Tuesday, January 31, 2017

POKOKNYA ISLAM SALAH TIDAK USAH NGEYEL

POKOKNYA SALAH, TIDAK USAH NGEYEL!

Oleh: Ust. Choirul Anam

Di zaman demokrasi seperti sekarang, memeluk agama apapun itu hak dan tentu saja pilihan bebas. Bahkan beragama dianggap sebaai hak asasi paling fundamental.

Termasuk memeluk agama Islam atau yang lain. 1000% bebas. Meski memeluk Islam itu bebas, tapi menjalankan Islam itu tidak bebas. Islam hanya boleh dijalankan yang berkaiatan dengan masalah privat, tetapi tidak dalam masalah yang lain.

Jika ada yang melaksanakan Islam dalam urusan non privat, maka itu salah dan merupakan pelanggaran hukum.

Umat Islam boleh sujud semalam sampai keningnya hitam, atau baca alquran sampai khatam setiap hari. Tapi jangan coba-coba bawa SATU ayat saja dalam kehidupan nyata. Haramnya pemimpim kafir memang ajaran Islam, tapi jangan sekali-kali disampaikan apalagi jadi sikap dalam menentukan langkah hidup. Itu pelanggaran yang teramat keras dalam demokrasi.

Pokoknya, jika umat Islam bicara Islam, apalagi syariah Islam, apalagi Khilafah Islam, apalagi sok-sokan bela Islam, maka itu salah, kuno, fanatik, berbahaya, intoleran, tak berpendidikan, garis keras, brutal, kolot, seabrek gelar lainnya.

Bahkan, menutup aurat menurut Islam saja, sudah dianggap berbahaya dan disuruh pindah ke Arab. Boleh pakai baju tapi tidak boleh ada nuansa Islamnya, apalagi berdasarkan Islam. Kalau ada nuansa yang lain, seperti barat atau cina tidak apa-apa karena itu berarti go international.

Mengatur rambut (yang tumbuh di mana pun) itu bebas. Tapi jangan sampai berjenggot sesuai Islam. Itu berbahaya dan bisa jadi delik terorisme. Boleh manjangin jenggot, tapi tubuh harus ditato. Nah itu baru keren. Itu baru taat hukum.

Menyampaikan pendapat itu bebas. Tapi tidak boleh ada kaitannya dengan Islam. Bicara Islam itu dianggap monopoli kenenaran, sok suci dan patut diwaspadai. Tapi kalau mengkritik Islam, itu baru kritis, intelektual, punya nalar, berwawasan terbuka.

Nulis tauhid di bendera, wah itu penghinaan berat negara. Itu menusuk rasa kebangsaan terdalam. Itu penodaan yang sangat fatal. Kalau nulis selainnya, itu berarti sangat cinta Indonesia. Itu berarti terjadi perpaduan harmonis antara nasionalisme dan kreativitas. Apa yang dilakukan Slank, misalnya, adalah contoh musisi dengan rasa cinta tanah air yang luar biasa.

Sudah, pokoknya umat Islam yang bicara Islam di ruang publik itu salah dan pelanggaran hukum. Tidak usah ngeyel.

Kalau tidak terima, silahkan protes. Bawa jutaan umat ke Monas. Tak ada pengaruhnya. Mau ngadu, ya sudah ngadu saja ke Tuhan yang katanya Maha Mendengar.

*****

Begitulah demokrasi. Jika kemarin, demokrasi masih malu-malu menampakkan wajah, sekarang demokrasi menampakkan wajah aslinya.

Demokrasi selalu bersembunyi dibalik nama rakyat, sekarang wajah aslinya tampak. Demokrasi hanyalah mengabdi kepada pemilik modal. Jutaan rakyat boleh protes, tapi keinginan tuan reklamasi pantai tidak boleh terusik.

Menghadapi wajah asli demokrasi yang sangat mengerikan memang tidak ringan. Tapi bagaimanapun, tetap lebih baik srigala berwajah srigala, sehingga kita menjauhinya, daripada srigala berwajah domba.

Kita sekarang ditakdirkan Allah menghadapi srigala dalam wujudnya aslinya.

Memang tidak ringan. Semoga Allah melindungi kita semua. Insya Allah hari-hari yang di nanti semakin dekat waktunya.

Wallahu a'lam.

