Monday, April 27, 2015

Indonesia Siaga PKI


Jejak Langkah Kebangkitan PKI

Bahwa 118 dari anggota DPR kita adalah penganut komunis sudah ramai dibicarakan, salah satunya adalah Ribka Tjiptaning yang menjuluki dirinya sendiri sebagai "Anak PKI" Budiman Sujatmiko, pendiri sekaligus mantan ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD). Bahwa PRD sendiri sesuai catatan sejarah merupakan sebuah partai dengan ideologi komunis radikal yang meniru pendahulunya, Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam melakukan teror massa dan propaganda secara agitatif terhadap lawannya, dalam hal ini Orde Baru.

Tapi bukankah PKI sudah dibubarkan, dan selama orde baru komunisme beserta marxisme sudah terlarang untuk diajarkan di Indonesia, lantas bagaimana mungkin kaum komunis tetap mampu melahirkan bibit-bibit komunis baru, dan akhirnya mengembalikan PKI dalam wujud baru, yaitu PRD. Bagaimana mereka melakukannya? Bagaimana mereka menumbuhkan komunisme yang sudah mati di kalangan generasi baru?

Kuncinya adalah orang-orang binaan Njoto, Ketua Departemen Propaganda dan Agitasi PKI, yang utamanya kebanyakan terdiri dari budayawan dan seniman mantan Lekra yang memiliki talenta luar biasa untuk melakukan propaganda. Lekra sendiri sangat berjasa mengembalikan kejayaan PKI yang sempat jatuh karena pemberontakan di Madiun tahun 1948.

Bisa dikatakan bahwa kebangkitan PKI dan komunis Indonesia sudah dimulai sejak dilepaskannya wakil Njoto yang membantunya melakukan berbagai propaganda, yaitu Carmel Budiardjo, warga negara Inggris yang sesampainya di Inggris segera mendirikan ormas anti Indonesia bernama TAPOL yang tujuannya menghancurkan kredibilitas Indonesia di luar negeri dengan isu hak asasi manusia dan G30S/PKI, dan selanjutnya membangkitkan komunisme kembali di Indonesia.

Tujuan TAPOL membangunkan komunisme di Indonesia semakin dipermudah dengan dilepaskannya tahanan-tahanan PKI dari Pulau Buru pada tahun 1979, yang tiga di antaranya yaitu Hasjim Rachman, Joesoef Isak, dan Pramoedya Ananta Toer mendirikan perusahaan penerbit bernama Hasta Mitra tahun 1980, yang pada awalnya menampung dua puluh tahanan PKI lain. Hasta Mitra kebanyakan menerbitkan buku-buku buah pikiran Pramoedya Ananta Toer, yang tentu saja langsung dilarang oleh rezim Orde Baru karena isinya mempromosikan komunisme.

Dalam hal ini pelarangan yang dilakukan Orde Baru justru membangkitkan rasa penasaran akan isinya dan karena itu secara tidak langsung menyebabkan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer semakin dicari dan menyebar melalui fotokopi melalui sebagian generasi muda terutama kalangan yang pikirannya sudah diracuni oleh LBH Jakarta bahwa Rezim Orde Baru sangat buruk, otoriter dan korup sehingga perlu dihancurkan.

Daripada itu, talenta menulis Pramoedya Ananta Toer memang luar biasa dan memiliki daya magis tersendiri, sehingga para pembacanya yang tidak pernah mendengar bagaimana dia dengan Lekranya menghancurkan dan menjebol lawan-lawan PKI yang tidak mau menjadi komunis, justru menjadi bersimpati dengan sastrawan sepuh dengan talenta tinggi namun menjadi "korban" rezim otoriter yang menghalangi kebebasan berbicara.

Rasa simpati kepada Pram, panggilan pendek Pramoedya Ananta Toer segera menjadi rasa simpati kepada komunis dan gerakan kiri yang di pikiran para mahasiswa anti kemapanan di waktu itu diasosiasikan dengan Pram, yaitu sebagai Soekarnois yang mengamalkan Nasakom, ajaran agung Soekarno namun menjadi korban Orde Baru yang anti komunis dan telah membuat berbagai tipu daya agar masyarakat Indonesia menjadi komunis. Karena itu ciri-ciri komunis gaya baru selain tentu saja mengamalkan prinsip komunisme, juga adalah Soekarnois.

