Thursday, October 1, 2015

PENGKHIANATAN PKI TERHADAP BANGSA INDONESIA (Akankah Kita Maafkan?!)

MELAWAN LUPA SETELAH 50 TAHUN PENGKHIANATAN PKI YANG KE -3 KALINYA


BISMILLAH
Tulisan ini di sadur dari catatan Sdr. Syaiful Bachri & ditambahkan pad beberapa bagian sesuai fakta-fakta sejarah, Syaiful Bachri adalah seorang saksi sejarah yang tentu ikut merasakan pahitnya masa-masa kejayaan PKI, menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana PKI telah menghinakan ketuhanan melalui pentas-pentas seni (LEKRA)
Semoga menjadi renungan kita bersama betapa pengkhianatan itu sangat menyakitkan, oleh karenanya tentu kita takkan mau di khianati kembali, maka kita haruslah senantiasa waspada terhadap gerkan-gerakan komunis maupun yang di boncengi oleh komunis, waktu terus berjalan & faktapun bisa diputarbalikan sehingga mencuat isyu bahwaPemerintah harus meminta maaf kepada orang-orang PKI maupun keluarganya dengan dalih HAM 


MENJELANG PRAHARA PENGKHIANATAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA

Gerakan 30 Septermber 1965 oleh Partai Komunis Indonesia dimaknai berbagai macam oleh pihak yang mengalaminya. Pada awalnya, reaksi yang muncul dari masyarakat adalah hujatan kepada organisasi komunis paling awal di Asia ini, karena telah berani melawan negara, sekaligus melakukan pembunuhan terhadap 7 jenderal TNI/AD. Namun sekarang, ada beberapa yang sudah berani menyuarakan lain, khususnya terhadap keluarga korban penangkapan dan penumpasan anggota PKI.
Sebagaian besar mereka mengganggap adalah korban atau yang dikorbankan, bukan pelaku (PKI). Jadi mereka menyalahkan pemerintah dan rakyat yang waktu telah menahan dan membunuh para korban itu. Karena itulah, keluarga mereka menuntut pemerintah untuk minta maaf. Dua pihak yang paling berkeberatan terhadap tuntutan itu, yaitu umat Islam dan TNI, sebab keduanya juga merasakan menjadi korban dari keganasan PKI. Pembunuhan 7 jenderal TNI serta penganiayaan dan pembunuhan sebagian umat Islam oleh anggota PKI menimbulkan kemarahan dan tekad untuk membalas, sehingga PKI ditumpas hingga tidak bisa muncul kembali. Pemerintah dengan resmi telah melarang PKI dan paham komunis hidup di negara Indonesia.
Bagi orang sekarang, apalagi yang tidak pernah mengalami zaman itu, mungkin merasa enteng untuk memberikan kata maaf kepada korban penumpasan PKI (bukan memaafkan PKI), sehingga muncul kisah simpatik dari beberapa sastrawan kita tentang kekejaman TNI dan kelompok rakyat yang membunuh anggota PKI. Namun bagi generasi tua yang pernah mengalami zaman itu, dan merasakan bagaimana mencekamnya menghadapi PKI, maka mereka tidak akan lupa, dan kalaupun agak lupa, mereka akan melawannya. Mereka melawan lupa! Sebagaimana saya alami.
Saya kebetulan bertempat tinggal “di daerah” PKI, yaitu Solo. Kota ini menjadi salah satu basis PKI di Jawa Tenggah. Bisa dibayangkan walikotanya saja anggota PKI. Dalam Pemilu 1955, PKI bersama PNI memiliki mayoritas suara pemilih. PKI terus berkembang di kota ini karena didukung oleh Latar belakang budaya, penduduk kota Solo waktu itu kebanyakan adalah abangan yang kurang meneguhi norma-norma agama Islam. Jadi untuk menjadi PKI, yang dikenal anti agama, mereka gampang sekali terpengaruh partai yang bertanda palu arit ini. Sebagai indikator, mereka dengan biasa saja menonton atau mementaskan ketoprak dengan lakon “Sedane Gusti Allah” (Matinya Tuhan).
Menjelang G-30-S/PKI sudah beredar kabar, kalau PKI menang, “rumah loji Haji Fulan akan menjadi rumah Dadap (Ketua PKI kelurahan setempat)”. “Isteri Pak Anu yang cantik itu nanti akan jadi milik Pak Suto (petinggi PKI kota)”. “PKI anti agama, jadi dilarang orang menjalankan ajaran agama”. “Nanti kalau ada (orang dewasa) yang tidak mau masuk PKI akan dibunuh, dan anaknya menjadi anak negara (komunis)”.
Kabar yang terakhir ini bukan sekadar isapon jempol, tetapi betul nyata, dan dialami sendiri oleh ibuku. Waktu itu ibuku (agak gemuk) sedang hamil tua dalam perjalanan pulang dari rumah nenek, jaraknya sekitar 300 meter. Di tengah jalan bertemu dengan dua anggota Pemuda Rakyat, dan salah satunya berkata dengan keras kepada kawannya, “Wong wedok iki nek dibeleh, getihe okeh” (perempuan ini kalau disembelih darahnya banyak) dia berkata sambil memelototi ibuku. Tentu saja, ibuku yang mendapat teror itu hatinya takut bukan main, dengan gemetaran ibu melangkah lebih cepat pulang ke rumah. Anggota Pemuda Rakyat itu, karena masih tetangga, tahu kalau ibuku adalah istri seorang pembaca Al-Quran (qari) yang sering diundang dalam acara keagamaan di masjid dan ke rapat-rapat besar Masyumi waktu itu.
Sejak itu, ibu takut keluar rumah, dan baru keluar rumah hanya untuk melahirkan adikku di PKU Muhammadiyah Surakarta. Entah ada hubungannya atau tidak dengan trauma ibu ketika hamil, adikku itu sejak kecil sakit-sakitan, dan mengalami step hingga tiga tahun.
(Si Pemuda Rakyat yang menteror ibuku itu dikemudian hari diciduk RPKAD di rumahnya, dan sebelumnya dipukuli dulu oleh rakyat. Saya waktu itu masih kecil, umur sekitar 7 tahun, melihat bagaimana melihat dia melolong kesakitan diseret masuk ke mobil, dan setelah itu kabarnya ditahan di Pulau Buru. Belasan tahun ditahan di Pulau Buru, pulang ke rumah pikirannya kurang waras, sebab dia diketahui pernah mencoba memperkosa istri adiknya. Beberapa tahun kemudian meninggal dengan merana sebatang kara).
Saya tidak akan lupa kisah ini. Saya tidak akan lupa keganasan PKI.


PROVOKASI & TEROR MENJELANG PRAHARA

Menjelang Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia, terjadi beberapa tindakan sepihak yang dilakukan oleh anggota PKI kepada rakyat dan umat Islam. Yang terkenal adalah Peristiwa Kanigoro (gerombolan PKI menginjak-injak Al-Quran dan menganiaya Kiai), Peristiwa Bandar Betsy (pembantaian Pelda Sujono), dan puluhan aksi massa PKI di Jember, Banyuwangi, Malang, Kediri, Blitar, Surabaya, Boyolali, Klaten, Semarang, dan lainnya.
PKI menciptakan berbagai musuh di semua lapisan masyarakat, ada yang disebut kontra-revolusi (anti pemerintahan Soekarno yang mana PKI sangat diuntungkan dalam hal ini), kapbir (yaitu kapitalis-birokrat, yang dimaksud adalah petinggi TNI yang banyak menjabat di pemerintahan atau BUMN), tiga setan kota (1. Kaum kapitalis birokrat, 2. Para pencoleng (manipulator), dan 3. Kuropto) Serta tujuh setan desa (1. Tuan tanah, 2. Lintah darat, 3. Tengkulak jahat, 4. Tukang ijon, 5. Bandit desa, 7. Kapitalis birokrat desa). Belum di kalangan seniman, PKI menteror Kelompok Manikebuis. Juga di kalangan wartawan, guru, olahragawan, akademisi, organisasi wanita, dan lainnya. PKI menteror dan melancarkan provokasi sangat sengit, sehingga lawan tidak berkutik.
Teror dan provokasi dilakukan sudah sampai tingkat RT/RW, nenek saya mengolala pengajian ibu-ibu setiap pekan, selalu dimata-matai oleh anggota Gerwani yang menyusup dan menyamar dengan memakai kerudung seperti jamaah lainnya. Begitu juga setiap gerakan umat Islam di tingkat kampung, PKI merasa perlu untuk mengawasi.
Menjelang bulan September 1965, Mashuri seorang penjaga Gedung Umat Islam di kampung Kartopuran, Jayengan, Serangan, Solo tengah malam dianiaya gerombolan PKI. Mashuri yang kala itu seorang pemuda desa yang bersekolah di SMEA Solo, bukanlah tanding para Pemuda Rakyat (organ kepemudaan PKI). Dia menjerit kesakitan, karena dipukul, ditendang, dan disabet sabuk puluhan orang yang haus darah. Kemudian dia diseret dan dibawa entah ke mana. Keesokharinya dia temukan babak belur di suatu tempat, karena gerombolan PKI yang menyiksanya itu kepergok seorang tentara yang membawa persenjataan lengkap. Gerombolan PKI itu lari, dan kemudian Mashuri dibawa ke rumah sakit dengan luka cukup parah.
Mengapa Mashuri disiksa? Saya baru tahu setahun kemudian. Ternyata, di sebuah rumah di belakang Gedung Umat Islam itu sedang berkumpul beberapa mantan pejuang Hisbullah yang membawa senjata api. Mereka mengadakan rapat karena mencium gelagat PKI akan memberontak. Karena itu, mereka membagi kekuatan yang ada, bersama umat Islam, untuk mempertahankan kampung-kampung masing-masing.
Kebetulan, malam itu seorang keluarga PKI sedang punya hajadan pengantin di Gedung Rahayu, 50 meter arah timur dari Gedung Umat Islam. Sehingga banyak sekali orang-orang PKI mondar-mandir di sekitar Jalan Kartopuran itu. Jam 10 malam lewat, Mashuri yang merasa kepanasan, tidak bisa tidur, sedang duduk di depan rumah tempat berkumpul mantan pejuang Hisbullah itu.
Gerombolan PKI yang menyiksa Mashuri ternyata untuk memancing para mantan pejuang Hisbullah untuk keluar, sehingga mereka bisa beradu senjata. Namun istri pemilik rumah itu mencegah para pejuang ke luar, karena jumlahnya kalah banyak. Begitu juga tetangga kanan kiri, termasuk keluarga saya, yang terletak empat rumah di belakang Gedung Umat Islam, merasa takut dan ngeri, serta tidak berdaya menghadapi hal itu. Maka terjadilah Mashuri menjadi korban penganiayaan PKI.
Sejak itu, umat Islam bergerak, yang kemudian melakukan ronda setiap malam. Ibu dan saudara-saudara saya yang tinggal di Kartopuran, kalau malam sering tidur di rumah nenek di Jayengan Tengah. Sebab kampung itu relatif aman, mayoritas penghuninya kaum muslimin yang anti-PKI.


NYANYIAN GENJER-GENJER MENGIRINGI TARIAN HARUM BUNGA
Apa yang dilakukan PKI menjelang Prahara Gerakan 30 September 1965 adalah mengadakan berbagai acara keramaian rakyat, yang kalau sekarang mungkin disebut pesta rakyat. Keramaian itu selain diisi dengan propaganda dan agitasi komunisme, juga diselingi dengan tarian, nyanyian, dan kadang pentas drama atau ketoprak, sesuai dengan kemampuan anggota PKI setempat.
Saya ingat, meski masih kecil, PKI menyelenggarakan panggung rapat terbuka di Lapangan Kartopuran Solo. Pada waktu siang hari, mereka mengadakan gladi bersih, maka saya ikut melihat persiapan itu sebagai pusat tontonan anak-anak. Acaranya sendiri dilaksanakan malam hari, sehingga anak-anak sudah pada mengantuk.
Nyanyian yang saya ingat adalah lagu “Genjer-genjer”. Kalau tidak salah dulu cara menyanyikannya begini: “Jer gen-jer, neng kedhokan pating keleler....”. Lagu ini sekarang bisa diperdengarkan kembali lewat You tube. Lagu ini asalnya dari lagu daerah Banyuwangi, kemudian diberi notasi musik oleh M. Arief dan dipopulerkan oleh Bing Slamet pada awal tahun 1965. CC PKI bagian kebudayaan meminta jasa M Sutiyoso mengaransemen lagu ini dalam bentuk paduan suara, sehingga dikenal di seluruh negeri.
Konon lagu ini menjadi iringan tarian Harum Bunga yang dimainkan oleh sukarelawan Gerwani dan Pemuda Rakyat untuk mengiringi upacara pembantaian enam jenderal dan satu perwaira di Lubang Buaya Jakarta pada tengah malam sampai pagi subuh. Baris pertama “Neng kedhokan pating keleler” diganti dengan “esuk-esuk pating keleler” sebagai isyarat matinya para jenderal berseragam hijau pada 1 Oktober 1965. Sedang genjer-genjer sendiri adalah sejenis sayuran yang tumbuh liar di di tanah berlumpur.
Ada kabar kontroversial, para Gerwani dan Pemuda Rakyat itu menarikan tari Harum Bunga dengan erotis sambil melakukan penyiksaan kepada 6 jenderal dan satu perwira TNI/AD. Bahkan, isunya, ada yang menyilet kemaluan para jenderal. Cerita ini ingin menunjukkan bahwa pergaulan Gerwani (muda) dan Pemuda Rakyat kala itu memang tidak bermoral dan sering ‘demenan’ (free-sex).
Di lingkungan saya, sering tersiar kabar bahwa pada waktu tertentu beberapa Pemuda Rakyat dan Gerwani muda mengadakan rapat tertutup, tetapi sebetulnya mereka sedang mengadakan pesta seks. Kakak perempuan saya pernah sekali diajak kawannya mengintip sebuah rumah yang sering dipakai rapat tertutup itu. Kakak saya waktu itu umurnya sekitar 12 tahun, dan mengapa bisa mengitip kegiatan di dalam rumah itu? Karena rumah itu dari anyaman bambu (gedheg), sehingga banyak lobang kecilnya.
Tentu saja tidak semua Gerwani muda dan Pemuda Rakyat punya punya kecenderungan demenan, banyak juga yang biasa-biasa saja. Di kalangan PKI ada juga norma susila yang harus ditegakkan, seperti melarang keras perselingkuhan dengan istri teman; dan yang lebih berat lagi, yaitu larangan poligami. Ketua PKI Aidid kala itu sangat marah sekali ketika mengetahui Nyoto, salah satu anggota CC PKI berencana kawin lagi dengan wanita Rusia.


