Wednesday, February 26, 2014

Misteri SIlaberanti

Diujung jalan Silaberanti terdapat sebuah makam tua yang usianya diperkirakan mencapai 200an tahun. Makam ini dipanggil masyarakat dengan sebutan makam buyut Silaberanti. Tak banyak catatan sejarah terkait makam tersebut. Hanya saja, buyut tersebut diyakini bernama Siti Zaleha. Banyak warga dari luar kota datang berziarah. Anehnya, kebanyakan mereka adalah warga Tionghoa.

Perjalanan menempuh makam buyut Silaberanti terasa cukup sulit. masuk dari Gang Slamet diujung jalan Silaberanti, Kelurahan Silaberanti, air setinggi mata kaki sudah menghadang. Rupanya, makam tersebut berada di pinggir sungai Aur. Air dari anak sungai Musi inilah yang seringkali meluap hingga ke jalan. Ketika air pasang, yang terlihat, makam ibaratnya seperti berada diatas air. Selain berada di bibir sungai, makam tersebut juga dikelilingi rawa yang terendam air.

Dibagian teras depan makam terlihat kotor oleh lumpur sungai. Namun di bagian dalam tampak bersih terawat. Selain terawat, lantainya di keramik. Nah, sang penjaga makam, bernama Hasan akrab dipanggil Mang Hasan. Kondisinya sangat memprihatinkan. Pria asal Jawa ini sejak kecil tidak bisa melihat, dan pendengarannya pun sedikit terganggu. Bicara dengannya harus dengan suara extra keras.

Tak banyak didapat dari mulut Mang Hasan seputar sejarah buyut Silaberanti. Apalagi, dirinya termasuk baru menjadi kuncen. Sejak tahun 2006. Bukannya karena mendapat wangsit, atau diturunkan dari orang tuanya seperti penjaga makam pada umumnya, Mang Hasan mengaku menjadi kuncen karena terpanggil untuk merawat. Karena setelah penjaga makam sebelumnya meninggal, tidak ada orang yang merawat makam tersebut. Tak seperti kuncen lain yang sekedar menjadi penjaga, Mang Hasan tampaknya sekalian tinggal dalam makam. Aktivitas makan, minum dan tidurnya tampaknya berada dalam makam tersebut.

Meninggal tahun 1811. Itulah yang diketahui Mang Hasan. Ketika kecil, ia pernah melihat langsung tulisan pada batu nisan yang menerangkan tahun meninggalnya sang buyut. Lain dari keterangan tersebut yang disampaikan Mang Hasan hanya didapat dari keterangan dari mulut ke mulut (cerita tutur).
Seperti nama, Siapa Siti Zaleha hingga kini menjadi misteri. Dari namanya diyakini ia sebagai muslim. Bahkan seorang muslim yang taat beragama, suka menolong sesama, membuatnya hingga kini dihormati.

Itu terlihat dari orang-orang yang datang berziarah ke makam. Layaknya kebanyakan makam keramat, tentu saja orang datang meminta kepada sang pencipta. Hanya saja melalui makam tersebut, diyakini cepat terkabul. (cerita mang Ruslan).

Anehnya, warga Palembang sendiri tak banyak berziarah. Keterangan Mang Hasan, ditambah Ruslan yang sejak tahun 1960an tinggal di dekat makam, orang luar malah banyak menziarahi makam buyut Silaberanti. Mereka berdatangan dari Baturaja, Muara Enim, Sungai Lilin, Jambi hingga pulau Jawa. Dari keterangan Ruslan yang banyak berbincang dengan peziarah mereka umumnya seperti mendapat pesan atau panggilan. Entah melalui mimpi atau bisikan, mereka diminta datang berkunjung. Untuk berobat dan ragam keperluan lain. Itu terjadi sejak dirinya masih kecil hingga berkepala lima saat ini dan anehnya, sebelum mengunjungi makam Siti Zaleha, mereka terlebih dulu mendatangi makam perempuan bernama Siti Fatimah di Pulau kemarau. Dari rangkaian inilah, warga sekitar menyakini jika Siti Zaleha merupakan saudara Siti Fatimah.

Pun begitu, cerita seputar misteri makam buyut Silaberanti sudah mengakar pada warga sekitar. Dari cerita warga, sejak dulu aroma mistis selalu menyertai. Cerita Ruslan, ketika kecil terdapat sebuah lubang pada makam tersebut. Orang berziarah yang memasukan tangannya ke lubang tersebut, akan mendapatkan hal yang berbeda. “Ada yang dapat bunga pertanda baik. Kalau jelek, mereka masukin tangan dapat buntang tikus atau ular pertanda buruk. Ada juga tongkat dalam makam tersebut. Tongkat itu kalau diukur oleh peziarah panjangnya berubah. Kadang memanjang, bisa juga memendek. Sekarang, lubang serta tongkat itu sudah hilang,” ujar Ruslan.

