Tuesday, January 24, 2017

PANCASILA (dan Tuhanpun Diperas Menjadi Gotong Royong)

DAN TUHAN PUN DIPERAS MENJADI GOTONG ROYONG

Dalam amanatnya pada Kursus Kader Nasakom, 1 Juni 1965 Presiden Soekarno mengatakan antara lain,
“Saudara-saudara di dalam pidatoku waktu aku menganjurkan Pancasila itu, aku juga telah berkata, Pancasila dapat kita peras menjadi tiga, Trisila: Ketuhanan JME, Sosio-nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Peraslah tiga ini jadi satu, menjadi Ekasila. Ekasila adalah gotong royong. Perasan secara lain adalah Nasakom. NASAKOM ADALAH PERASAN DARI PANCASILA?. Jika Nasakom adalah perasan dari Pancasila, maka perasan dari Nasakom adalah gotong-royong.”

Marx-Engels dalam buku Manifesto Komunis mengatakan, kenapa ajaran mereka disebut “Manifesto Komunis”, mengapa bukan Sosialis, karena gerakan sosialis di masa itu (1847) seperti Owenist, Fourrierist adalah utopis. Gerakan kelas menengah. Sedang Komunis adalah gerakan rakyat jelata.
Jelas bahwa yang dimaksud NASAKOM oleh Bung Karno adalah Nasakom yang revolusioner. Nasakom yang tidak revolusioner hanyalah coro-coro dan cecunguk-cecunguk kontra revolusi. Maka, meskipun Bung Karno mengakui Marxisme sebagai satu-satunya ilmu yang berkompeten untuk memecahkan masalah sejarah, politik, dan masyarakat, tetapi teoretis Marxis yang benar adalah KOM(unis).
Dalam salah satu ceramahnya, Aidit memetik ajaran Bung Karno, “Gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Bung Karno tahun 1926 makin hari makin terbukti kebenarannya. Dilihat dari segala segi bagi rakyat Indonesia, tidak ada jalan lain kecuali harus melaksanakan Nasakom di segala bidang. Alternatif lain daripada Nasakom adalah berkelahi antara kekuatan-kekuatan yang hidup di negeri kita”.

sumber http://tukpencarialhaq.com/2016/08/14/gayung-bersambut-duet-pemimpin-besar-revolusi-bung-karno-ketua-cc-pki-aidit-tentang-pancasila-pro-nasa-komunis-versi-1-juni/



Alhamdulillah, pagi ini dapat pencerahan dari Prof. YIM via WA, berikut petikannya sesuai redaksi chat dari beliau:

[24/1 08.56] Yusril Ihza Mahendra: Pancasila yang dianut rezim sekarang nampaknya Pancasila versi 1 Juni 1945

[24/1 08.56] Kiranya konsekwensinya apa prof?

[24/1 08.56] Yusril Ihza Mahendra: Konsekuensinya besar sekali. Pancasila 1 Juni itu murni pemikiran Sukarno sebagai usul kepada BPUPKI. Rumusan yang disepakati bersama oleh semua anggota BPUPKI adalah Pancasila dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Kesepakatan itu kemudian direvisi menjadi kesepakatan bersama tanggal 18 Agustus 1945 oleh semua anggota PPKI. Itulah Pancasila yg menjadi falsafah negara kita. Bukan Pancasila usulan Sukarno tgl 1 Juni dan bukan pula Piagam Jakarta 22 Juni. Kalau mau diteruskan lagi adalah kesepakatan terakhir sebagaimana tertuang dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Anda bisa baca perbedaan rumusan antara 1 Juni 45, 22 Juni 45, 18 Agustus 45 dan terakhir 5 Juli 59. Saya mengajak marilah kita menerima Pancasila sebagai kesepakatan bersama tersebut, bukan Pancasila usulan Sukarno kepada BPUPKI yang belum disepakati oleh seluruh the founding fathers bangsa kita. Upaya memaksakan kehendak agar kita menerima Pancasila usulan Sukarno tanggal 1 Juni 45 sebagai "ideologi negara" bukan saja tidak punya pijakan historis dalam sejarah penyusunan UUD 45, tetapi juga bisa menimbulkan perdebatan baru di antara semua komponen bangsa. Negara ini, seperti dikatakan Sukarno, kita ciptakan satu untuk semua dan semua untuk satu!. Karena itu marilah kita menerima Pancasila sebagai kesepakatan bersama the founding fathers bangsa kita, yang kesepakatan itu juga dicapai atas upaya dan jasa yang luar biasa dari Sukarno yang sangat cinta akan persatuan dan kesatuan bangsa dan jangan memaksakan kehendak suatu pihak atau suatu golongan agar diterima oleh golongan atau pihak lainnya.

Golongan Islam menolak Pancasila diperas menjadi Trisila dan Trisila diperas lagi jadi Ekasila yakni "gotong royong" seperti usul Bung Karno tgl 2 Juni 45. Kalau Pancasila diperas jadi Ekasila maka Tuhan pun diperas menjadi "gotong royong". Ini tidak bisa diterima golongan Islam. Maka dirumuskanlah Piagam Jakarta sebagai kesepakatan tgl 22 Juni 45. Tapi golongan Nasionalis belakangan tidak bisa menerima frasa kata "dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk2nya", maka dirumuskanlah Pancasila dalam Pembukaan UUD 45 yg disahkan tgl 18 Agustus 45. Pancasila tidak diperas2 lagi dan tidak juga ada lagi kata syari'at Islam yg diganti dengan frasa baru Ketuhanan "Yang Maha Esa". Kok sekarang mau pakai Pancasila 1 Juni 45 lagi?