Salah satu mahasiswa yang menjadi korban cuci otak buku-buku terbitan Hasta Mitra tersebut adalah Budiman Soejatmiko yang waktu itu masih kuliah di UGM, yang kemudian mendeklarasikan PRD tahun 1996 di kantor YLBHI dengan membagikan penghargaan kepada beberapa "tokoh demokrasi" namun memiliki kecenderungan bersimpati kepada komunisme, seperti Goenawan Mohamad dan Pramoedya Ananta Toer. Kita semua ingat bahwa PRD yang dipimpin Budiman Soejatmiko waktu itu sangat radikal dan melakukan pengeboman di mana-mana menggunakan dana dari CSIS, sebuah lembaga think tank yang disingkirkan orde baru. Ketika dipenjara karena kekerasan yang dilakukan PRD, bukannya menyesal, Budiman Soejatmiko justru merasa bangga karena khayalannya untuk mengikuti jalan Soekarno terpenuhi.

PRD pada akhirnya memang menjadi motor penggerak berbagai demonstrasi anti pemerintah dengan agitasi-agitasi yang mengerikan, dan berhasil menurunkan Soeharto. Namun mereka kalah dengan cukup telak pada saat pemilu tahun 1999 sehingga membuktikan bahwa mereka sebenarnya tidak dikenal oleh rakyat padahal dalam setiap agitasinya selalu mengatasnamakan rakyat Indonesia. Persis seperti PKI yang pada masa jayanya membawa nama rakyat dalam aksi mereka akan tetapi pada akhirnya justru ditinggalkan oleh rakyat.

Walaupun gagal menguasai Indonesia, namun PRD alias PKI baru telah berhasil mengganti rezim anti komunis menjadi rezim yang terlalu takut untuk menjaga negara ini dari rongrongan ideologi jahat dari luar dan karena itu menciptakan pra kondisi yang tepat supaya para "penginjil" komunis yang telah dimatangkan sejak mahasiswa bisa bebas menyelinap masuk ke berbagai lingkungan masyarakat dan mengkampanyekan komunisme itu baik dan orba itu jahat. Tidak heran, setahun setelah Soeharto turun jabatan, Pramoedya Ananta Toer, sosok anti demokrasi dan kebebasan berbicara pada masa orde lama yang pengaruhnya telah melahirkan PRD masuk dan resmi menjadi anggota PRD.

Saat ini orang-orang PRD sendiri sudah banyak yang menyusup ke berbagai partai politik dan lembaga sosial masyarakat untuk menyebar komunisme dari dalam.

Setelah Soeharto tumbang, apakah para eks Lekra, propagandis berkualitas cabe tua yang kenyang makan asam garam berhenti bergerak membersihkan nama komunisme, PKI dan onderbouw PKI? Tidak, mereka justru semakin gencar melemparkan teori spekulatif terkait G30S/PKI yang tidak didukung bukti sambil terus menggencarkan bahwa "jutaan komunis menjadi korban tentara", misalnya buku John Rossa berjudul Pretext to Mass Killing yang penulisannya "dibantu" para komunis, dan kemudian ketika di Indonesia diterjemahkan oleh mantan Lekra, Hersri Setiawan dan diterbitkan oleh Hasta Mitra, perusahaan penerbit milik para komunis yang dilepaskan dari pulau Buru.

Tentu kita juga tidak bisa lupa peran TAPOL yang sampai hari ini masih mendiskriditkan Indonesia dengan HAM, dan karena bahan baru pelanggaran HAM Indonesia semakin sedikit maka mereka beberapa tahun terakhir mulai mendaur ulang cerita-cerita pelanggaran HAM di Aceh masa DOM, di Timor Leste dan sesekali memprovokasi Papua. Di antara cerita daur ulang tersebut, yang menjadi favorit TAPOL jelas adalah "pembantaian terhadap PKI", dan terakhir mereka mendanai pembuatan dan penyebaran film propaganda yang disamarkan sebagai dokumenter berjudul "The Act of Killing."

Tentu tidak semua komunis baru Indonesia adalah radikal seperti Budiman Soejatmiko atau barisan sakit hati seperti Carmel Budiardjo, Goenawan Mohamad dan pasukan pulau Buru, ada juga yang lebih moderat dan justru lebih berbahaya dan efektif dalam menyebarkan komunisme seperti propagandis komunis merangkap sejarahwan, JJ Rizal dengan penerbit Komunitas Bambunya.

* Ditulis Oleh : Hendra Shah (Kompasiana)
** Sumber gambar : Panjimas