DOKTRIN ANTI TUHAN TELAH DITANAMKAN SEJAK USIA DINI

Partai Komunis Indonesia masuk di seluruh sendi masyarakat, terkecuali satu, yaitu bidang agama. Bidang sosial, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, organisasi kemasyarakatan, dan yang paling penting adalah bidang politik menjadi ajang perjuangan kaum komunis. Tak pula dilupakan bidang pendidikan. Mereka membina lembaga pendidikan dari TK hingga Universitas.
Yang saya ingat waktu itu, anak-anak di TK yang diselenggarakan orang-orang PKI sudah dididik tidak percaya kepada Tuhan. Karena itulah bapak saya memasukkan saya di TK Aisyiyah, TK Islam satu-satunya di kempungku. Pelajaran di TK PKI waktu itu, Ibu Guru bertanya kepada para murid, “Tuhan ada atau tidak?” Murid tidak bisa menjawab. Ibu Guru melanjutkan, “Coba kita berdoa minta kepada Tuhan supaya diberi permen, dikasih apa tidak?” Murid bengong. Ibu Guru menyimpulkan, “Tidak dikasih permen kan? Jadi Tuhan tidak ada.” Murid tetap bengong. “Maka kalau mau minta permen, minta kepada Ibu Guru, nanti aku kasih.” Ibu Guru kemudian membagi permen kepada para murid. Konon kisah ini diulang-ulang setiap hari.
Logika anti-Tuhan ini juga diulang-ulang dalam pertemuan partai bagi orang desa maupun orang kampung. Mereka yang abangan, mengaku Islam, tetapi tidak melaksanakan ibadah sehari-hari sebagaimana dibedakan dengan kaum santri, akan mudah menerima propaganda dan agitasi PKI mengenai paham ateisme.
Strategi kaum komunis waktu itu adalah “berbicara kepada orang lewat perutnya, bukan lewat otaknya”, maksudnya berbicaralah kepada orang-orang lewat kebutuhan pokoknya (terutama makan), barulah mereka akan mudah diajak bicara tentang ideologi. Pada waktu itu tingkat kemiskinan orang Indonesia memang sangat tinggi, sehingga program utama pemerintah adalah Sandang-Pangan-Papan.
PKI selalu melakukan propaganda kepada rakyat yang miskin itu hidup sama rata, sama rasa. Para provokator itu mengatakan bahwa kalau rakyat diperintah oleh PKI, maka tidak akan ada rakyat miskin dan rakyat kaya, semua sama saja: sama rata, sama rasa. Karena harapan komunis itu belum tercapai maka para juru propaganda itu memprovokasi orang-orang PKI untuk menjarah tanah atau hak milik orang kaya. Inilah yang disebut aksi sepihak PKI di berbagai kota di Indonesia.
Kembali ke masalah ateis, kecenderungan PKI untuk berpaham ateis, ternyata sudah dari asalnya, yaitu dari mbah buyutnya, Karl Marx, pencetus paham komunisme. Marx berkata: “Agama adalah kekacauan yang menghadapi jalan buntu dalam kesukaran dan kemiskinan hidup. Agama adalah candu bagi rakyat.” Lenin, pemimpin Partai Komunis Rusia, membeo Marx, “Opium delja Naroda”.
Paham anti-Tuhan Karl Marx diikuti oleh filsof keblinger lainnya, seperti Bebel yang dalam bukunya, ‘Die Frau’ mengatakan, “Bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan dalam otaknya sendiri.”
Saya bersyukur Allah masih melindungi umat Islam dari cengkraman PKI, dan akhirnya setelah PKI dilarang, pemerintah menerapkan terapi jitu untuk menghindarkan anak-anak dari pengaruh ateisme: pelajaran agama wajib diikuti siswa dari TK sampai universitas. Jadi sampai sekarang, setiap lulusan SD pasti bisa shalat ! Karena bagi siswa Muslim, harus lulus praktik shalat dan hafal beberapa ayat pendek Al-Quran serta bisa membaca huruf Arab pada ujian terakhir di SD (negeri maupun swasta). Hal ini akan diperdalam lagi ketika SMP dan SMA.


MEREKA MENJADI PKI KARENA MISKIN

Menjadi pertanyaan, mengapa mereka mau menjadi anggota PKI atau paling tidak terpengaruh paham komunisme? Menurut yang saya amati, khususnya untuk tetangga saya yang terpengaruh PKI, yang utama adalah karena kemiskinan. Kemiskinan itu membuat mereka hidup dalam penderitaan, termasuk tidak bisa sekolah, dan kesempatan kerja yang lebih baik. Dan karena miskin mereka tinggal dalam pemukiman yang kumuh, berdesak-desakan, dan norma-norma masyarakat yang rendah. Mereka kumpul dengan para penjudi, pencoleng, pemabuk, dan penipu.
Selanjutnya adalah kemiskinan agama, sebagaimana ujaran “kefakiran itu dekat kepada kekafiran”. Mereka menganut norma-norma yang sangat longgar, bahkan sesuai cara mereka sendiri. Kebetulan, dalam budaya Jawa, mereka dikenal sebagai kaum abangan, yaitu kaum muslim yang kurang taat. Budaya bawaan itu tertampung dalam wadah PKI, ditambah janji-janji partai yang akan membuat mereka sejahtera: sama rasa, sama rata; membikin mereka semakin militan sebagai anggota maupun simpatisan partai.
Bukti dalam sejarah dunia, keberhasil Revolusi Oktober di Rusia dan Revolusi Komunis Cina karena peran dan dukungan kaum miskin, ditambah karena rakyat sudah tidak kuat menanggung kejamnya Tzar/Kaisar yang menindas mereka. Mereka memberontak dengan harapan akan mendapat suatu pemerintahan yang adil dan makmur sesuai dengan propaganda komunis. Namun kenyataan, mereka kembali tertindas dengan detaktor proletariat, sebagaimana terjadi di Rusia dan Cina pada awal kemenangan mereka.
Namun perlu juga dipertanyakan, mengapa kaum intelektual dan berada, katakan seperti DN Aidit, masuk PKI? Aidit yang masa kecilnya anak kerani yang sejahtera dan sebagai tukang azan di mushala kampungnya, tiba-tiba di Jakarta dia jadi berubah menjadi penganut komunisme. Penjelasan dari hal ini adalah seseorang dalam mengikuti suatu ideologi, selalu sesuai dengan sifatnya. Aidit memiliki sifat radikal, estrem, dan memberontak. Ditambah dengan lingkungan dekatnya membentuk keyakinan ideologinya, maka jadilah dia komunis. Komunis itu memang paham yang radikal, ekstrem, serta memberontak dengan keadaan yang menurut pandangannya tidak adil. Semua itu sesuai dengan sifat Aidit.
Hal serupa bisa diterapkan kepada kaum muda yang sok berpikir Marxis, atau pelanjut PKI di masa kini, mereka hidup dalam sejahtera. Bisa bersekolah hingga universitas dan memiliki masa depan yang cerah bila memasuki pasar kerja, tetapi mengapa memilih “melawan” pemerintah, sehingga membuat mereka dikejar-kejar, diciduk, ditahan, dan “dilenyapkan”.
Mungkin karena 50 tahun tidak ada lagi kesempatan untuk memulihkan PKI, di samping trend komunisme juga pudar di dunia internasional, maka banyak kader muda PKI berdamai dengan keadaan. Mereka sekarang bergabung dengan kekuatan sosial-politik non-komunis. Hal ini mengingatkan kepada teori lama, yaitu taktik block within (taktik aksi di dalam) SI Merah (kemudian jadi PKI) terhadap SI Putih (kemudian menjadi PSII).
Kita tidak akan lupa ! Kita akan melawan lupa!

D. N. AIDIT DI BAI'AT OLEH WIKANA MENJADI KOMUNIS

Saya tidak menemukan sumber yang menyebutkan siapa yang metahbiskan (bai’at) Ahmad Aidit menjadi anggota PKI. Namun dari berbagai bacaan, tokoh yang paling dekat dan dianggap menjadi guru pertama urang awak kelahiran Belitung, 30 Juli 1923 ini, adalah Wikana (1914-1966), pimpinan PKI bawah tanah wilayah Jawa Barat pada awal tahun 1940. Jadi ketika Aidit, anak sulung pasangan Abdullah Aidit-Mailan, sering berkumpul dengan aktivis radikal di asrama mahasiswa Menteng 31. Di sinilah, Ahmad Aidit berganti menjadi Dipa Nusantara (DN) Aidit.
Kelompok Wikana dan Sukarni (kemudian menjadi Ketua Partai Murba) pada 16 Agustus 1945 menculik Soekarno-Hatta ke Rangkasdengklok, tetapi Aidit tidak ikut dalam rombongan ini. Setelah Proklamasi, aktivitas Aidit sebagai Ketua API (angkatan Pemuda Indonesia) Jakarta. API adalah organisasi radikal kelanjutan kelompok Menteng 31. Karena sering mengganggu keamanan yang kala itu di bawah Belanda yang membonceng Sekutu. Aidit tertangkap dan dipenjara di P. Onrus, gugusan Pulau Seribu, selama 7 bulan. Ketika keluar, ibu kota sudah pindah ke Yogyakarta.
Aidit yang di masa kecil menjadi tukang azan di kampungnya, ikuti pindah ke Yogya, selanjutnya pindah lagi ke Solo berguru kepada Alimin (1889-1964), The Old Man of PKI, tokoh PKI ‘awallun’. Di Solo karirnya moncer sekaligus mendapat istri, (dr) Soetanti, anak Wakil Ketua Gerwani. Tahun 1948, menjadi pengurus partai bidang urusan agraria, tetapi setelah Pemberontakan Madiun 18 September 1948, dia terkena razia, ditangkap tentara. Namun kemudian dapat melarikan diri dan menyembunyikan diri di Jakarta. Pemerintah sudah lupa dengan buronannya.
Selama tiga tahun, Aidit dan kawan-kawan, seperti MH Lukman (1920-1966), Nyoto (1925-1965), dan Ir Sakirman berhasil membangun kembali PKI. Dia menjadi Ketua Politbiro Politik PKI, kemudian menjadi Sekjen, selanjutnya bernama Ketua CC PKI. Pada Pemilu 1955, PKI mendapat 6,1 juta pemilih atau 16,4% suara, dan menjadi empat besar bersama PNI-Masyumi-NU. Bahkan menurut catatan terakhir, 1965, anggota PKI 3,5 juta, organisasi komunis terbesar ketiga setelah Uni Soviet dan Cina. PKI tumbuh bak raksasa bertiwikrama.
Apa yang terjadi kemudian, dengan keberhasilan itu justru membuat Aidit menjadi keblinger. Setidaknya dia menjadi bimbang ketika beberapa dokter asal Cina yang memeriksa Presiden Soekarno mengatakan bahwa umur Soekarno tidak akan panjang lagi. Sebab Soekarno menjadi pelindung PKI, hampir semua haluan politik Soekarno menguntungkan PKI, seperti Nasakom dan pengganjangan Nekolim. Kalau Soekarno mati, PKI tidak memiliki patron lagi, maka PKI akan digilas oleh musuh bebuyutannya: TNI dan ormas Islam.
PKI tak kunjung bisa mencapai revolusi sebagai janji-teoritis Marxisme-Leninisme untuk mencapai masyarakat tanpa kelas. Mengharap Pemilu tak kunjung datang, karena Soekarno ingin menguasai kekuasaannya hingga akhir hayat, “Pemimpin Seumur Hidup”. Dan kalaupun ikut Pemilu, PKI belum tentu menang. Sejarah membuktikan bawah partai komunis di manapun – kecuali Chili – tidak pernah menang Pemilu.
Yang lebih membuat Aidit stres, PKI tidak mempunyai tentara dan tidak bakal memiliki tentara sendiri, sebab akan langsung dipotong oleh TNI. Sedang kekuasaan itu muncul – sebagaimana dikatakan Mao Gedong - lahir dari ujung senapan. Maka dipilihnya cara makar/kudeta, yaitu dengan membunuh 6 jenderal dan 1 perwira TNI/AD dengan tuduhan Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Soekarno.
Namun apa yang terjadi? Dalam beberapa hari Pemberontakan/Pengkhiantan G-30-S/PKI terlibas kekuatan TNI/AD beserta rakyat. Semua rencana PKI berantakan, dan raksasa yang bertiwikrama itu bak balon yang kempes hanya dengan satu sundutan rokok saja. Kaki tangan PKI teramputasi di seluruh negeri. Sejarahwan asal Perancis, J. Leclerc, menyebutkan PKI sebagai raksasa berkaki lempung. Aidit lari ke Solo dan tertangkap pada 22 November 1965. Dan baru ditembak mati pada esok harinya, 23 November 1965 di Boyolali.