Nama jalan Silaberanti sendiri diyakini berasal dari sang buyut. Yang ketika meninggal tengah duduk bersila. “Sila artinya bersila. Beranti itu tengah berhenti. Dari orang-orang tua, buyut ini merupakan putri yang merantau dan tiba di Palembang tempatnya dimakamkan sekarang bersama panglima dan pengawalnya. Dia meninggal waktu bersila ditambah beranti biar warga luar itu mampir, sehingga jadi silaberanti,”  - Wallahu a’lam ......

Jaka Baring dan ASal Usulnya

ASAL MULA NAMA JAKABARING DAN TUGU PARAMESWARA



Jakabaring adalah sebuah singkatan dari warga pendatang yang membentuk satu komunitas di kawasan Seberang Ulu antara 8 Ulu Bungaran dan Silaberanti.

Nama Jakabaring sendiri tidak bisa dilepaskan dari sosok Sersan Mayor Inf Tjik Umar, anggota TNI yang pernah bertugas di Kodam II Sriwijaya. Tjik Umar lah turut andil dalam penentuan nama Jakabaring. Dia adalah warga Lampung yang membangun rumah di dalam hutan belukar berawa-rawa dibelakang Markas Poltabes Palembang (sekarang). Saat ini Tjik Umar (74) sudah pensiun dan tinggal bersama isteri keduanya di Jalan Ki Merogan Lorong Mawar Kertapati Palembang.

Tjik Umar mengisahkan, pemberian nama Jakabaring adalah hasil pemikiran dirinya sendiri. Ketika itu, Tahun 1972 pemerintah menggusur pemukiman warga di kawasan 7 dan 8 Ulu, karena terkena proyek pengembangan kawasan Jembatan Ampera. Tjik Umar pada tahun itu masuk Jakabaring, Saat itu kawasan Jakabaring masih hutan belukar dan berawa. Ia langsung membangun rumah dengan menimbun rawa. Sampai sekarang rumah itu masih lengkap.

Setelah isterinya meninggal, Tjik Umar menikah lagi dan membiarkan rumahnya didiami mertua, anak serta cucu-cucunya. Sedangkan dia pindah ke Kertapati bersama isteri keduanya. Pada 1972 juga, dirinya diangkat sebagai Ketua RT 14, Kelurahan 8 Ulu. Sebagai Ketua RT, dia menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, bahkan hingga jumlah warganya mencapai 460 KK. Tjik Umar cukup disegani dan dihormati di kawasan Jakabaring.

Tjik Umar melakukan penelitian dan mendapati asal warga di sana ada yang dari Jawa, Batak (Sumut), Kaba (Lekipali), Komering Ilir, Komering Ulu dan Lampung. Kebetulan, warga di sana ada namanya Suparto asal Jawa disingkatnya menjadi JA. Ada pula Drs Zulkipli, asal Kaba (Lekipali) disingkat KA. Ada warga namanya A Kadir Siregar asal Batak Sumut disingkat BA, dan Ali Karto (Purn TNI AD) asal Komering Ilir serta Kamaluddin (Purn TNI) asal Komering Ulu, disingkat RING. Maka diperoleh singkatan JA, KA, BA, Ring lalu digabung menjadi JAKABARING. Hari jadi tebentuknya kawasan Jakabaring ditetapkan tanggal 26 April 1972. Harapan Tjik Umar bahwa daerah ini akan berkembang sekarang menjadi kenyataan.

TUGU PARAMESWARA
Gagasan membangun tugu Parameswara guna menunjukkan Palembang sebagai simbol pemersatu rumpun Melayu di Nusantara. "Semua wong Melayu yang ada di Nusantara, khususnya di Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, dan Brunei berasal dari Palembang. Mereka semua keturunan dari Parameswara dan pengikutnya, seorang panglima dari Palembang.
Jadilah tugu di Jakabaring tersebut dengan nama Parameswara, raja Melayu Pertama yang turun dari bukit Siguntang, Palembang.

Friday, February 14, 2014

Fenomena Perempuan dan Kobokan

METAMORFOSA PEREMPUAN
(Dalam Kegilaan Materi)

 
Mahluk manis itu bernama “Perempuan”
Perempuan itu bernama;
Princes,
Jelita,
Bunga,
Dewi,
Gundik,
Cabe-cabean dan banyak lagi tak terperi

Perempuan terjebak pusaran zaman
Terperosok oleh ambisi,
Diberangus oleh emansipasi, sampai .......
Kemudian hanya menjadi koleksi

Zaman telah melahirkan banyak kolektor bunga
Sang Bunga disirami dengan larutan Toyota, dipupuk dengan Honda, disiangi dengan Rupiah dan Dolar.
Sang Princes,
Sang Jelita,
Sang Bunga,
Sang Dewi,
Sepakat menjadi Gundik.

Gundik tak lebih dari kobokan,
Tempat sang kolektor mencuci tangan, 
Gundik, tak lebih dari kakus,
Tempat sang kolektor buang hajat

Na’u dzubillah.....