Tuesday, January 24, 2017

PANCASILA (dan Tuhanpun Diperas Menjadi Gotong Royong)

DAN TUHAN PUN DIPERAS MENJADI GOTONG ROYONG

Dalam amanatnya pada Kursus Kader Nasakom, 1 Juni 1965 Presiden Soekarno mengatakan antara lain,
“Saudara-saudara di dalam pidatoku waktu aku menganjurkan Pancasila itu, aku juga telah berkata, Pancasila dapat kita peras menjadi tiga, Trisila: Ketuhanan JME, Sosio-nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Peraslah tiga ini jadi satu, menjadi Ekasila. Ekasila adalah gotong royong. Perasan secara lain adalah Nasakom. NASAKOM ADALAH PERASAN DARI PANCASILA?. Jika Nasakom adalah perasan dari Pancasila, maka perasan dari Nasakom adalah gotong-royong.”

Marx-Engels dalam buku Manifesto Komunis mengatakan, kenapa ajaran mereka disebut “Manifesto Komunis”, mengapa bukan Sosialis, karena gerakan sosialis di masa itu (1847) seperti Owenist, Fourrierist adalah utopis. Gerakan kelas menengah. Sedang Komunis adalah gerakan rakyat jelata.
Jelas bahwa yang dimaksud NASAKOM oleh Bung Karno adalah Nasakom yang revolusioner. Nasakom yang tidak revolusioner hanyalah coro-coro dan cecunguk-cecunguk kontra revolusi. Maka, meskipun Bung Karno mengakui Marxisme sebagai satu-satunya ilmu yang berkompeten untuk memecahkan masalah sejarah, politik, dan masyarakat, tetapi teoretis Marxis yang benar adalah KOM(unis).
Dalam salah satu ceramahnya, Aidit memetik ajaran Bung Karno, “Gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Bung Karno tahun 1926 makin hari makin terbukti kebenarannya. Dilihat dari segala segi bagi rakyat Indonesia, tidak ada jalan lain kecuali harus melaksanakan Nasakom di segala bidang. Alternatif lain daripada Nasakom adalah berkelahi antara kekuatan-kekuatan yang hidup di negeri kita”.

sumber http://tukpencarialhaq.com/2016/08/14/gayung-bersambut-duet-pemimpin-besar-revolusi-bung-karno-ketua-cc-pki-aidit-tentang-pancasila-pro-nasa-komunis-versi-1-juni/



Alhamdulillah, pagi ini dapat pencerahan dari Prof. YIM via WA, berikut petikannya sesuai redaksi chat dari beliau:

[24/1 08.56] Yusril Ihza Mahendra: Pancasila yang dianut rezim sekarang nampaknya Pancasila versi 1 Juni 1945

[24/1 08.56] Kiranya konsekwensinya apa prof?

[24/1 08.56] Yusril Ihza Mahendra: Konsekuensinya besar sekali. Pancasila 1 Juni itu murni pemikiran Sukarno sebagai usul kepada BPUPKI. Rumusan yang disepakati bersama oleh semua anggota BPUPKI adalah Pancasila dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Kesepakatan itu kemudian direvisi menjadi kesepakatan bersama tanggal 18 Agustus 1945 oleh semua anggota PPKI. Itulah Pancasila yg menjadi falsafah negara kita. Bukan Pancasila usulan Sukarno tgl 1 Juni dan bukan pula Piagam Jakarta 22 Juni. Kalau mau diteruskan lagi adalah kesepakatan terakhir sebagaimana tertuang dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Anda bisa baca perbedaan rumusan antara 1 Juni 45, 22 Juni 45, 18 Agustus 45 dan terakhir 5 Juli 59. Saya mengajak marilah kita menerima Pancasila sebagai kesepakatan bersama tersebut, bukan Pancasila usulan Sukarno kepada BPUPKI yang belum disepakati oleh seluruh the founding fathers bangsa kita. Upaya memaksakan kehendak agar kita menerima Pancasila usulan Sukarno tanggal 1 Juni 45 sebagai "ideologi negara" bukan saja tidak punya pijakan historis dalam sejarah penyusunan UUD 45, tetapi juga bisa menimbulkan perdebatan baru di antara semua komponen bangsa. Negara ini, seperti dikatakan Sukarno, kita ciptakan satu untuk semua dan semua untuk satu!. Karena itu marilah kita menerima Pancasila sebagai kesepakatan bersama the founding fathers bangsa kita, yang kesepakatan itu juga dicapai atas upaya dan jasa yang luar biasa dari Sukarno yang sangat cinta akan persatuan dan kesatuan bangsa dan jangan memaksakan kehendak suatu pihak atau suatu golongan agar diterima oleh golongan atau pihak lainnya.