AIDIT BUKAN KETURUNAN ARAB TETAPI URANG AWAK

Sejak lahir namanya Ahmad Aidit. Nama bapaknya Abdullah Aidit. Apakah nama Aidit ini nama marga, sebagai dikenal di kalangan keturunan dari Hadhramaut Yaman? Seperti Alatas, Asegaf, atau Alhabsyi. Sebab kalau bukan keturunan Arab, mestinya, namanya Ahmad (bin) Abdullah. Begitu juga nama ayahnya, mestinya Abdullah (bin) Ismail. Namun ayahnya tetap memakai nama belakang Aidit, meski kakek Aidit hanya memakai nama Ismail saja, tanpa embel-embel Aidit.
Sekadar tahu saja, nama Aidit itu juga menjadi nama marga dalam keturunan Arab dari Hadhramaut. Tepatnya marga dari keturunan Rasulullah SAW, sehingga di depan nama mereka sering disebut “habib” (untuk laki-laki) dan syarifah (untuk perempuan), dibedakan dengan masyayikh (keturunan orang kebanyakan). Bahkan di kota Tarim, ada nama Kampung Aidit. Di sinilah pesantren Darul Musthafa yang diasuh oleh Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz berada. Dan hampir semua santri maupun mahasiswa asal Indonesia tahu nama kampung ini, sebab di kampung ini berdiam Kampus Universitas Al-Ahqaff yang ratusan mahasiswa berasal dari Indonesia.
Tidak hanya Ahmad yang memakai nama belakang Aidit, semua adiknya juga memakai nama belakang Aidit. Yaitu: Basri Aidit, Mura Aidit, Sobron Aidit, Asahan Aidit. Ahmad Aidit (yang kemudian menjadi Dipa Nusantara Aidit ketika menjadi komunis) memberikan nama belakang anaknya juga dengan Aidit: Ibarruri Aidit, Ilya Aidit, Iwan Aidit, Ilham Aidit, dan Irfan Aidit. Dipa Nusantara Aidit dipilih, karena urang awak asal suku Minang ini, sering orang salah menyebut-nyebut singkatan DN itu “Djafar Nawawi”. Jadi benar kan Aidit itu marga?
Akhirnya terkuak pengakuan Ibarruri Aidit, anak sulung Aidit, bahwa nama Aidit itu bukan marga. Begitu juga ketika Maktab Da’imi Rabithah Alawiyah (lembaga yang mengurusi nasab keturunan Alawiyin) di Jakarta, tidak menemukan silsilah Abdullah Aidit, sebagai keturunan marga Aidit dari Bani Alawiyin (keturunan Nabi SAW). Memang mengherankan, tetapi ini terjadi. Saya dulu pernah menulis status bahwa DN Aidit adalah keturunan Arab bermarga Aidit dari Hadhramaut. Karena itulah, tulisan ini sekaligus meralat tulisan saya yang lalu.
Ketika saya bersekolah di SMA di Solo pernah punya teman bernama Burhanuddin Harahap. Saya kira keturunan Batak, ternyata bahasa Jawanya medhok, dia ngaku berasal dari Gemolong Sragen. “Kakek saya dulu ngefan dengan mantan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap,” katanya. Begitu juga ketika kuliah di UNS Solo, saya punya adik tingkat bernama Saleh Al-Jufri, tetapi dia ngotot mengatakan, “saya bukan keturunan Arab, saya dari Minang.” Al-Jufri adalah salah satu marga habaib dari Hadhramaut Yaman. Ingat dengan nama Presiden PKS sekarang, Dr Segaf Salim Al-Jufri.
Jadi begitulah, sebuah nama punya cerita.


KALAU SUDAH SATU SEMUANYA, PANCASILA TIDAK PERLU LAGI

Kemunculan Aidit dkk dalam membangun kembali partai yang hancur setelah Peristiwa Madiun 1948, merupakan suatu fenomenal. Sebab dalam tiga tahun, dia bersama kaum komunis muda berhasil menegakkan bendera palu arit di Jakarta, dan kemudian menjalar ke seluruh negeri. Hal ini tidak lepas dengan banyak peristiwa politik yang mengaduk negeri, sehingga pemerintah lebih fokus untuk menegakkan republik, daripada mengurus ‘anak-anak durhaka’.
Mengkaji peran Aidit dan Aiditisme, akhirnya mengkaji juga PKI. Sebab Aidit hampir identik dengan PKI. Pikiran dan tindakannya, meski harus melalui rapat partai, tetapi sangatlah mewarnai perjalanan PKI sejak 1950. Aidit melakukan reformasi di dalam partai, dan karena itu pengurus lama PKI dipinggirkan, seperti Alimin, Wikana dan lainnya. Dan partai menampung orang baru yang relatif lebih bersih dari masa lalu (Pemberontakan PKI 1926 dan Pemberontakan 1948), seperti MH Lukman, Nyoto, Sudisman, Sakirman, dan lainnya. Aidit membawa partai lebih luwes, yaitu membentuk front persatuan nasional, dan mengikuti sistem parlementer, daripada pendapat kelompok garis yang menghendaki perjuangan lewat senjata.
Dalam Pemilu 1955, PKI menjadi 4 besar partai yang mengikuti Pemilu, dengan perolehan 6,1 7 juta suara (16%), dengan 39 kursi. Suara PKI lebih besar lagi di DPRD, bahkan PKI mayoritas di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Pada 1965, jumlah anggota PKI suah 3 juta orang. PKI diuntungkan karena mendapat perlindungan Presiden Sukarno. Namun PkI tidak diberikan bagian kekuasaan di Kabinet yang langsung membawahi Departemen Teknis.
Selain PKI berdamai dengan sistem Parlementer, Aidit juga mengembangkan doktrin “MKTB” (Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan). Yaitu: 1. Perjuangan gerilya bersenjata di desa terutama terdiri dari buruh tani dan tani miskin. 2. Aksi-aksi revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota. 3 Pekerjaan intensif di kalangan kekuatan bersenjata (ABRI). MKTB adalah gerakan di bawah tanah yang diserahkan kepada Biro Khusus. Lembaga inilah yang kemudian bersama Aidit merencanakan G-30-S/PKI.
Aidit sangat terkesan dengan perjuangan PKCina di bawah pimpinan Mao Gedong, karena itulah hampir semua buku-buku Bapak Revolusi Cina ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahkan ada yang diterjemahkan ke bahasa Sunda. Hal ini supaya para petani di desa melek ideologi serta metode perjuangan, Mao dikenal dengan strateginya: Desa mengepung kota. Namun sampai akhir petualangan Aidit di tahun 1965, dia belum yakin dengan peran kaum tani dalam revolusi. Karena itu, dipilih cara kudeta untuk merebut kekuasaan negera yang sah.
Petani telah diprovokasi Aidit dalam perjuangan untuk mendapatkan tanah. Karena itu PKI sangat getol memperjuangan Landreform, yang kemudian lahirlah UU Pokok Agraria pada tahun 1960. Radikalisme petani terus digosok, sehingga puncaknya terjadi dalam aksi sepihak. Para petani di desa melakukan penyerobotan tanah milik para tuan tanah dan petani kaya. Imbalan tanah adalah iming-iming yang diberikan PKI bagi perjuangan para petani, seperti Barisan Tani Indonesia dalam semua aksi sepihak mereka. Daerah Klaten Jawa Tengah dijadikan pilot proyek, sehingga banyak terjadi korban di kedua belah pihak.
Menjadi ketua CC PKI menjadikan Aidit banyak menulis dan banyak bicara, tetapi hal itu tidak selalu sesuai dengan kemauannya. Sekali waktu dia pernah kepeleset lidah, dan itu fatal sekali. Pada 16 Oktober 1964, Aidit mengemukakan pandangan tentang Pancasila di depan peserta kursus pendidikan kader revolusi. “Dan di situlah sebetulnya Pancasila sebagai alat pemersatu. Sebab kalau sudah satu semuanya Saudara, Pancasila ndak perlu lagi. Sebab Pancasila alat pemersatu, bukan? Kalau sudah satu semuanya, apa yang kita persatukan lagi?” (Bintang Merah, November-Desember 1964, halaman 7).
Ramai-ramai orang PKI membantah kutipan itu, tetapi memang bukti tidak terelakkan. Perkara diserahkan kepada Pemimpin Besar Revolusi (Sukarno). Karena tidak ada tindakan apa-apa, maka berlalulah kasus ini. Dan baru pada tahun 1965, Aidit tidak bisa lari dari blunder yang dia ciptakan sendiri, mendapat hukuman mati tembak sebagai dalang G-30-S/PKI.


PKI MENJALANKAN TEORI SPONTANITAS ROSA LUXEMBERG
Ketua Komite Sentral PKI DN Aidit melakukan riset ke desa, diikuti 57 anggota Himpunan Sarjana Indonesia (organisasi mantel PKI) pada 11 April sampai 30 Mei 1964 di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hasilnya, menurut mereka, ada 70% buruh tani dan petani miskin di Indonesia. Kesimpulan ini untuk senjata PKI mendobrak kemacetan pelaksanaan UUPA (Undang-undang Pokok Tanah) dan UUPBH (Undang-undang Pokok Bagi Hasil) yang sudah disahkan pada 1960.
Sebetulnya ada udang di balik batu dalam Reset PKI ini, yaitu untuk menjajal kekuatan rakyat desa dalam revolusi. Karena itulah PKI mendorong adanya aksi sepihak yang dilancarkan BTI, Sarbupri, SOBSI, dan Pemuda Rakyat di beberapa daerah di pedesaan. Mereka mencanangkan slogan mengganyang 7 setan desa (tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pemukut zakat), dan 4 bukit setan (imprealis, tuan tanah feodal, kapitalis birokrat, dan kapitalis komprador). Di lain tempat ada juga istilah 3 setan kota (kapitalis birokrat, manipulator, dan koruptor).
Tujuan yang hendak PKI targetkan adalah adanya Landreform, atau dalam bentuk kasarnya, pembagian tanah kepada buruh dan petani miskin yang tidak punya tanah. Di Jawa tidak mungkin terjadi karena sempitnya lahan dibanding banyaknya penduduk. Namun anehnya, mengapa waktu itu PkI tidak mendorong transmigrasi ke luar Jawa yang tanahnya masih luas untuk digarap petani Jawa? Hal ini dianggap tidak menguntungkan, sebab bagi PKI memindahkan para petani revolusioner ke luar Jawa, berarti mengurangi kekuatan partainya. Sedang di luar Jawa, kekuatan PKI sangat mlemah.
PKI mendapatkan angin segar ketika Presiden Sukarno dalam pidato TAVIP 17 Agustus 1964 mengatakan, “Revolusi Indonesia tanpa landreform adalah sama saja dengan omong besar tanpa isi, dan jangan menghadapinya (landreform) dengan komunisto phobi.”
Motor penggerak aksi sepihak adalah BTI dan KTK (Kelompok Tempat Kerja) serta KK (Kursus Kilat) di bawah pimpinan massa aksi. Secara simultan, PKI melakukan aksi sepihak. Dimulai dengan pemogokan buruh PN Barata di Surabaya, padahal ada larangan mogok berdasarkan UU pada waktu itu. Aksi sepihak tani dilakukan di Klaten (kota ini dipilih sebagai pilot project aksi sepihak PKI). Kemudian menjalar ke Jongkol, Banjar, Banyuwangi, Pemalang, Indramayu, Boyolali, dan mencapai puncaknya pada pemenggalan kepala Pelda Sudjono di Bandar Betsi, 14 Mei 1965.
Kelak, setelah G30S/PKI, daerah-daerah yang pernah menjadi sasaran aksi sepihak PKI merupakan daerah yang paling banyak jatuh korban pengejaran dan pembunuhan. Di Jawa Tengah, khususnya daerah Klaten dan Boyolali; di Jawa Timur, khusunya Kediri dan Banyuwangi. Begitu juga di Pulau Bali, aksi balik para penentang mengganyang PKI hingga ke pelosok negeri.
Aksi sepihak lainnya dalam bentuk teror dan sabotase, seperti kecelakaan kereta api di berbagai kota. Akhirnya aparat dapat menangkap pelaku, dan dalam pengakuan mereka mereka dibayar oleh oknum PKI. Begitu di bidang pemasaran barang-barang perdagangan, serikat buruh PKI/SOBSI mempraktekkan teori pembusukan, dalam arti sebenarnya, sehingga banyak barang perdagangan terlambat dikirim atau busuk di tengah jalan.
PKI juga memfitnah para pejabat yang berasal dari TNI/AD di berbagai Perusahan Negara melakukan korupsi. Nasution, waktu itu Wakil Pangab, melancarkan “Operasi Budhi” untuk membuktikan kebenaran tudukan PKI, para tentara di perusahan itu korupsi atau tidak? Ternyata tidak ada buktinya. PKI telah berhasil menjalankan teori spontanitas Rosa Luxemberg: “Untuk mengadakan revolusi kepada massa proletariat cukup diberi rasa dan keyakinan, bahwa keadaannya amat buruk. Dengan demikian secara spontan dengan sendirinya kaum proletar itu akan bangkit”.
Teori Spontanitas Rosa Luxemberg ini juga masih berlaku sekarang, sebagai contoh terhadap Pemerintahan Jokowi. Apabila ada pihak-pihak yang mengail ikan di air keruh, maka mereka akan terus menghadirkan keadaan kita digempur krisis: dolar naik, harga pangan naik, banyak penyalahgunaan di pemerintahan, kerusakan alam akibat ulah manusia, dan terjadi kecelakaan yang terjadi secara wajar atau tidak wajar (sabotase); maka rakyat akan menjadi was-was. Lama-lama rakyat akan histeria dan menganggap keadaan betul-betul telah krisis. Meski tidak sampai revolusi, tetapi akan terjadi kegaduhan, demonstrasi, dan puncaknya penjarahan (semacam aksi sepihak PKI). Di sini, yang paling diuntungkan adalah “musuh negara”. Sebab orang-orang radikal ini baru bisa melancarkan aksinya ketika negara dalam keadaan kacau. Wallahua’lam.


