014?


Bismillahirrahmaanirrahiim.
Sebenarnya, mencalonkan Jokowi sebagai Capres untuk 2014 ini sangatlah RISKAN dan mengandung bahaya politik besar. Bahaya bukan hanya buat sosok Jokowi, tapi juga untuk kepentingan warga Jakarta, kepentingan rakyat Indonesia, dan dunia politik itu sendiri.
Secara hitung-hitungan politik, mencapreskan Jokowi bagi PDIP adalah bunuh diri. Mengapa demikian? Karena PDIP akan pecah kongsi dengan Prabowo-Gerindra. Itu sudah otomatis. Kemudian, PDIP akan dimusuhi oleh warga DKI Jakarta yang merasa dikhianati oleh Jokowi. Warga Jakarta yang semula dukung Jokowi (anti Foke) otomatis akan menjadi lawan PDIP. Padahal dalam tradisi politik di Indonesia, kemenangan di Jakarta sangat menentukan, karena ini adalah daerah khusus ibukota.

Di sisi lain, pencapresan Jokowi tidak didukung oleh prestasi, kinerja, dan capaian positif. Di Solo masih meninggalkan seabreg masalah dan kasus hukum. Di Jakarta, apalagi. Jokowi nyaris baru blusukan kesana kemari, sambil tidak jelas apa hasilnya. Dalam pertarungan pilpres nanti, pasti rakyat akan 
melihat hasil kerja, bukan citraan. Bayangkan, kalau Jokowi kampanye Pilpres, dia akan membuat janji-janji apalagi, wong janji-janjinya saat Pilkada DKI tidak ada yang direalisasikan dengan beres? Nanti dia akan jadi kandidat presiden yang paling banyak dicaci. “Halah ngibul, gombal, banyak omong. Janji segunung, hasil nol besar.” Sangat mungkin, dengan mencapreskan Jokowi, justru suara PDIP akan mengalami kemerosotan hebatcitra PDIP. Mengapa? Karena partai ini dianggap ingin menang sendiri. Saat Jokowi lagi laku-lakunya di media, karena dukungan sponsor Mafia China yang intensif untuk membentuk pencitraan; PDIP mengakuisisi Jokowi. Sebaliknya, di mata semua partai yang punya kandidat capres masing-masing, mereka merasa marah dengan naiknya Jokowi melalui dukungan palsu media. Mereka pasti tidak rela kursi RI-1 jatuh ke tangan capres selain dari kubu mereka sendiri. Nah, di sini PDIP bisa dikeroyok oleh semua kekuatan politik. Kesimpulannya Koalisi untuk mendukung Jokowi hanya kamuflase, penuh dengan kepentingan & Intervensi

Singkat kata, mencalonkan Jokowi sebagai Capres PDIP adalah blunder besar yang telah merusak reputasi partai itu selama 10 tahun terakhir. PDIP yang telah dikesankan oleh rakyat, bukan atas dasar surve dan pooling abal-abal ya, sebagai partai oposisi yang konsisten, sekarang harus ketar-ketir menyelamatkan mukanya. Dan pasti, pencapresan Jokowi itu akan membelah kekuatan PDIP menjadi dua, barisan pro dan kontra. Itu pasti. Meskipun PDIP berusaha mati-matian menyembunyikannya.

Mengapa Megawati tega menikam partainya sendiri demi memuluskan jalan bagi Jokowi untuk nyapres pada 2014?
Kemungkinan itu terjadi karena SANGAT KUATNYA tekanan dari Mafia China ke kubu Megawati. Ada kabar menyebutkan, sebelum pengumuman pencapresan dilakukan, sekitar 75 pengusaha besar China, datang ke Lenteng Agung untuk menekan Mbak Mega. Katanya, mereka sedia siapkan dana 2 triliun untuk pemenangan Jokowi.
Tapi tekanan ini bisa jadi lebih besar dari itu. Ia menyangkut hajat bisnis keluarga Megawati sendiri dan keselamatan posisi politiknya. Kami menduga, jaringan mafia pengusaha China itu menekan Mbak Mega minimal dalam dua poin: (a). Mereka akan melibas binis CPO/produksi minyak sawit yang selama ini deras menafkahi keluarga Megawati, sejak era Mega menjadi Presiden RI 2001-2004 lalu; (b). Mereka mengancam akan buka-bukaan soal data korupsi/pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Mega dan keluarga. Dengan tekanan begitu, tentu sangat sulit bagi Mega dan kawan-kawan untuk mendiamkan ajuan mafia China.