Golongan Islam menolak Pancasila diperas menjadi Trisila dan Trisila diperas lagi jadi Ekasila yakni "gotong royong" seperti usul Bung Karno tgl 2 Juni 45. Kalau Pancasila diperas jadi Ekasila maka Tuhan pun diperas menjadi "gotong royong". Ini tidak bisa diterima golongan Islam. Maka dirumuskanlah Piagam Jakarta sebagai kesepakatan tgl 22 Juni 45. Tapi golongan Nasionalis belakangan tidak bisa menerima frasa kata "dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk2nya", maka dirumuskanlah Pancasila dalam Pembukaan UUD 45 yg disahkan tgl 18 Agustus 45. Pancasila tidak diperas2 lagi dan tidak juga ada lagi kata syari'at Islam yg diganti dengan frasa baru Ketuhanan "Yang Maha Esa". Kok sekarang mau pakai Pancasila 1 Juni 45 lagi?

Friday, January 20, 2017

WITH US OR AGAINST US

~Apakah kamu pikir jika kamu bukan anggota FPI, maka kamu akan aman?~

"Buka Mata, Buka Telinga dan Buka Hati"

Sambil nunggu motor saya dicuci, saya mengambil sebuah majalah usang yang disediakan oleh jasa pencucian motor tersebut untuk saya baca…

Saking tuanya sehingga jangankan sampul, banyak halamannya yang sudah robek dan lecek…

Tandanya bahwa pelanggan malas membaca, sehingga pemilik jasa pencucian tidak berminat mengganti majalahnya…

Majalah tahun 90an itu isinya tentang perang Bosnia. Salah satu yang saya ingat adalah sebuah testimoni warga Bosnia di awal-awal berkobarnya perang.

Pemuda itu berkata: "Sebelum pecah perang, kami anak-anak muda kaum Muslimîn di Bosnia hidup dengan cara hidup mereka para pemuda Serbia. Berpesta, fashion, minuman keras, dan segala macam cara hidup mereka. Tak ada yang membedakan kami dengan mereka, kecuali hari Jum‘at dan Hari Raya. Tapi ketika pecah perang, mereka yang dulunya adalah teman-teman kami berpesta, kini memerangi dan membantai kami!"

Selesai.

Saya lalu berpikir, saat ini musuh-musuh Islâm menyerang Islâm tahap demi tahap. Awalnya dengan issue ISIS. Mereka berteriak bantai ISIS karena mereka tahu mayoritas kaum Muslimîn juga tidak setuju dengan ideologi ISIS, sehingga mereka bisa menyalurkan kebencian terhadap Islâm dengan mengatasnamakan kebencian terhadap ISIS.

Setelah itu mereka menyerang FPI, karena praktek amar ma’ruf nahi munkar FPI yang banyak mendapat kritikan, sehingga mereka nebeng menyerang FPI. Padahal sebenarnya yang mereka ingin serang adalah Islâm.

Selanjutnya kejadian kemarin, Sekjen MUI Pusat yang mereka berusaha untuk serang. Mereka mengatasnamakan "Cinta NKRI" dan menuduh Tengku Zulkarnain tidak tahu berbhinneka, sehingga mereka menyerangnya.

Demikian seterusnya…

Maka anda jangan menganggap bahwa jika anda bukan anggota FPI, maka anda akan aman.

Tidak…

Karena mereka akan memerangi kalian selama kalian "Muslim",  walaupun anda Muslim yang sekuler, muslim yang katanya berbhinneka, Muslim yang mengucapakan selamat terhadap hari raya agama lain, Muslim yang mabuk, Muslim yang dukung pemimpin kâfir dlsb.

Atau anda mungkin mengatakan bahwa cara beragama anda lebih hikmah dan lebih lurus dari FPI, maka pasti jika tiba peluang itu, maka anda akan diperangi. Jangankan kalian, bahkan anak bayi kalian pun yang tidak tahu apa-apa, mereka semua akan diperangi!