LUDRUK LEKRA MELAKONKAN "MATINYA GUSTI ALLAH"

Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra, berdiri 1950) mengadakan kongres yang pertama di Taman Sriwedari Solo pada 27 Januari 1959, dua bulan sebelum saya lahir. Setelah itu terbentuklah struktur organisasi mantel PKI dalam bidang kebudayaan ini dengan Sekretaris Umum Lekra Yoeboer Ayub, semula dijabat AS Dharta. Hampir setiap tahun saya mengunjungi tempat ini, bukan untuk mengenang Kongres Lekra, tetapi setiap menjelang hari raya, keluarga saya selalu mendatangi Pasar Malem Sriwedari yang ramai dan meriah. Apalagi kalau hari raya, orang akan menyindir, “sana halal bihalal dengan gajah dulu!”
Taman Sriwedari sebelumnya bernama Kebon Raja, Taman Raja. Jadi di situ ada kebun binatang, ada danau kecil dengan pulau di tengahnya. Ada gedung wayang orang, gedung ketoprak, restoran, warung makan, kios mainan anak-anak, cendera mata, pakaian, kerajinan rakyat, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Jadi Taman Sriwedari, selain menjadi taman rekreasi kemudian pasar, sekaligus tempat tempat hiburan. Lengkap sebagai jujugan (destination) orang Solo dan sekitarnya.
Setelah Kongres, Lekra memperkuat struktur organisasi, merubah Mukadimah Lekra, dan menonjolnya semboyan “Politik sebagai Panglima” (dicetuskan Nyoto, Wakil Ketua CC PKI). Harian Rakyat (koran PKI), 8 Maret 1962 menulis, “Lekra adalah organisasi seniman-seniman pejuang atau pejuang-pejuang seniman. Sesuai dengan isi ini, Lekara selalu berlawan, berlawanan terhadap ketidakadilan, berlawan terhadap kepalsuan, berlawan terhadap yang lama adalah syarat untuk membangun yang baru. Untuk memakai istilah Manipolis, Lekra selalu menjebol dan membangun.”
Lekra punya garis organisasi yang mereka pegang teguh, yaitu asas dan metode kerja 1-5-1. Yaitu 1 [Politik adalah penglima – 5 [Memadukan kreatifitas individu dengan kearifan massa, Meluas (sebarannya) dan meninggi (kualitasnya), Tinggi mutu artistik dan ideologi, Memadukan tradisi baik dengan kekinian revolusioner, Memadukan realisme revolusioner (semula realisme sosialis) dengan romantisme revolusioner] – 1 [Turun ke bawah atau turba melalui wawancara, investigasi mendalam terkait dengan kondisi dan harapan masyarakat].
Seingat saya, Lekra/PKI sangatlah getol mengadakan pertujukan tradisional di lapangan dan tempat-tempat umum. Khususnya pertunjukan ketoprak, wayang orang, dan sesekali ludruk dari Jawa Timur. Sebelum mulai mereka menyanyi lagu “Genjer-genjer” dan juga diakhir dengan lagu yang aslinya berasal dari Banyuwangi ini. Sebagai anak kecil saya senang menonton keramaian, tetapi setelah besar saya mendapat cerita bahwa lakon ketoprak yang dipertunjukkan sering kali menghina agama Islam. Seperti Lakon Patine Gusti Allah, Gusti Allah dadi manten, Malaikat Kimpoi (Bersetubuh). Lakon ludruk di Jawa Timur juga mempertunjukan serupa, Gusti Allah Mboten Sare (Tuhan tidak tidur) dan Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan). Lakon terakhir ini membuat seorang anggota Banser Anshor marah, seorang diri dia mengobrak-abrik pentas dan bubarlah pertunjukkan itu.
Sementara di kalangan sastra, sebagaimana diulas oleh Yahya Ismail, sarjana sastra dari Malaysia yang pertama menulis Lekra secara ilmiah, “Pertumbuhan, Perkembangan dan Kejatuhan Lekra di Indonesia” (1972); pengarang Lekra membawakan tema-tema anti-ulama Islam yang dilukiskan sebagai tuan tanah yang kejam, pemeras. Tokoh haji sering kali dijadikan bahan ejekan dan bahan hinaan..... mereka dianggap bodoh, picik serta ketinggalan zaman. Tokoh haji ini diungkapkan pada karya Utuy Tatang Sontani, yaitu “Sayang ada orang lain” dan “Si Kampeng dan Si Sapan”. Pramoedya Ananta Toer menulis “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” yang memperkenalkan watak Musa sebagai pemeras rakyat dan simpatisan Darul Islam.
Lekra menyerang penandatangan Manifesto Kebudayaan, sehingga dilarang pada 8 Mei 1965, tepat ketika saya umur 5 tahun. Kemudian memfitnah Hamka sebagai plagiator, menuduh para dosen di universitas sebagai reaksioner anti-Manipol. Apa yang dilakukan Lekra adalah sejalan dengan politik PKI, karena itulah Ayip Rosidi menyimpulkan bahwa “Lekra bagian dari PKI”. Namun sayangnya, Majalah Tempo karena ingin menarik banyak pembaca muda, meletakkan Lekra di daerah abu-abu, seperti menyebut Pram bukan anggota PKI, meski diakui sebagai bagian dari Lekra.
Kita menjadi was-was. Karena itulah, tulisan ini untuk melawan lupa.


PRAM ADALAH PETUGAS PARTAI

Ada sesuatu yang kontroversial pada diri Pramoedya Ananta Toer (1925-2006, sering disingkat “Pram”), khusus bagi orang sekarang. Betulkah dia anggota PKI? Atau sekadar anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang non-PKI? Bagi orang sezamannya, semacam penyair Taufiq Ismail atau budayawan Ayip Rosidi akan begitu gampang mengatakan bahwa Pram anggota PKI, meski dalam berbagai wawancara Pram mengaku bukan anggota PKI. Mana buktinya?
Kalau yang dimaksud bahwa bukti itu adalah karta keanggotaan partai, maka memang sulit dibuktikan, sebab PKI sendiri menganut asas partai tertutup, sehingga anggotanya dirahasiakan, kecuali yang berhubungan dengan instansi resmi, seperti eksekutif, legeslatif, serta pengurus resmi organisasi yang berafiliasi dengan PKI. Namun dapat dilihat apa yang dilakukan tokoh-tokoh Lekra dalam hasil kerjanya. Tingkah politik Lekra tidak pernah keluar dari orbit politik PKI, bahkah dapat dikatakan politik PKI menjadi kiblat dan anutan Lekra.
Lekra memandang seni merupakan hasil kerja, produk dari aktivitas partai. Bukan seni yang melahirkan kerja, tetapi kerjalah yang melahirkan seni. Karena itulah, bagi PKI seniman Lekra itu adalah pekerja partai. Hal itu tercermin dalam tulisan saya sebelumnya (No. 10).
Pram terpilih sebagai anggota Pimpinan Lekra pada Kongres Lekra I di Solo 1959. Dia kemudian juga dicalonkan sebagai Ketua Lembaga Sastrawan Indonesia. Oleh PPK, PGTI, dan PKI iapun dicalonkan menjadi anggota Dewan Perancang Nasional. Dia juga menjadi redaktur budaya “Harian Rakjat”, koran resmi PKI. Menurut Mahrus Irsyam di majalah Persepsi, III. No 1, 1981, “Pramoedya Ananta Toer terutama memainkan peranan yang cukup berarti karena Pram menjadi jurubicara Lekra dan sekaligus algojo Lekra.” Inilah peran Pram sebagai petugas partai yang telah digariskan oleh ideologi komunis.
Pram banyak berkeliling ke daerah-daerah untuk memberikan ceramah tentang realisme sosialis dan pandangan-pandangannya yang menimbulkan polemik hangat di dunia sastra Indonesia. Roda mesin polemik diputar seefektif mungkin oleh Lekra. Hampir setiap penerbitan media massa Lekra selalu membuka polemik dengan sastrawan-sastrawann elite Indonesia. Pram dan kawan-kawannya tampil dengan tuduhan plagiat atas karya Hamka (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) menjiplak karya Al-Mafaluthi (pengarang Mesir) berjudul Magdalena.
Perkembangan dunia sastra waktu itu begitu muram. Udara di dunia sastra Indonesia menjadi menyesakkan karena asap tebal dari kobaran api yang dinyalakan oleh Lekra/PKI. Goenawan Mohamad melukiskan dengan jitu: “Yang ada cuma 1 revolusi, 1000 slogan, dan 0 puisi”. Lekra memojokkan para sastrawan pada sikap pro atau kontra. Karena itulah, mereka yang non-PKI masuk Lesbumi atau lainnya, sedang sastrawan bebas bertembayat dalam Manifes Kebudayaan 1963 (tetapi dilarang pemerintah pada 1964). Penandatangan Manikebu diganyang oleh PKI, sehingga mereka dikeluarkan dari pekerjaannya, naskahnya tidak diterima di media cetak, dan mendapat cap sebagai musuh pemerintah.
Ada yang mempersoalkan, mengapa Pram ditahan, kan dia tidak terlibat langsung G-30-S/PKI? Memang betul, tetapi Pram ditahan karena perannya sebagai “kompor” (agitasi/propaganda) yang ikut memanasi tindakan PKI, sehingga partai berlambang palu arit ini mengadakan pemberontakan ketiga terhadap pemerintah yang sah. Pemerintah mengklasifikasi tahanan politik/PKI: A, B, dan C. Konon Pram tidak termasuk salah satunya, tapi klasifikasi Pram adalah K, yaitu “Keras”. Memang sejak dulu Pram keras kepala.


