Wednesday, December 31, 2014

Love Is Chemistry (Anita Siallagan)


BUKANKAH ORBITAL ITU TINGKATAN ENERGI ATOM? TAK SENGAJA AKU MENGINGATMU. OUWH...... TERNYATA KITA MEMENDAM AMARAH YANG SAMA. KUCOBA NYALAKAN LAPTOP DAN MENYAPAMU LEWAT SKYPE. AH JANGAN!!!, PEKIKKU DALAM HATI. TIDURKU TERGANGU, TERMASUK ENDHORPHINE. SIALLL....

“CINTA BISA MENEMPATI SEGALA RUANG: ERLENMEYER, TABUNG REAKSI, LABU DESTILASI, BURET, PIPET VOLUM, GELAS BEAKER, BAHKAN MENEMPEL PADA BENDA SETIPIS OBJEK GLASS. CINTA BISA MENGINFEKSI SIAPA SAJA, BAHKAN PADA FATAMORGANA. CINTA TELAH MENYELIMUTI DUNIA.”


Orbital itupun menari,........

Sesama kimiawan, nyaris seluruh isi percakapan kita berbau kimia.
Kalau kutanya; sedang apa?
Jawabmu; “Menghirup O2”.
Apa menu makan siangmu?
Rentetan nutrisi kau jelaskan mulai kadar karbohidrat, protein bahkan lemak jenuh. Selalu ingin kumuntahken pernyataan itu!

Awalnya kuanggap ini lucu, Tapi lama kelamaan aku seperti lemak itu, Jenuh, bahayanya bisa timbul kolesterol. Kucoba nikmati saja hubungan kimia ini. Dua minggu di awal kukira kita mendapatkan 'chemistry". Untungnya kita selalu jujur dengan gelombang yang merambat diantara kita.

Sebelum tidur, aku selalu menjawab pesan singkatmu, “apakah kimiawan itu sudah hinggap direlung hati kimiawati?”
Kujawab, “nyaris! Tapi gelombangnya belum berlabuh”. Jika kujawab seperti itu, balasmu selalu; “Tunggu! Orbital itu akan menari bersama”.

Anehnya, aku selalu memulai percakapan denganmu. Kali ini ku buat berbeda, agar kau tak mampu menjawab dengan kimiamu.
“Mengapa foto profilmu tidak terlihat tersenyum?”
Lagi-lagi jawabmu masih berbau kimia. “Aku menyimpan gas ketawa di benakmu, aku ingin gas itu kau bawakan untukku, dan kita tertawa bahagia”.
Akhirnya kaupun merayuku; "Hai kimiawatiku, masamnya wajah tak bisa netral bila di teteskan senyawa basa sekalipun. Tersenyumlah, Aku senang mengajak orbitalmu menari”.
“Aku tak punya waktu banyak bergurau denganmu”.
“Bersabarlah aku sedang manitipkan satu rambatan cahaya dalam lirikan untukmu".
Kadang aku terhipnotis dengan rayuanmu, tapi tak jarang aku manyun membaca semua itu.

Ku coba mengisi hari tanpa sang kimiawan. Puluhan film di laptop jadi rujukan pertama, tapi bosan itu mendera. ingin sekali mengganggunya melalui pesan-pesan berbau kimia.
“Hai kimiawan, apakabar erlenmeyermu? Breaker gelasmu? pipet tetesmu? Bahkan larutan-larutanmu? Aku sendiri seperti akuades. tak berasa bagai lemak jenuh”.

Susah payah kurangkai semua ini untuk menandingi, tapi balasan tak kunjung kudapatkan. Nyaris seminggu aku baru mendapatkan jawaban. "Maaf Kimiawatiku, kenapa tak menanyakan kabarku? Apakah kebih penting alat dan bahan itu dibandingkan aku?"

“Ya”. Jawabku seenaknya, Kita impas, gumamku. Aku tidak mau orbital itu menari. Aku bosan dengan pernyataan itu.