Atau mungkin anda katakan bahwa anda tidak setuju FPI karena FPI tidak berilmu, tapi yakinlah jika tiba saatnya, maka kalian juga akan diperangi oleh musuh-musuh Islâm itu!

Karena yang mereka benci sebenarnya bukan FPI, bukan yang menuntut Ahok dipenjara.

*Tetapi yang mereka benci adalah Islâm!*

Maka jika anda Muslim, maka anda adalah target mereka.

Jadi pilihan hanya dua: with us or against us.

Bersama kita rapatkan shoff dalam bingkai aqidah Islâmiyah, atau menjadi musuh Islâm itu sendiri.

Tak ada tempat yang ketiga – lâ manzila bayna manzilatain.

Bergabung dengan perahu besar Kaum Muslimîn, karena jika anda hanya mengandalkan sekoci, maka sekejap ia akan hilang ditelan oleg gelombang serangan musuh yang makin membabi buta.

Ingatlah peristiwa inkuisisi di Granada, ketika kaum Muslimîn, baik yang shôlih maupun thôlih diberi pilihan, masuk ke dalam agama mereka atau dibunuh? Tak peduli apakah kaum Muslimîn itu rajin sholât atau rajin mabuk, mereka sama di hadapan Majelis Inkuisisi, karena dosa mereka satu, yaitu: *mereka adalah Muslim*.

Wallôhul musta‘an..

Jika bermanfaat maka sebarkanlah sebagai amal sholeh

Sumber: Fathul Andalush

Wednesday, January 18, 2017

DIABOLISME INTELEKTUAL

*TALBIS IBLIS*
Oleh: Dr. Adian Husaini

Dr. Syamsuddin Arief, alumni ISTAC yang sedang mengambil doktor keduanya di Frankfurt Jerman, beberapa waktu lalu menulis satu artikel yang menghebohkan di hidayatullah.com. Judulnya: "DIABOLISME INTELEKTUAL"

Artikel ini segera menyulut tanggapan keras dari seorang aktivis Islam Liberal, yang segera menuduh bahwa orang seperti Dr. Syamsuddin Arief cenderung punya kelainan jiwa (mental disorder), karena merasa dirinya paling benar dan paling bersih.

Melalui artikelnya, Syamsuddin menjelaskan, bahwa "diabolisme" berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya.

Dalam kitab suci al-Qur'an dinyatakan bahwa Iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis tidaklah atheis atau agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan.

Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen.

Tetapi, meskipun ia tahu kebenaran, ia disebut 'kafir', karena mengingkari dan menolak kebenaran.
Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang. (QS 2:34, 15:31, 20:116); ia sombong dan menganggap dirinya hebat (QS 2:34, 38:73, 38:75). Iblis juga melawan perintah Tuhan.

Allah berfirman: *Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain kepada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim (QS 18:50).*

Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya. Iblis adalah 'prototype' intelektual 'keblinger'.

Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.

*"Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!"* Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64).

Maka Iblis pun bertekad: *"Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17).*

Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, cetakan Beirut, al-Maktabah al-Asriyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).

Selanjutnya, Syamsuddin Arief menelaborasi ciri-ciri cendekiawan bermental Iblis.

Pertama,
selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya. Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya.
Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu.

Kedua,
cendekiawan bemental Iblis itu bermuka dua, menggunakan standar ganda (QS 2:14).

Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha').

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an : *"Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (QS 7:146).*

Ketiga,
ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta.

Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.

Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.
Al-Qur'an pun telah mensinyalir: *"Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka" (QS 22:3-4).*

Demikianlah peringatan dan paparan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri cendekiawan yang bermental Iblis. Peringatan ini sepatutnya menjadi renungan serius bagi para cendekiawan yang benar-benar memiliki niat ikhlas untuk mencari kebenaran, dan bukan saja mencari popularitas dan keuntungan duniawi.

Apa yang dilakukan Syamsuddin Arief bukanlah hal baru. Banyak ulama sebelumnya yang telah memberikan peringatan serupa, tentang bahaya taktik dan tipudaya Iblis dalam menyesatkan umat manusia.