ROMAN PULAU BURU MENGGIRING KAUM MUDA KE DOKTRIN MARXISME-LENINISME

Ketika buku “Bumi Manusia” terbit pada 1980, saya tidak begitu tertarik, sebab saya sudah termakan pengaruh buku “Prahara Budaya” Taufiq Ismail & DS Moelyanto sebelumnya. Pramoedya Ananto Toer, pengarang serial roman Pulau Buru itu bertindak kejam kepada lawan-lawannya ketika jaya sebagai Redaktur Budaya Harijan Rakyat (koran PKI).
Teman-teman saya, waktu saya tingkat pertama mahasiswa FISIPOL UNS Sebelas Maret Surakarta, heboh ingin membacanya. Namun ketika ada pelarangan dari Kejaksaan Agung pada 1981, saya jadi penasaran untuk mencari buku itu.
Yang pertama saya catat, Pram (panggilan Pramudya Ananta Toer) setelah keluar dari tahanan Pulau Buru berganti ejaan namanya. Dulu ketika saya pertama kali membaca romannya yang apik, “Keluarga Gerilya”, dia menulis namanya: Pramudya Ananta Tur. Kayaknya, Pram ingin dilihat sebagai Pram yang baru. Dan memang, “Bumi Manusia” ditulis tidak dengan realisme romantis sebagaimana dulu tetapi ditulis dengan realisme sosialis tetapi dengan gaya ‘racy’ (berbumbu-bumbu dan ringan).
Mengapa begitu? Pram ingin menulis serial romannya ini untuk generasi muda yang tidak tahu banyak tentang ideologinya, komunisme. Dan generasi muda saat itu, dan mungkin juga masih pada waktu sekarang, adalah mereka yang mempunyai sikap tidak bersahabat dengan golongan establishment, penguasa dan orang tua. Mereka tidak puas dengan keadaan sosial atas dasar pertimbangan moral dan kemanusian, sehingga sifatnya lebih merupakan critical realism. Mereka tidak mempersoalkan sisem. Mereka hanya mempersoalkan moral dan keadilan.
Keadaan ini, usaha mencapai pembaca muda yang diusahkan dalam penulisan roman Pulau Buru, lebih berbahaya bila diperhatikan lagi keadaan aygn di sekitar kehidupan remaja kini. Mereka tidak pernah merasakan hidup pada masa kejayaan komunis di Indonesia, padahal mereka mungkin merasa tidak puas dengan kehidupan yang dialami sekarang.
Mereka lebih bersifat kritis terhadap keadaan dan penguasa sekarang dan membutakan diri terhadap keburukan rezim yang lebih dahulu, ketika komunis begitu jayanya. Seperti juga kerinduan mengingat Soekarno. Orang lebih terpukau oleh “kebaikan” dalam ajaran Soekarno, tapi melupakan keburukan pelaksanaan politik Soekarno di masa lalu.
“Bumi Manusia” sebagai salah satu contoh Roman Pulau Buru, penuh dengan kisah pertentangan kelas dan perjuangan yang memang didasarkan kepada doktrin Marxis-Leninisme yang kental. Di situ tidak diperhitungkan tentang moralitas, sehingga pelakunya ateis dan tidak merasa berdosa atau bersalah dengan perbuatan maksiat. Ini jelas berbeda dengan roman-roman Pram sebelum di Lekra, seperti “Keluarg Gerilya”, “Perburuan”, “Bukan Pasar Malam”, dan lainnya.
Jadi kepada para generasi muda yang menganggap bahwa Roman Karya Pulau Buru itu sebagai karya sastra biasa, adalah suatu kesalahan. Dalam membaca karya sastra, terutama roman yang bertemakan sosial-politik, semata-mata sebagai peristiwa sastra belaka adalah perbutan yang dungu!
Sedang tentag kisah Pram sebagai orang yang keras kepala adalah suatu cerita yang umum di kalangan sastrawan. Hal ini bermula dari rasa marah dan dendamnya kepada ayahnya yang telah mentelantarkan ibunya, dan kawin lagi dengan wanita lain, sehingga keluarganya menjadi miskin menderita.
Dendam kepada orang tuanya itulah yang kemudian memacu bakat alamnya untuk menulis. Pram justru cemerlang sebagai penulis ketika dalam penderitaan tahanan, tetapi ketika bebas karya tulisnya justru ceblok. Malah dalam masa jaya dia di Lekra, karya tulisnya hampir sama dengan pamflet penuh dendam amarah kepada pihak yang tidak disukainya, sebagaimana dia dendam dan marah kepada mendiang bapaknya.


PKI TELAH MELAKUKAN PENGKHIANATAN TIGA KALI (akankah kita biarkan berulang lagi)

Bulan September terjadi peristiwa yang mencekam di hati bangsa Indonesia, khususnya pada Peristiwa Gerakan 30 September 1965 oleh PKI. Peristiwa ini adalah gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI terhadap negara Indonesia. Meski ada banyak analisis tentang peristiwa ini, saya tetap pada keyakinan bahwa ini adalah gerakan pemberontakan yang sudah sepantasnya kita tumpas dan tidak akan muncul kembali.
Pengkhianatan PKI tidak hanya terjadi sekali, tetapi sudah tiga kali, yaitu pertama pada tahun 1926, dan yang kedua pada tahun 1948 atau yang dikenal dengan Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di Madiun 1948). Dan yang terakhir, G-30-S/PKI. Buku berjudul “Rangkaian Peristiwa Pemberontakan Komunis di Indonesia 1926-1948-1965” terbitan Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakat (1988), mengunkap tiga peristiwa itu dengan singkat dan padat.
Kalau sekarang banyak pihak mendesak kepada pemerintah untuk meminta maaf, khususnya kepada korban penumpasan PKI oleh TNI dan rakyat, tetapi tidak menghilangkan hakekatnya bahwa kita tidak akan memberikan maaf kepada PKI, sekaligus tidak memberikan kesempatan satu menitpun kepada PKI untuk bangkit lagi. Maaf kepada korban penumpasan PKI dan maaf kepada PKI adalah dua hal yang berlainan.
Dua pihak yang paling tersinggung ketika ada pihak-pihak tertentu yang membuat rancu istilah pemberian maaf kepada korban penumpasan PKI dan Pemberontakan PKI. Pihak pertama adalah organisasi keagamaan, khususnya umat Islam, tidak akan rela memberikan maaf kepada PKI karena merekalah sasaran utama dari pengganjangan PKI. Pihak kedua adalah TNI, khususnya Angkatan Darat, yang menjadikan PKI sebagai musuh bebuyutan karena PKI telah membunuh 6 jenderal TNI/AD dengan kejam.
Kalaupun pemerintah memberikan maaf kepada korban penumpasan G-30-S/PKI, mengapa tidak juga dilakukan hal serupa, bagaimana dengan korban PRRI/Permesta, korban DI/TII, korban Tanjung Priok, korban Way Kambas, dan korban lainnya. Semua punya hak sama, yaitu sama-sama sebagai korban. Pemerintah perlu berpikir dua kali untuk memberi maaf kepada korban-korban politik di masa lalu.
Namun kita salut kepada pemerintah yang telah mengantisipasi bila PKI atau paham komunis kembali di Indonesia. Pertama yang patut kita catat adalah Pelarangan PKI dan ajaran komunis di terapkan di Indonesia. Kedua, diberlakukannya pelajaran agama sejak SD hingga universitas, sebagai tameng dari paham komunis yang ateis dan menghalalkan segala cara. Dan ketiga, dilaksanakannya kembali Pancasila dengan konsekuen, meski dalam perjalanan mengalami berbagai banyak kendala.
Kita tidak akan melupakan Pemberontakan G-30-S/PKI selamanya. Kalaupun oleh beberapa pihak sengaja “dilupakan”, kita akan melawannya! Kita akan terus ingat dan sejarah membuktikan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik kita semua.


KETERLIBATAN GERWANI, GERWANI AGUNG DAN "LONTE AGUNG”

Perkenalan saya dengan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) bermula dari cerita kakak perempuan saya yang pernah mengintip rapat tertutup antara anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat di kampung. Ternyata, mereka tidak hanya rapat biasa, tetapi dilanjutkan dengan pesta sex di antara mereka.
Kedua, dari cerita ibuku tentang Nono N, seorang gadis montok yang setelah menikah menjadi penjual makanan lauk pauk. Kata ibu, dulu dia – teman sekolah Letkol Untung, komandan Cakrabira yang ketika kecil belajar di SD Jayengan kampung Kartopuran Solo, disinyalir ikut Latihan Gerwani di Lubang Buaya. Nona N ketika muda dikenal sebagai wanita “kendel“ (berani, tetapi punya arti khusus, yaitu liar dan berani nyrempet bahaya). “Untungnya kok selamet, tidak ikut diciduk seperti anggota Pemuda Rakyat lainnya (yang ikut ke sana),” ujar ibuku.
Image Gerwani bagi saya memang sangat jelek, ditambah lagi dengan cap dari orde Baru bahwa Gerwani sebagai “sekelompok perempuan jahat, liar, komunis, dan kejam” Istilah Yosepha Sukartiningsih dalam buku “Tahun yang Tidak Pernah Berakhir”, 2004). Dan saya membaca sejarah Gerwani juga berkesan begitu.
Pada 4 Juni 1950 tergabunglah 7 organisasi gerakan wanita di kota Semarang, yang mana anggotanya berasal dari kalangan wanita yang berintelektual. Namun tidak tertutup kemungkinan wanita dari kalangan bawah, yang penting memiliki tujuan yang sama. Kongres I dilaksanakan pada tanggal 17 – 22 Desember 1951 di Surabaya yang dipimpin oleh Suharti, pada kongres ini disepakati gerakan Gerwis - gabungan 7 organisasi wanita tadi - berubah nama menjadi Gerwani.
Kongres 2 dilaksanakan pada Maret 1954 yang diketua Umi Sarjono. Geerwani mengalami pertumbuhan pesat hingga mencapai 80.000 anggota. Kongres 3, yang dilaksanakan pada 23 – 27 Desember 1957 anggota Gerwani mencapai 631.342 anggota. Kongres 4 yang dilaksanakan pada Desember 1961, anggota Gerwani 1.125.000 orang.
Pada tahun 1965 Gerwani ingin melaksanakan kongres yang ke V, tapi tidak kesampaian karena keburu PKI mengadakan G-30-S dan Gerwani dianggap sebagai patner PKI ikut ditumpas dan dilarang. Rezim Soeharto memberikan stigma Gerwani sebagai organisasi terlarang, organisasi yang anggotanya adalah pelacur, organisasi bangsat dan ateis yang tidak mencerminkan wanita Indonesia yang lemah lembut, serta berbudi baik. Hal ini dikarenakan Gerwani terlibat pembunuhan 7 Jenderal di lubang Buaya, Mereka diduga melakukan tarian seks, siksaan, pemotongan alat kelamin. Belakangan banyak aktivis Gerwani dan peneliti yang menolak tuduhan ini.
Tujuan Gerwani sejalan dengan PKI, sehingga Gerwani dan PKI sama secara ideologisnya. Antara lain anti imprealisme, yaitu adanya investor asing, penayangan film AS yang akan merusak moral, dan kepentingan asing yang akan merugikan Indonesia. Gerwani telah tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, Bali, Jawa, dan Irian Jaya.
Pada awal organisasi Gerwis, terlihat aroma komunis yang kuat. Dikarenakan sebagian besar perempuan Gerwis memiliki hubungan keluarga dengan kaum komunis. Umpamanya, Aidit adalah menantu dari Wakil Ketua Gerwani. Kemudian istri Aidit juga menjadi pimpinan Gerwani.
Keterlibatan Gerwani dengan peristiwa G-30-S/PKI pada 1965 terlihat ketika Suharti Suwarno wakil ketua DPP Gerwani (juga seorang anggota Central Comitte PKI) datang dan mengatakan bahwa dibutuhkan beberapa orang untuk latihan Dwikora di Lubang Buaya. Mereka terheran karena tidak biasa dalam kegiatan Gerwani dan tidak diungkapkan dalam rapat sebelumnya. Di lokasi pun mereka bertugas menyiapkan konsumsi. Namun dipihak lain tidak terlalu aneh jika untuk kepentingan para Gerwani akan mengutus anggotanya.
Dalam kasus Gerwani ini, Hersri Setiawan, mantan Sekretaris Umum Lekra Jawa Tengah , menulis dalam “Kamus Gestok” (2003), Hartini istri Presiden Sukarno mendapat gelar Gerwani Agung. Konon Hartini adalah anggota Gerwani yang tidak diumumkan, sekurang-kurangnya menyumbang dana yang setia kepada organisasi perempuan yang dicap komunis. Para demonstran mencoret-coret di tembok rumahnya di Bogor, Hartini ditulis sebagai “Lonte Agung”.
Menurut Hersri, sebelum menjadi istri Bung Karno, Hartini adalah istri Suwondo, dokter dan pegawai pertamina. Konon ketika itu, semasa tinggal di Salatiga Jawa Tengah, ia didesas-desuskan menjadi kekasih gelap Gatot Subroto (1907-1962). Almarhum Gatot Subroto berpangkat terakhir jenderal TNI, pernah Gubernur Militer Karisidenan Semarang dan Surakarta (1948), dan pernah menjadi Panglima Teritorium Jawa Tengah.
Isu perempuan dan seks memang lazim untuk menjatuhkan lawan politik. Begitulah yang dialami zaman dulu (dan juga sekarang)!


