Thursday, July 10, 2014

Belajar dari Pilpres 2014 - Kafil Yamin

ADA yang lebih penting dari kemenangan dalam Pilpres ini, paling tidak bagi saya, yakni anak-anak muda Indonesia terutama, bisa belajar berpartisipasi politik yang baik. Sehingga kehidupan politik Indonesia adalah politik yang bermoral; sehingga generasi muda Indonesia adalah generasi berjiwa besar; bertenggang rasa; punya solideritas yang tinggi; generasi yang bermartabat.
Tadinya saya berharap anak-anak muda Indonesia bisa belajar dari tokoh-tokoh politik yang sekarang manggung. Tapi, melihat kenyataan politik hari ini, harapan itu masih jauh. Apa boleh buat.
Tadinya saya berharap tokoh-tokoh politik yang sekarang manggung itu bisa memberi tauladan; organisasi dan kelompok politik bisa memberikan pendidikan politik yang baik. Harapan itu juga masih jauh.
Banyak dari generasi muda Indonesia, lebih tertarik pada eforia adu kekuatan, provokasi, hujatan, caci-maki, bukan pada mengembangkan kemampuan nalar, analisis, penilaian yang matang.
Tapi bagaimana generasi muda bisa demikian bila yang mereka lihat adalah politisi dan kelompok politik yang hanya memperlihatkan nafsu berkuasa? Dan untuk itu mengeksploitasi sentimen massa? Sayangnya, emosi kebanyakan kita mudah diekspolitasi, mudah dipermainkan.
Kaum ‘intelektual’, akademisi, lebih menonjolkan kemampuannya dalam mencari kesalahan dan cacat orang lain. Dan para politisi, lebih banyak unjuk kekuatan ketimbang unjuk kebijaksanaan dan kecintaan kepada bangsa. Mereka lebih tampak sebagai anak-anak yang saling menunjukkan ‘siapa saya’, ‘siapa kami’. Sedikit sekali di antara mereka yang bisa jadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk membangun dan mengembangkan kepribadian yang luhur.
Contoh-contoh yang saya kemukakan di sini akan terasa memihak, apa boleh buat, karena lebih banyak ditunjukkan oleh salah satu pihak. Pasti ada yang tidak senang.  Tapi perlu saya sampaikan sebagai contoh.
Deklarasi kemenangan oleh Megawati, Jokowi-JK, pada saat suara yang masuk baru 70 persen, dan lembaga penghitungnya bukan lembaga resmi, adalah tindakan kekanak-kanakan. Kita tahu alasannya: Mereka ingin cepat membangun opini publik bahwa merekalah pemenangnya. Ini bukan tindakan dewasa, meski umur mereka lebih dari dewasa. Dan karena itu bukan contoh yang baik bagi siapa pun, terutama bagi generasi muda.  Kenapa mereka tak bersabar menunggu hasil penghitungan KPU?
Mestinya mereka mempertimbangkan emosi massa, keharmonisan hidup masyarakat. Tindakan mereka itu menyulut emosi. Dan itu tindakan yang tidak patut. Bayangkan sekelompok organisasi resmi dan besar, mendasarkan pernyataan resmi kemenangannya pada hasil hitungan cepat tidak resmi.
Dan sungguh naif mereka mengemasnya dengan pidato kemenangan di Tugu Proklamasi.
Segera setelah itu Megawati memperingatkan KPU untuk 'tidak memanipulasi hasil Pilpres.' Peringatan yang bernada menuduh.
Pihak Prabowo-Hatta melakukan hal yang sama sebagai ‘tindakan balasan’, yang juga berdasarkan hitungan cepat tidak resmi. Tanpa tindakan kubu Megawati –Jokowi-JK, bisa dipastikan kubu Prabowo-Hatta tak akan bertindak seperti itu. Tapi apa pun alasannya, kubu Prabowo-Hatta mestinya tidak membalas kesalahan dengan kesalahan.
Slogan kubu Jokowi-JK bahwa “hanya kecurangan yang bisa mengalahkan kita” adalah pendidikan politik buruk bagi masyarakat. Padahal mereka bersaing untuk jadi pemimpin.
Dalam hal ini, kubu Prabowo-Hatta lebih menunjukkan sikap ksatria dan bijaksana “Kami akan menghormati bila rakyat memberikan mandat kepada saudara Jokowi.”
Muda-mudahan, masih ada yang masih bisa ditauladani dan dipelajari dari beberapa orang di antara mereka.
Orang sering mengatakan “politik itu kotor”. Tapi justru karena kotor itulah kita ingin menjadikannya bersih. Dan politik yang bersih itu ada. Sumpah, ada. Dan kita ingin memilikinya.
Media – mudah-mudahan ada yang masih bisa dikecualikan – menambah kekotoran politik itu dengan pemihakan yang sangat telanjang. Tanpa malu. Media mengekspoitasi emosi massa. Dan kebanyakan kita begitu mudah ‘dimakan’ media-media pengobar kebencian itu.
Mudah-mudahan dinding fesbuk saya ini jadi forum sebagian kecil kita untuk mengasah sikap kritis; menyaring informasi; memperkuat kemampuan mengendalikan diri; meningkatkan kepekaan, sehingga tidak gampang jadi objek kepentingan sempit sekelompok orang.
Memang, tidak gampang memelihara kesantunan di tengah ajang caci maki. Tapi bagi yang berniat menjadi pribadi yang sehat, ini tantangan tersendiri. Anda misalnya, berkomentar dengan argumentasi dan bahasa yang baik, tiba-tiba dijawab seseorang hanya dengan satu dua kalimat hujatan pendek: “Hahaha..ngawur!” – tanpa menjelaskan ngawurnya bagaimana.
Maklumi saja, biasanya, penanggap yang hanya menuliskan satu dua kata hujatan itu memang tak bisa berdiksusi. Kalaupun memaksakan diri, kelihatan pikirannya ngawur.
Kita harus jadi masyarakat yang pintar, lebih pintar dari mereka yang terlihat lapar kekuasaan. Bila para politisi, media, ‘intelektual’ sekarang lebih tampak menebar benih-benih konflik sosial; benih-benih kekacauan masyarkat, mungkin kemampuan mereka memang sebatas itu. Tapi kita tak mau jadi sekelas mereka. Kita ingin jadi bangsa yang tak gampang dipecahbelah. Dan untuk itu kita harus jadi masyarakat yang menyandarkan pertimbangan kita pada kedaulatan akal sehat kita sendiri. Untuk inilah kita perlu belajar bersama.
Dan di masyarakat yang baik, pempimpin buruk akan terpental dengan sendirinya. Itu hukum alam. Persoalannya, apakah semua kita punya niat jadi masyarakat yang baik?
Salam kebangsaan.