Masalah ini begitu penting, sebab, memang Iblis adalah musuh manusia yang nyata, bukan musuh yang tersembunyi. Iblis dan kroni-kroninya seharusnya diketahui dengan jelas ciri-cirinya.

Imam al-Ghazali menulis satu Kitab Khusus tentang masalah Iblis dan tipudayanya, yang diberi judul Talbis Iblis. Kitab dengan judul yang sama juga ditulis oleh al-Hafizh Ibnul Jauzy al-Baghdady. Dalam Kitabnya, Ibnul Jauzy mengingatkan, bahwa talbis artinya menampakkan kebatilan dalam rupa kebenaran.

Ibnul Jauzy menjelaskan talbis Iblis terhadap berbagai jenis agama dan aliran masyarakat, yang tumbuh dan berkembang ketika itu.

Talbis Iblis, atau tipudaya setan, yang hobinya mengaburkan yang haq dan bathil sangatlah perlu diwaspadai oleh manusia. Apalagi, jika yang melakukan talbis itu orang-orang yang dikategorikan ke dalam golongan intelektual atau cendekiawan.

Mereka dengan segala kemampuan ilmunya tidak ragu-ragu mengikuti jejak Iblis, memutarbalikkan yang haq menjadi bathil dan yang bathil menjadi haq.

Di era kebebasan informasi saat ini, kaum Muslim menghadapi masalah yang sangat pelik, yang belum pernah dihadapi di masa-masa lalu. Nyaris setiap hari, media massa melakukan penjungkirbalikan nilai-nilai kebenaran, dengan menggunakan slogan-slogan atau istilah-istilah yang indah, seperti pluralisme, kebebasan, hak asasi, pencerahan, dan sebagainya.

Paham penyamaan semua agama yang jelas-jelas keliru dibungkus dengan istilah indah: pluralisme. Paham penyebarluasan kebebasan amoral dalam bidang perzinahan dan homoseksual dikemas dengan bungkus rapi bernama hak asasi manusia.

Dengan tipudaya Iblis, khamar  diiklankan dan dijadikan kebanggaan oleh sebagian manusia modern, perzinahan dilegalkan dan tidak dipersoalkan kebejatannya, sementara poligami diopinikan sebagai bentuk kejahatan.

Rasulullah saw pernah mengingatkan: *Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Pada waktu itu di pendusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan dusta. (HR Ibnu Majah).*

Di zaman globalisasi saat ini, diakui, bahwa informasi adalah kekuatan yang paling dahsyat. Penguasa informasi adalah yang menguasai otak manusia saat ini. Mereka dengan leluasa berpotensi memutarbalikkan fakta dan kebenaran.

Di sinilah talbis Iblis dapat terjadi. Yang haq dipromosikan sebagai kebatilan, dan yang bathil dikampanyekan sebagai al-haq. Banyak motif para pelaku talbis Iblis. Bisa karena memang ada kesombongan, ada penyakit hati, atau karena motif mencari keuntungan duniawi.

Dalam situasi seperti ini, peringatan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri pelaku talbis Iblis di kalangan intelektual, sangat relevan untuk direnungkan. Sangatlah tidak tepat jika dia dikatakan mengalami gangguan jiwa.

Tugas para Nabi dan pewarisnya (para ulama) adalah menjelaskan mana yang haq dan mana yang bathil, menyeru umat manusia, agar tidak mengikuti jalan-jalan Iblis, jalan yang sesat, yang mengantarkan manusia kepada api neraka.

Jika ada cendekiawan yang tugasnya senantiasa mengaburkan nilai-nilai kebenaran dan kebatilan, maka ia perlu melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri. Allah SWT sudah menjelaskan: Tidak ada paksaan (untuk masuk) agama Islam. Sungguh telah jelas yang benar dari yang salah. (QS 2:256). 

Sikap merasa benar sendiri terhadap kebenaran agama Islam dan yakin dengan kebenaran al-Islam adalah sikap yang sudah seharusnya. Dalam hal ini tidak boleh ada keraguan. Yang haq harus dikatakan haq dan bathil harus dikatakan bathil. Itulah tugas setiap cendekiawan Muslim.

Allah juga mengingatkan:
Al-haq itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Sikap meragu-ragukan terhadap kebenaran adalah sikap dan perilaku Iblis, yang tidak perlu dicontoh oleh kaum Muslim.