Dua minggu sudah tak ada yang saling sapa. Sama sekali aku tak merasa rindu. Rutinitasku dengan atom dan molekul hanya dalam teori. kadang kubaca, tak jarang ia terduduk lesu dalam lipatan buku.

Bukankah orbital itu tingkatan energi atom? Tak sengaja aku mengingatmu. Ouwh... ternyata kita memendam amarah yang sama. Kucoba nyalakan laptop dan menyapamu lewat skype. Ah jangan!!!, pekikku dalam hati. Tidurku tergangu, termasuk endhorphine. Sialll.... Kimiawan itu mempermainkanku.
Tepat dini hari kutuliskan pesan singkat di emailnya;
“Orabitalmu hampa,..... Bilangan azimutku nol. Pastinya magnetikku juga nol. Aku butuh putaran seimbang dalam arah spin. tapi aku tak ingin menari denganmu”.
Sontak kaget secepat itu  kuterima balasan darimu;
“Silahkan buka tautan ini. Aku kerjakan selama dua minggu hanya untukmu”.
"Klik" Ternyata isinya jurnal orbital  dengan bahasa Inggris, ini jelas bukan untukku, tapi tepatnya untuk dosen tesismu.
Apa ini artinya orbitalku mulai menari?.
Kimiawan.... aku jadi pesaingmu. Huufgth!!!

Ditepi bak untuk mencuci perlatan lab itu aku duduk, sesekali ku mainkan jemariku dengan air sambil sesekali membilas wajah, rasanya ingin masuk kedalam labu ukur 500 ml seperti adegan jin dan jun. Sayangnya aku bukan jiny yang mampu bertransformasi kemana saja. Wajah tertekuk, pikiran mulai melayang mengalahkan kimiawan sejati.

Kutarik secarik kertas, kusemprotkan senyawa asam dengan tulisan transparan: "orbitalmu mengajak berdansa". Kutunggu jawaban tidak lebih dari waktunya cahaya matahari sampai kebumi. Cari penolphtaleinmu!

Berharap cemas saat kunantikan lembaran itu tepat ditangannya. Enam menit sudah berlalu. Aduuuh..... dua menit lagi waktunya habis. Kenapa sesingkat itu aku memberinya waktu. Bagaimana kalau ia tidak menemukan penolphtalein. Kulirik jam ini sudah pukul 00.07.07. Limapuluh tiga detik lagi waktumu kimiawan. Cepat jawab!!!
“Aku mencari kubis ungu untuk mengganti penolphtalein. Kugerus secepat yang kau pinta kimiawatiku. Tapi waktuku lebih dari delapan menit. Mungkin aku perlu berpikir ulang untuk mengajak orbitualmu menari bersamaku”. Pesan ini kuterima pada pukul 00.08.15.
Mengapa syaratku susah? Aku tak bermaksud seperti itu kimiawan.
Perlahan, kucoba menuliskan kalimat yang sama sekali tidak berbau kimia melaui emailnya.
“Hei.... waktumu hanya terlambat 15 detik. Itu tak mengapa buatku.  Lihatlah negeri tak bermentari sepenuh waktu layaknya negeri kita. Kadang mentari lebih dari delapan menit menerpa wajah mahluk disana. Itu bukan karena kemauan mereka. Tapi kehendakNya”.
Aku mengulurkan orbitalku untuk diajak menari denganmu. Tanpa embel-embel tingkat energi yang berbeda. Pesan inipun segera terkirim.

Lima hari berlalu tiba-tiba kau hadir dengan buku tesismu. Ada secarik kertas kudapati disela tesis kimiamu yang tertulis "Masuklah dalam bilangan kuantumku yang stabil. Disana kita menari. Aku menyediakan orbital hingga ke tingkatan energi yang tinggi. Kita isi arah spin yang kosong hingga bermuatan setara. Kaulah orbital sejatiku yang akan selalu menari denganku".

By : Anita Siallagan (SMA Izzada)
Thanks kiriman tulisannya yah....