Apa rahasia di balik pencapresan Jokowi ini? Masih ada rahasia lain yang lebih “menggiurkan”?
Sebenarnya, para mafia China juga tahu bahwa pencalonan Jokowi sangat berisiko. Risiko terbesar adalah mengundang amarah politik/sosial Umat Islam yang telah dikalahkan dalam Pilkada Jakarta sehingga terpilih Ahok sebagai wakil gubernur. Pencapresan Jokowi jelas akan menaikkan Ahok sebagai Gubernur DKI. Dan kita tahu sendiri, dalam kepemimpinannya Ahok lebih seperti orang stress daripada seorang Wakil Gubernur. Omongan dia lebih mirip ucapan preman Cilitan atau Kampung Rambutan, daripada seorang pejabat birokrasi.

Bagi kalangan mafia China, lebih suka damai-damai saja, ekonomi lancar, kehidupan normal, daripada situasi konflik sosial membara dimana-mana. Loyalitas mereka ke uang. Mereka cuma butuh “tempat aman dan waktu tenang” untuk cari uang. Kalau ada semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”; di mata mafia China semboyan itu diubah jadi: “Dari duit, oleh duit, dan untuk duit.” Ini benar-benar nyata. Duit telah menjadi ILAH yang diibadahi dan diberikan loyalitas sempurna.
Mereka dengan sangat terpaksa memilih Jokowi karena mereka SANGAT KETAKUTAN kepada sosok Prabowo Subianto yang dalam Pilpres 2014 ini diperkirakan akan merajai arena. Konon, tak ada satu pun sosok lain, setelah SBY, yang bisa menandingi Prabowo. Para mafia China sangat takut dengan ide kemandirian, kedaulatan, kerakyatan yang diusung oleh Prabowo. Bagi mereka, membiayai kemenangan Jokowi meskipun harus mengeluarkan uang 10 triliun rupiah, tidak masalah. Asalkan jangan Prabowo yang menang.

Mereka tak peduli Jokowi tak punya prestasi, tak becus ngatur Jakarta, khianat pada kepercayaan rakyat, melanggar janji-janji, dan seterusnya. Mereka tak peduli semua itu. “Persetan dengan prestasi Jokowi!” Begitu kira-kira omongan mereka. Mereka semata-mata hanya TIDAK INGIN MELIHAT NEGARA INDONESIA DIPIMPIN OLEH PRABOWO. Sekalipun sebenarnya yang membawa Jokowi ke Jakarta adalah Prabowo sendiri. Maka dari itu uang miliaran-triliunan siap digelontorkan, untuk mengangkat pamor Jokowi dan hancurkan pamor Prabowo.

Mengapa mereka begitu phobia dengan Prabowo? Mengapa mereka tidak bisa menerima Prabowo, padahal tokoh itu sudah melakukan “operasi plastik politik” sangat ekstrem seperti para selebritis Korea?

Ya alasannya kembali ke filosofi dasar hidup mereka. Kaum mafia China kan terkenal dengan slogan: “Dari duitoleh duituntuk duit.” Dalam konteks ini, mereka jadi sangat paranoid terhadap perubahan sistem pemerintahan yang akan berdampak pada perubahan income dan kekayaan mereka. Di mata mafia China berlaku prinsip semacam ini: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing. Lebih baik kamu perlakukan semua hewan sebagai harimau.” Ini adalah tingkat kewaspadaan tertinggi dalam penjagaan aset-aset kekayaan. Mereka tak mau ambil risiko dengan menerima kemungkinan perubahan ideologi atau pemikiran seseorang.

Hal yang sama juga berlaku bagi PKS. Meskipun Anis Matta sudah mendatangkan grup penyanyi gereja dari NTT untuk manggung di tengah perhelatan massa mereka di Senayan. Tetap saja, semua itu tak akan mengubah pendirian mafia China terhadap PKS. Sama sekali tak akan mengubah apapun. Dasarnya ya filosofi tadi: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing…

Filosofi dasar kaum mafia China ini susah berubah, dengan cara apapun, karena ia merupakan kunci eksistensi mereka di perantauan. Hal itu sudah berlaku dalam lintasan sejarah selama ribuan tahun. Ini sudah clear dan sulit berubah. Ia sudah inheren dengan kebudayaan oriental. Kalau berubah, justru eksistensi jadi taruhan. Meminjam kata Nabi SAW: “Pena-pena sudah diangkat, lembaran-lembaran sudah ditutup.”
Tak mungkin “operasi kamuflase politik” akan mengelabui mereka. Jangan meremehkan sejarah mereka, ribuan tahun. Maka itu harusnya kalau berpolitik yang LURUS-LURUS saja. Satu muka, satu pendirian, satu integritas. Jangan suka mencla-mencle!