PKI, THE ROAD FROM SEMARANG

Kebetulan saya pindah rumah dari Solo ke Semarang tahun 1990. Saya merasakan dua kota ini kental sekali dengan peninggalan sejarah PKI. Arnold C Brackman memulai bukunya yang berjudul “Indonesian Communism: A History” dengan judul bab pertamanya: “The Road from Semarang”. Memang buyutnya PKI bermula dari Semarang. Sementara kota Solo, dulu jadi pemusatan kaum kiri ketika Ibu kota Pindah dari Jakarta ke Yogyakarta tahun 1946. Di kota ini ada Marx House, sekolah komunis. Di kota ini Aidit menikah dan juga kemudian ditangkap TNI.
Kota Semarang adalah kota dagang, di kota inilah pada tahun 1913 kemudian HJFM Sneevliet, seorang Belanda sosialis radikal mencari kerja di sebuah perusahaan. Dia menemukan tanah Indonesia ini “fertile soil in which to plant the Marxist idea of society divided, Aristotelian fashion, into two camps: the oppressed (proletarians) and the oppressor (bourgeoise).” Ya memang tujuannya untuk menyebarkan paham komunis di Indonesia.
Karena itulah dia mendirikan ISDP, menerbitkan majalah, dan merekrut anak negeri, di antaranya Semaun, Alimin dan Darsono yang kemudian menjadi pimpinan PKI pada awal berdiri di Indonesia. Sneevliet terus mempropagandakan komunisme hingga dia diusir dari Indonesia pada tahun 1918. Nah di Semarang ini pula orang-orang komunis binaan Sneevliet mendirikan Partai Komunis di Hindia pada 23 Mei 1920 yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Keberhasilan kaum komunis mendirikan partai, karena mereka selama ini bersembunyi dalam Partai Syarikat Islam, akhirnya pecah menjadi SI Putih (Cokoroaminoto) dan SI Merah (PKI yang kemudian dipimpin oleh Semaun). Kaum komunis melakukan strategi block within, yaitu berada sementara di sebuah partai non-komunis, dan setelah kuat, mereka menyempal dan menyatakan diri sebagai kaum komunis dan mendirikan PKI. Hal serupa dilakukan Partai Komunis Cina ketika bergabung dengan Kuomintang. Di masa sekarang (2015), dinyalir ada beberapa orang kiri yang bersembunyi dalam partai besar, dan menunggu kesempatan untuk membangkitkan kembali PKI.
Di mana tepatnya kaum komunis itu mendeklarasikan PKI di Semarang? Anggota SI Merah itu mendeklarasikan PKI di Gedung SI (Merah) Semarang (di Kampung Gendong, Sarirejo, Kota Semarang) yang sekarang sudah dipugar oleh Pemkot Semarang atas desakan Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang. Saya curiga gedung ini dipugar bukan karena di gedung ini pernah berdiri Sekolah Tan Malaka, tetapi nilai historis tertinggi gedung ini adalah tempat proklamasi PKI. Tahun 1921, Tan Malaka pernah mendirikan Sekolah Tan Malaka di sini. Yaitu sekolah yang mendidik anak negeri menjadi kader komunis, dan murid yang menonjol akan dijadikan pengurus PKI di berbagai kota di Indonesia. Sekolah itu secara umum bukan untuk mencerdaskan bangsa tetapi semata-mata untuk meracuni anak negeri dengan paham komunisme.
Jadi, tegasnya, nilai gedung itu bukan pada bekas menjadi kantor SI (Merah), tetapi karena gedung itu merupakan tempat kelahiran PKI. Sebab kalau gedung itu dipugar karena di tempat itu pernah berjasa berdiri Sekolah Tan Malaka, di Semarang juga ada tempat yang lebih bersejarah, yaitu Pondok Pesantren Kiai Saleh Darat yang muridnya berhasil mendirikan dua organisasi besar di Indonesia, Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari (NU) dan KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Sampai sekarang rumah Kiai Saleh Darat yang asli (sudah mulai rusak) masih ada, tetapi tidak tersentuh pemugaran sedikit pun oleh pemerintah.
Dan dalam sejarah terbukti kota Semarang termasuk salah satu “kota PKI”, dalam arti PKI mendapat suara mayoritas dalam Pemilu 1955 dan Pemilukada 1957 di kota Semarang. Di kota ini, Aidit pernah bersembunyi dua hari setelah G-30-S/PKI bersama MH Lukman dan Sudisman untuk menyusun penyelamatan PKI dari tuduhan sebagai pemberontak. Karena itu, ketika RPKAD mengadakan pembersihan PKI di Jawa Tengah, kota Semarang termasuk yang pertama menjadi targetnya.
Apakah orang-orang PKI di Semarang itu telah menurunkan gen-gennya kepada keturunannya secara biologis maupun ideologis. Wallahua’lam. Kita hanya melihat tanda-tanda itu, tetapi setelah 50 tahun G-30-S/PKI berlalu, dan tekad kuat pemerintah dan rakyat untuk melarang PKI timbul, maka kecil kemungkinan partai terlarang itu bangkit lagi. Yang ada hanya segelintir orang yang dengan pikiran-pikiran nakal bersimpati dengan paham Marxisme mengadakan demo, protes, menulis buku, seminar, diskusi dan kumpul-kumpul di pojok gelap. (*).
(Bersambung: “Solo dan Semarang , Kota-kota PKI di Masa Lalu”).
- Keterangan Foto: Buku Indonesian Communism (atas) dan Gedung SI (Merah) yang telah dipugar


SEMARANG & SOLO, "KOTA-KOTA PKI DI MASA LALU

Apa yang dimaksud dengan “kota PKI”, secara mudahnya adalah kota-kota yang dikuasai oleh PKI atau dalam Pemilu/Pemilu Daerah mendapat mayoritas suara, sehingga keberadaannya sangat mewarnai kota tersebut. Misalnya kota Semarang dan kota Solo, sebagai contoh di antara kota PKI di masa lalu. Sebab hampir semua kota di Jawa Tengah, PKI mendapatkan suara mayoritas.
Dalam Pemilu 1955 untuk anggota DPR, PKI di Semarang mendapat 5,2 % suara dari seluruh pemilih di Jawa Tengah. Dibanding gabungan partai Islam 4,5 % dan PNI 2,5 %. Di Solo, PKI mendapat 8,3 %, partai-partai Islam 2,8 %, dan PNI 6,8 %. Pada tahun 1958, ketika pemilu diadakan untuk kursi DPRD, di Jawa Tengah PKI mendapat 2,7 juta, PNI 2,2 juta, NU 1,7 juta, dan Masyumi 0,7 juta. Di kota Semarang, Surabaya, Madiun, Malang, dan Solo PKI menang mutlak.
Mengapa PKI menang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur? Menurut analisis Herbert Feith, ahli politik dari Australia, “PKI berkembang sebagai partai terkuat di pantai utara Jawa Tengah, yaitu di keresidenan Semarang, dan empat keresidenan di pantai selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Madiun, dan Kediri. Di semua daerah tersebut, golongan abangan merupakan mayoritas”. Jadi kunci kemenangan PKI karena didukung oleh orang-orang abangan, sementara untuk priyayi biasanya mendukung PNI.
Abangan adalah orang Islam yang tidak menjalankan syariat Islam dengan teguh, seperti shalat, puasa, haji, dan lainnya. Jadi mereka ada kedekatan dengan paham komunisme yang cenderung ateis. Ini gembaran pada waktu itu, abangan adalah orang yang tidak terdidik secara literasi sebagai orang Islam, karena itu mereka menjalankan adat yang turun-temurun tetapi tidak mereka ketahui hakekatnya. Sekarang boleh dikatakan tidak ada orang abangan, sebab hampir semua orang Islam itu mempelajari Islam secara leterasi. Sejak kecil ikut TPQ atau kalau di SD dia terkena pelajaran wajib agama, yang salah satu indikatornya adalah harus bisa praktik shalat dan ajaran dasar lainnya ketika lulus dari SD.
Kota Semarang, kita tahu sebagai kota tempat lahirnya PKI. Partai berlambang palu arit ini diproklamirkan di Gedung SI Merah Semarang pada 23 Mei 1920. Dalam beberapa kali kongres PKI, kota Semarang mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah yang pertama pada 1921, dan Solo untuk kongres ke-4 pada tahun 1947. Banyak birokrat yang duduk dalam pemrintahan maupun TNI, beberapa asisten Kodam VII Diponegoro anggota PKI. Begitu juga Letkol Untung dulu juga berasal dari Kodam VII Diponegoro. Sementara kota Solo adalah kota yang dinamis, pada waktu Ibu Kota pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, kota Solo menjadi pilihan kaum oposisi, khususnya kaum kiri untuk berkumpul. Aidit juga pindah ke Solo dan menerbitkan majalah partai di Solo. Di kota ini, Aidit berguru komunisme kepada Alimin (The Grand Old Man of PKI), serta pacaran kemudian menikahi istrinya sebelum Pemberontakan PKI di Madiun, 18 September 1948.
Penguasa militer kota Solo waktu itu, Kol Sutarto adalah komunis binaan Alimin. Dia mati dibunuh PKI karena tidak mau ikut Pemberotakan PKI Madiun. Konon Letkol Supriyadi juga binaan komunis. Karena itulah menjadi kendala baginya dalam menerim gelar pahlawan, sehingga tertunda bertahun-tahun. Di Solo ada lembaga pendidikan Marxis yang diberi nama Marx House di daerah Kleco. Di lembaga pendidikan yang dipimpin oleh Syamsuddin, orang Minang mantan Digulis inilah puluhan kader PKI digembleng. Dan puncaknya pada tahun 1965, perkembangan PKI bertambah pesat berkat wali kota Solo Oetomo Ramelan (adik Ny Oetami Suryadarma) yang anggota PKI. Dialah kepala daerah pertama di Indonesia yang melegalisir pelacuran di daerahnya, yaitu Lokalisasi Pelacur Silir (dan ditutup Jokowi ketika jadi walikota Solo). Di kota ini saya dilahirkan dan menyaksikan sebagian kecil keganasan PKI dan kemudian Pengganyangan PKI hingga ludes.
Mungkin Anda bertanya, apakah orang-orang PKI itu juga menurunkan “gen-gen komunisme” kepada keturunannya sekarang ini? Wallahua’lam. Memang, kita ikut bersedih anak-anak atau keluarga yang tidak tahu apa-apa itu harus menyandang cap sebagai anak atau keluarga pemberontak. Meski ada juga yang kita heran, ada yang bangga menjadi anak PKI, seperti RIBKA CIPTANING yang sangat bangga menjadi anak PKI. Kita hanya bisa menghukumi lahiriahnya, tetapi tidak bisa menghukumi batiniahnya. (*)


PKI TEST CASE DI SOLO SEBELUM MEMBERONTAK DI MADIUN
Pemberontakan PKI di Madiun 1948, merupakan pengalaman gagal kedua PKI merebut kekuasaan yang sah. Persoalan hampir sama, PKI selalu saja terperosok pada lubang yang sama, yaitu terburu-buru dan under estimate. Ketika sejarahwan asal Peracis Jacques Leclerc mengatakan bahwa PKI Aidit sebagai raksasa berkaki lempung, maka PKI Muso lebih lagi, “raksasa berkaki agar-agar”. Ketika bergerak sedikit sudah jatuh, sebab anggota di bawah tidak memberikan dukungan ketika PKI melancarkan gerakan, sehingga para pemimpin PKI dan aparatnya pontang-panting ketika dihajar TNI dan rakyat yang anti-PKI.
PKI yakin bahwa kekuasaan itu tidak jatuh dari langit, tetapi mengikuti tesis Mao Gedong, kekuasaan itu harus diperjuangkan lewat senjata. Muso yang baru datang dari luar negeri, membaca situasi di Indonesia, sebagaimana terjadi di Uni Soviet. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Lenin tidak langsung mendirikan negara komunis Rusia setelah mengalahan Tsar Rusia. Tsar jatuh lewat kekuatan bersama antara penentang Tsar dan kaum komunis Rusia di bawah pimpinan Kerensky. Baru beberapa tahun kemudian Lenin datang dari Swiss menjatuhkan Kerensky. Muso ingin berperan serupa dengan Lenin, dia menganggap negara yang diproklamasikan Soekarno-Hatta pada Revolusi 1945 sebagai negara kaum borjuis-kapitalis, karena itulah Muso dan kawan sejalan melakukan pemberontakan Madiun 1948 untuk mendirikan negara proletariat yang dipimpin oleh kaum komunis.
Pemberontakan di Madiun sudah direncanakan kaum kiri ini sejak lama, sebab sebelum memberontakan mereka telah memikirkan tempat pelarian kalau gagal. Dan dipilihnya Madiun itu karena di tempat itu jauh dari pusat kekuasaan, dan diperkirakan akan mendapat dukungan kuat dari rakyat setempat. Untuk memulai pemberontakan, maka harus dimulai dengan adanya “gara-gara”. Kebetulan di Solo, berkumpul berbagai macam kekuatan pada awal tahun 1948. Ada kekuatan kiri, seperti Pesindo, Barisan Banteng, para pemimpin PKI sendiri yang baru saja mengadakan Kongres ke-2; juga kekuatan non-kiri seperti tentara Siliwangi karena konsekuensi Perjanjian Renville harus hijrah ke daerah republik, di antaranya ke kota Solo. Di samping di Solo sendiri ada kekuatan militer setempat yang condong kepada kaum komunis.
Kota Solo menjadi wild west bagi berbagai kekuatan tentara maupun kelaskaran, pertarungan politik bagai kaum kanan dan kiri. Terjadi kekacauan setiap hari karena pembunuhan atau penculikan. Tercatat, Dr Muwardi pemimpin Barisan Banteng diculik dan dibunuh sampai sekarang tidak diketemukan kuburannya. Begitu juga Kol Sutarto, Komandan Devisi IV/Panembahan Senopati yang membawahi kota Solo dan sekitarnya, dibunuh anggota PKI karena menolak ikut PKI untuk memberontak. Meski Kol Sutarto adalah pengikut komunis binaan Alimin, pemimpin PKI pada tahun 1920-an. Sebagian tentara Siliwangi karena tidak kuat provokasi PKI, memutuskan meninggalkan kota Solo karena kawatir dengan adanya pembunuhan dan penculikan.
PKI memang sengaja membuat kacau kota Solo. Sebab hal ini merupakan test case kekuatan PKI dalam menghadapi lawan yang sesungguhnya di Madiun kelak. Merasa mendapat angin dalam percobaan di Solo, Muso yang baru datang dari luar negeri langsung memutuskan Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948. Apa yang terjadi? Pemberontakan gagal karena tidak didukung rakyat, dan tentara PKI kalah dan melarikan diri di daerah Surakarta Selatan, di mana TNI dan rakyat anti-PKI telah menyediakan tempat itu untuk “ladang pembantaian”.
Pemberontakan PKI di Madiun merupakan pengalaman buruk kedua PKI dalam merebut kekuasaan. Namun ketika 1965, PKI di bawah pimpinan Aidit kembali mencoba ingin merebut kekuasaan dari tangan pemerintah yang sah. Mengulang kesalahan sama, terburu-buru, tidak koordinasi rapi dari atas hingga ke bawah, dan salah memilih moment. Semua perbuatan keblinger itu membuat blunder bagi PKI bagaikan bumerang yang menyerang tuannya sendiri. (*).


PEMBERONTAKAN PKI KE-2 DI MADIUN 18 SEPTEMBER 1948
Pukul 08.00 tanggal 18 September 1948 tiga tembakan menandakan dimulainya pemberontakan PKI di bawah kepemimpinan Muso untuk mendirikan pemerintahan soviet di Madiun. Daerah ini ditandai seperti Jenan bagi komunis Cina.
Detasemen-detasemen merah merebut gedung-gedung pemerintah dan militer, kantor polisi, bank, kantor pos dan telepon. Beberapa orang tentara gugur. Bendera merah di tengah ada gambar palu arit dikibarkan. Orang-orang PKI itu menganggap revolusi telah berjalan dengan sukses.
Lewat Radio Madiun, Sumarsono, komandan Pesindo mengatakan, ‘Madiun telah bangkit, Revolusi telah dimulai. Rakyat telah melucuti polisi dan tentara. Buruh dan tani telah membentuk pemerintahan baru. Pemerintah Soviet. Senjata tidak akan dilepaskan sampai seluruh Indonesia dibebaskan!” Presiden Soekarno lewat Radio Yogya, “Aku persilahkan pilih Muso dengan partai komunisnya, atau Soekarno-Hatta, yang insya Allah akan memimpin Republik ke arah kemerdekaan.” Muso lewat Radio Madiun juga menantang, mempersilahkan rakyat memilih.
Setelah itu terjadi pembunuhan massal oleh PKI terhadap para kiai, pangrehpraja, guru, tentara, dan pangawal negeri. PKI menganggap bahwa mereka adalah lawan-lawan yang harus dimusnahkan. Bukti pembunuhan massal terbukti di Dungus, Gorang-gareng. Secara ajaib, kapten Kartidjo, salah satu korban selamat dari pembantaian, karena dia menjatuhkan lebih dulu di dalam lubang besar kuburan massal dan tertumpuk oleh mayat-mayat korban keganasan PKI.
Namun TNI dan rakyat Indonesia menjawab tantangan Muso, dan dalam tiga hari riwayat pemerontakan itu berakhir. Sebanyak 35.000 tawanan PKI dimasukkan ke dalam penjara. Hampir seluruh pimpinan PKI dilikuidasi. Hanya beberapa tokoh PKI yang melarikan diri, seperti Alimin, Wikana, Aidit, dan Lukman.
Suripno, salah satu pimpinan PKI Madiun, dalam penjara menulis, “Faktor penting mengapa kita kalah adalah karena sangat kurangnya dukungan rakyat. Di luar kota Madiun yang rakyatnya dianggap ‘baik’, hanya memberi dukungan sangat tipis. Bahkan di beberapa daerah rakyat bisa dikerahkan untuk menangkap kita. Kesalahan kita adalah kita tidak dapat membuat landasan politik yang cukup kuat.” Masih dari otokritik Suripno, “Dan yang sangat disesalkan adalah pembunuhan-pembunuhan massal dan kekejaman yang terjadi di beberapa tempat dalam hubungan dengan Madiun. Kita merasa tidak ikut bertanggungjawab atas kejadian itu. (Ciri khas PKI lari dari tanggungjawab) Pelajaran yang bisa didapat dari peristiwa itu adalah bahwa rakyat tak membantu kita.”
Memang ada beberapa perlawanan kecil di luar dari Madiun, tetapi akhirnya TNI dan rakyat dapat mengalahkan serta menangkap para pemberontak itu. Begitu juga para pemimpin PKI seperti Amir Syarifuddin, Suripno, Sardjono, Maruto Darusman, Haryono, Oei Gwee Hwat, Sukarno Pesindo Solo, Kolonel Djokosujono (Gubernur Militer PKI di Madiun) dihukum mati setelah dipenjara beberapa saat. Muso sendiri mati dalam aksi tembak-menembak dengan TNI di desa Sumandeng, selatan Ponorogo, pada 30 Oktober 1948.
Pemberontakan PKI di Madiun adalah pengalaman gagal kedua PKI dalam merebut kekuasaan yang sah. Yang pertama adalah Pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Gagal karena tidak adanya kepemimpinan yang jitu, sehingga pemberontakan bisa dipadamkan dalam waktu yang tidak lama. Hal serupa diulang lagi di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Meski ada kepemimpin yang kuat tetapi terlalu tergesa-gesa dan ternyata tidak cukup waktu untuk mengindotrinasi rakyat dengan perjuangan mereka; di samping tidak adanya perhitungan yang matang dan hanya spontanitas sekadar melihat peluang yang ada.
Dalam pembelaan yang ditulis oleh Aidit di majalah Bintang Merah pada tahun 1951, Aidit menolak istilah Pemberontakan Madiun, dan diperhalus dengan istilah “provokasi Madiun”, maksudnya diprovokasi oleh teror “putih”. Kemudian diubahnya menjadi “peristiwa Madiun”. Aidit tetap membela Pemberontakan Madiun. Hal ini mengingatkan kita kepada analisis sarjana simpatisan PKI yang mengatakan bahwa G-30-S/PKI hanyalah persoalan intern TNI, bukan oleh para pemimpin PKI/Aidit dkk. Karena itulah tulisan ini disajikan untuk melawan lupa. (*).



KRONOLOGIS SEJARAH

1. Tanggal 8 Oktober 1945 : Gerakan Bawah Tanah PKI membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia).
2. Medio Oktober 1945 : AMRI Slawi pimpinan Sakirman dan AMRI Talang pimpinan Kutil menteror, menangkap dan membunuh sejumlah pejabat pemerintah di Tegal.
3. Tanggal 17 Oktober 1945 : Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang) dan merebut pemerintahan Keresidenan Banten melalui teror dengan kekuatan massanya.
4. Tanggal 18 Oktober 1945 : Badan Direktorium Dewan Pusat yang dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun, membentuk laskar yang diberi nama Ubel-Ubel dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.
5. Tanggal 21 Oktober 1945 : PKI dibangun kembali secara terbuka.
6. Tanggal 4 November 1945 : API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR, tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal dan Pemalang.
7. Tanggal 9 Desember 1945 : PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak, R. Hardiwinangun, di Jembatan Sungai Cimancak.
8. Tanggal 12 Desember 1945 : Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Oto Iskandar Dinata.
9. Tanggal 12 Februari 1946 : PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto membentuk Laskar Merah merebut kekuasaan Kota Cirebon dan melucuti TRI.
10. Tanggal 14 Februari 1946 : TRI merebut kembali Kota Cirebon dari PKI.
11. Tanggal 3 - 9 Maret 1946 : PKI Langkat – Sumatera di bawah pimpinan Usman Parinduri dan Marwan dengan gerakan massa atas nama revolusi sosial menyerbu Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura dan membunuh Sultan bersama keluarganya  serta menjarah harta kekayaannya.
12. Tahun 1947 : Kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi PM Republik Indonesia dan membentuk kabinet.
13. Tanggal 17 Januari 1948 : PM Amir Syarifuddin Harahap menggelar Perjanjian Renville dengan Belanda.
14. Tanggal 23 Januari 1948 : Presiden Soekarno membubarkan Kabinet PM Amir Syarifuddin Harahap dan menunjuk Wapres M Hatta untuk membentuk Kabinet baru.
15. Bulan Januari 1948 : PKI membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin untuk beroposisi terhadap Kabinet Hatta.
16. Tanggal 29 Mei 1948 : M. Hatta melakukan ReRa (Reorganisasi dan Rasionalisasi) terhadap TNI dan PNS untuk membersihkannya dari unsur-unsur PKI.
17. Bulan Mei 1948 : Muso pulang kembali dari Moskow – Rusia setelah 12 (dua belas) tahun tinggal disana.
18. Tanggal 23 Juni – 18 Juli 1948 : PKI Klaten melalui SARBUPRI (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) melakukan pemogokan massal untuk merongrong pemerintah RI.
19. Tanggal 11 Agustus 1948 : Muso memimpin FDR / PKI dan merekonstruksi Politbiro PKI, termasuk DN. Aidit,  MH Lukman dan Nyoto.
20. Tanggal 13 Agustus 1948 : Muso bertemu dengan Presiden Soekarno dan diminta untuk memperkuat Perjuangan Revolusi, namun dijawab bahwa dia pulang untuk menertibkan keadaan, yaitu untuk membangun dan memajukan FDR / PKI.
21. Tanggal 19 Agustus 1948 : PKI Surakarta membuat KERUSUHAN membakar pameran HUT RI ke-3 di Sriwedari – Surakarta, Jawa Tengah.
22. Tanggal 26 – 27 Agustus 1948 : Konferensi PKI
23. Tanggal 31 Agustus 1948 : FDR dibubarkan, lalu Partai Buruh dan Partai Sosialis berfusi ke PKI.
24. Tanggal 5 September 1948 : Muso dan PKI nya menyerukan RI agar berkiblat ke UNI SOVIET.
25. Tanggal 10 September 1948 : Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo dan dua perwira polisi dicegat massa PKI di Kedunggalar – Ngawi dan dibunuh, serta jenazahnya dibuang di dalam hutan.
26. Medio September 1948 : Dr. Moewardi yang bertugas di Rumah Sakit Solo dan sering menentang PKI diculik dan dibunuh oleh PKI,  begitu juga Kol. Marhadi diculik dan dibunuh oleh PKI di Madiun, kini namanya jadi nama Monumen di alun-alun Kota Madiun.
27. Tanggal 13 September 1948 : Bentrok antara TNI pro pemerintah dengan unsur TNI pro PKI di Solo.
28. Tanggal 17 September 1948 : PKI menculik para Kyai Pesantren Takeran di Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji oleh PKI dan dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Di sumur tersebut ditemukan 108 (seratus delapan) kerangka jenazah korban kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik Gula Gorang Gareng.
29. Tanggal 18 September 1948 : Kolonel Djokosujono dan Sumarsono mendeklarasikan NEGARA REPUBLIK SOVIET INDONESIA dengan Muso sebagai Presiden dan Amir Syarifoeddin Harahap sebagai Perdana Menteri.
30. Tanggal 19 September 1948 : Soekarno menyerukan rakyat Indonesia untuk memilih Muso atau Soekarno – Hatta. Akhirnya, Pecah perang di Madiun : Divisi I Siliwiangi pimpinan Kol. Soengkono menyerang PKI dari Timur dan Divisi II pimpinan Kol. Gatot Soebroto menyerang PKI dari Barat
31. Tanggal 19 September 1948 : PKI merebut Madiun, lalu menguasai Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang dan Cepu serta kota-kota lainnya.
32. Tanggal 20 September 1948 : PKI Madiun menangkap 20 orang polisi dan menyiksa serta membantainya.
33. Tanggal 21 September 1948 : PKI Blitar menculik dan menyembelih Bupati Blora Mr. Iskandar dan Camat Margorojo – Pati Oetoro, bersama tiga orang lainnya yaitu Dr.Susanto, Abu Umar dan Gunandar, lalu jenazahnya dibuang ke sumur di Dukuh Pohrendeng Desa Kedungringin Kecamatan Tujungan Kabupaten Blora.
34. Tanggal 18 – 21 September 1948 : PKI menciptakan 2 (Dua) Ladang Pembantaian / Killing Fields dan 7 (Tujuh) Sumur Neraka di MAGETAN untuk membuang semua jenazah korban yang mereka siksa dan bantai :
1) Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
2) Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
3) Sumur Neraka Desa Dijenan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Magetan.
4) Sumur Neraka Desa Soco I Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
5) Sumur Neraka Desa Soco II Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
6) Sumur Neraka Desa Cigrok Kecamatan Kenongomulyo Kabupaten Magetan.
7) Sumur Neraka Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
8) Sumur Neraka Desa Bogem Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan
9) Sumur Neraka Desa Batokan Kecamatan Banjarejo Kabupaten Magetan.

35. Tanggal 30 September 1948 : Panglima Besar Sudirman mengumumkan bahwa tentara Pemerintah RI  berhasil merebut dan menguasai kembali Madiun. Namun Tentara PKI yang lari dari Madiun memasuki Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Dungus dan membantai semua tawanan yang terdiri dari TNI, Polisi, pejabat pemerintah, Tokoh Masyarakat dan Ulama serta Santri.
36. Tanggal 4 Oktober 1948 : PKI membantai sedikitnya 212 tawanan di ruangan bekas Laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomulyo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
37. Tanggal 30 Oktober 1948 : Para Pimpinan Pemberontakan PKI di Madiun ditangkap dan dihukum mati, seperti Muso, Amir Syarifuddin, Suripno, Djokosujono, Maruto Darusman, Sajogo, dan lainnya.
38. Tanggal 31 Oktober 1948 : Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH Lukman dan Nyoto pergi ke pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).
39. Akhir November 1948 : seluruh pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan seluruh daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain : Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.
40. Tanggal 19 Desember 1948 : Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.
41. Tahun 1949 : PKI tetap tidak dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.
42. Awal Januari 1950 : Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi para korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yang 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para korban berasal dari berbagai kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.
43. Tahun 1950 : PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.
44. Tanggal 6 Agustus 1951 : Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua senjata api yang ada.
45. Tahun 1951 : Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.
46. Tahun 1955 : PKI ikut Pemilu pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.
47. Tanggal 8 – 11 September 1957 : Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang – Sumatera Selatan mengharamkan ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.
48. Tahun 1958 : Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI
49. Tanggal 15 Februari 1958 : Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun pemberontakkan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.
50. Tanggal 11 Juli 1958 : DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.
51. Bulan Agustus 1959 : TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.
52. Tahun 1960 : Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.
53. Tanggal 17 Agustus 1960 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th. 1960 tertanggal 17 Agustuts 1960 tentang PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.
54. Pertengahan Tahun 1960 : Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.
55. Bulan Maret 1962 : PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.
56. Bulan April 1962 : Kongres PKI.
57. Tahun 1963 : PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan  mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara” melawan Malaysia.
58. Tanggal 10 Juli 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.
59. Tahun 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqin, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.
60. Bulan Desember 1964 : Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.
61. Tanggal 6 Januari 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI
62. Tanggal 13 Januari 1965 : Dua sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mush-haf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.
63. Awal Tahun 1965 : PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).
64. Tanggal 14 Mei 1965 : Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.
65. Bulan Juli 1965 : PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur TNI Angkatan Udara.
66. Tanggal 21 September 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.
67. Tanggal 30 September 1965 Pagi : Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.
68. Tanggal 30 September 1965 Malam : Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) :
a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.
b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution.
c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution.
d. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.  
e. G30S / PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain :
i. Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief
ii. Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi
iii. Angakatan Udara : Men / Pangau Laksyda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono
iv. Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

69. Tanggal 1 Oktober 1965 : PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil alih kekuasaan.
70. Tanggal 2 Oktober 1965 : Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan udara Halim dari PKI.
71. Tanggal 6 Oktober 1965 : Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.
72. Tanggal 13 Oktober 1965 : Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di seluruh Jawa.
73. Tanggal 18 Oktober 1965 : PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa / Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Persitiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.
74. Tanggal 19 Oktober 1965 : Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.
75. Tanggal 11 November 1965 : PNI dan PKI bentrok di Bali.
76. Tanggal 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.
77. Bulan Desember 1965 : Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.
78. Tanggal 11 Maret 1965 : Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan Negara RI.
79. Tanggal 12 Maret 1965 : Soeharto melarang secara resmi PKI.
80. Bulan April 1965 : Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.
81. Tanggal 13 Februari 1966 :  Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”
82. Tanggal 5 Juli 1966 : Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.
83. Bulan Desember 1966 : Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.
84. Tahun 1967 : Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di di wilayah terpencil di Selatan Blitar bersama kaum Tani PKI.
85. Bulan Maret 1968 : Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.
86. Pertengahan 1968 : TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.
87. Dari tahun 1968 s/d 1998 : Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966.
88. Dari tahun 1998 s/d 2015 : Pasca Reformasi 1998 Pimpinan dan Angota PKI yang dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN pejuang kemerdekaan RI.


ANALISA DAN KESIMPULAN
1. Sejak dibentuk kembali pada tanggal 21 Oktober 1945, PKI terus bangkit dan berkembang pesat melalui POLITIK MENGHALALKAN SEGALA CARA, mulai dari pembubaran Partai Islam dan Ormas Islam serta penangkapan para Tokohnya, hingga penculikan dan pembunuhan Ulama dan Umara
2. Sejak dibentuk kembali PKI tetap selalu mengeksploitasi BURUH dan TANI dalam sepak terjangnya untuk mencapai tujuan-tujuan politik komunismenya.
3. PKI punya pengaruh kuat terhadap Presiden Soekarno hingga berhasil menekan Presiden membubarkan musuh-musuhnya seperti Partai Masyumi, Ormas GPII dan Partai Murba.
4. Kiblat Perjuangan PKI adalah UNI SOVIET, lalu mengembangkan hubungan dengan Komunis JERMAN dan RRT, sehingga PKI sejak lahir hingga dibubarkan tidak pernah memiliki ruh Kebangsaan Nusantara  mau pun Nasionalisme Indonesia.
5. Pemberontakan PKI tahun 1948 dan tahun 1965 adalah bukti autentik tentang PENGKHIANATAN PKI terhadap Bangsa dan rakyat serta Negara Indonesia.
6. Sejak awal PKI didirikan lalu dibubarkan, kemudian dibentuk kembali hingga dibubarkan kembali TIDAK ADA sedikit pun Kontribusi PKI dalam perjuangan Kemerdekaan RI.
7. PKI berhasil merekrut PARA PERWIRA TNI yang berhaluan kiri dari berbagai angkatan untuk mengadu-domba mereka, serta membentuk pasukan khusus untuk melakukan teror dan pembunuhan, seperti Pasukan Cakrabirawa saat menculik dan membunuh para Jenderal Pahlawan Revolusi.
8. PKI bersifat KEJAM dan BIADAB sehingga tidak segan-segan membunuh Ulama, Santri, Jenderal hingga anak-anak, bahkan Kader NU yang merupakan Mitra PKI dalam NASAKOM diserang dan dibunuh juga.
9. PKI layak dan patut dilarang dan dibasmi di seluruh wilayah NKRI karena pengkhianatan dan kebiadabannya, sehingga sikap TNI dan NU sudah benar dalam menumpas PKI, begitu juga TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 sudah sangat tepat,
10. Soekarno bukan PKI, tapi sikap dan putusan kebijakannya banyak cenderung Pro PKI.

Media menjadi salah satu saksi jujur sejarah jika kita membuka file koran Indonesia maupun dunia, seperti Washington Post, New York Times, Time, dan Asahi Simbun. Edisi 13 Maret 1966 hampir semua menulis berita jutaan rakyat Indonesia tumpah ruah di jalan-jalan kota Indonesia meluapkan sukacita.

Rakyat, pelajar, mahasiswa, tentara, polisi berpelukan dalam rasa haru. Partai Komunis Indonesia (PKI) sehari sebelumnya (12 Maret 1966) dibubarkan, resmi dilarang hidup di bumi NKRI karena tidak sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang religius yang dikristalisasikan dalam filosofi dasar bangsa Indonesia, Pancasila.

Jenderal Soeharto yang ditunjuk Bung Karno sebagai panglima Pemulihan Keamanan pascapemberontakan PKI 30 September 1965 yang gagal dan Jenderal Nasution selaku ketua MPRS saat itu, dielu-elukan rakyat karena berani membubarkan PKI sesuai tuntutan rakyat dalam Tritura, yaitu bubarkan PKI, retol kabinet Soekarno, dan turunkan harga.

Majalah Time yang terbit seminggu kemudian mengulas lebih dalam penyelesaian brilian telah diambil di Jakarta dengan gagah berani. Jenderal Soeharto dan Jenderal Nasution membubarkan PKI, partai politik terbesar ketika itu dan disokong dua negara adidaya: RRT dan Uni Soviet. PKI bahkan telah berkuasa dua dekade dengan doktrin pemaksakan kehendak.

Karena itu, Presiden Prancis Francois Mitterand yang juga seorang kolumnis itu menulis buku berjudul La Paile et Le Grain yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, The Weat and The Chaff (Jerami dan Sekam). Dalam buku itu, antara lain, diusulkan bahwa Jenderal Soeharto layak mendapat hadiah Nobel karena telah membubarkan PKI yang dalam Gerakan 30 September 1965 sangat biadab menyiksa dan membunuh lawan-lawan politiknya.

Tepat jika masalah PKI diungkap lagi untuk mengingatkan orang yang lupa, apalagi banyak generasi muda yang tidak tahu PKI. Siapa pun rakyat Indonesia yang pada 1965 minimal telah berusia tujuh tahun ke atas, banyak yang tahu dan ingat partai politik PKI yang berkuasa di segala lini legislatif, eksekutif, yudikatif bahkan Presiden disetir PKI.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 baru ditetapkan kembali ke UUD 1945 dan Pancasila. Tetapi, PKI dengan pongah menyelewengkan UUD 1945 menobatkan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup tanpa pemilu. Ini awal malapetaka bangsa Indonesia.

PKI kemudian memberontak pada 30 September 1965 dengan segala prolog dan epilognya. Di berbagai daerah, umat Islam dibantai, bahkan PKI membantai umat Islam yang sedang shalat berjamaah. Ulama dan kiai dibunuh, puluhan pesantren dihancurkan. Beruntung pemberontakan G30S/PKI gagal, malah menjadi titik balik yang menghancurkan PKI dan underbow-nya dilarang di bumi NKRI.

Pakar politik Asia, Guy J Parker, dalam karyanya, The Rise and Fall of The Communist Party of Indonesia, mengupas kegagalan pemberontakan PKI 1965 sekaligus membuka tabir kebobrokan tokoh empat serangkai PKI (Aidit, Nyoto, Lukman, Sudisman) yang diagung-agungkan pengikutnya awal 1960-an. Bahkan, tokoh Lekra SW Kuntjahjo memuja Aidit dalam syairnya "mata Aidit seperti bulan".

Kegagalan kudeta PKI 1965 tak hanya membongkar yang tersembunyi. Para pengikut dan simpatisan juga melihat kelemahan pemimpin mereka. Salah taktik, salah strategi, salah kalkulasi yang selama itu dianggap tak mungkin. Pascakudeta PKI yang gagal itu, para pengikut PKI saling khianat dan fitnah yang mempercepat kehancuran PKI, tak ada tempat lagi bagi PKI yang atesis hidup di bumi Pancasila.

Tulisan Parker perkuat dokumen lain. Ketua Umum PKI Aidit sowan ke pemimpin Cina Mao Tse Tung beberapa bulan sebelum G30S/PKI meletus. Seperti ditulis pakar Asia Prof Victor Fie, pesan Mao pada Aidit agar bertindak cepat menghabisi jenderal pembangkang (AH Nasution, dll) harus dibunuh dalam Gestapu PKI 1965, tetapi justru Jenderal AH Nasution selamat.

Dokumen itu, antara lain, memuat dialog antara Mao dan Aidit. Mao: "Kamu harus bertindak cepat." Aidit: "Saya khawatir TNI AD jadi penghalang." Mao: "Habisi jenderal-jenderal reaksioner dalam satu kali pukul mereka akan menjadi seekor naga tanpa kepala yang tunduk pada perintahmu." Aidit: "Berarti kami harus membunuh banyak jenderal?" Mao: "Di Shensi Utara saya bunuh 20 ribu pembangkang dalam satu kali pukul." (Anatomi The Jakarta Coup, 1965, 26 April 1966).

Musuh PKI yang sangat sakti adalah Pancasila. Ia supremasi pemikiran intelektual dan moral juga role model generasi pendahulu. Generasi moral intelektual seperti Ahmad Dahlan, Agus Salim, Bagus Hadi Kusumo, Wachid Hasjim, Ki Hajar Dewantoro, Soepomo.

Bukti historis kecerdasan founding fathers. Dokumen nyaris sempurna, naskah Pembukaan UUD 1945 dengan asas kerohanian Pancasila. Gagasan besar Pancasila, dalam perkembangannya bukan hanya dasar NKRI, tapi juga ideologi yang dapat menyatukan bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan ujian dari dalam dan luar negeri. Pancasila juga mampu menghadapi paham-paham besar, seperti kapitalisme, komunisme, liberalisme, individualisme, pluralisme, dan sekulerisme yang tak kenal lelah menggempur Indonesia.

Hal ini sangat bertentangan dengan pakar Barat, seperti Daniel Bell, Sidney Hook yang menyatakan kita tak perlu ideologi karena era ideologi telah mati? Inilah pesan sesat pakar Barat untuk melemahkan bangsa berkembang, terutama Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang dianggap Barat sebagai "musuh" masa depan? Pesan sesat Barat tentang tak perlu lagi ideologi muncul di paruh kedua abad XX.

Kini AS dan Eropa limbung dengan pengabaian ideologi yang melahirkan kebebasan tanpa batas. Pancasila mengatur kebebasan dan HAM sangat baik dituangkan dalam UUD 1945. Kebebasan dan HAM bangsa Indonesia mengikuti norma agama dan moral. Kebebasan di Indonesia dikunci dengan ajaran agama yang dianut bangsa Indonesia (Ketuhanan Yang Maha Esa).

Dalam fakta ini, masihkah terbersit di pikiran kita mau menghidupkan atau membiarkan PKI hidup walau dengan bentuk dan topeng lain? Masihkah terpikir kebebasan tanpa batas ala sekuler itu baik?

Termasuk bebas memutarbalikkan fakta sejarah G30S/PKI? Bahkan, anak cucu PKI mengaku sebagai korban minta rekonsiliasi dan kompensasi? Sebagai orang beriman penulis hanya sekadar mengingatkan fakta ilmiah ini. Semoga bermanfaat demi kejayaan NKRI. Insya Allah

Terimakasih kepada Bpk Syaiful Bachri & kepada FAKI (Front Anti Komunis Indonesia), dan juga kepada pembaca apabila medapatkan fakta baru silahkan menambahkan tulisan ini.