Monday, November 18, 2013

Tepi Sungai Vistula - Agung Teguh Nugroho


Lambaian tangan itu.. diatas kanvas..

Sore di Venezia.. tepian sungai Vistula yang membuai dan banyak sekali pendatang untuk menikmati hangat sore mentari yang menyirami muka.

“Adakah kau memperhatikan ku, menatapi segala imajinasiku tentang apa yang ku ejakan dalam warna yang megah ini, memberikan sejuta semangat yang tak pernah reda “. Aku menatap mu, menatapi setiap gerakan ekspresi mu, suara biola itu memang sangatlah indah, seperti keindahan yang mengindahimu, semakin indah. Kau.. lima meter di sampingku, yang setiap sore mengalunkan nada satir tentang sepinya hati, aku maknai suara sayat biola mu seperti itu. Apakah benar..?

Kau sangat indah, sementara aku hanya seseorang yang mangagumimu dan tak pernah mengagumi diri ku sendiri.

Kau seorang kaya yang sempurna yang sengaja ke sini, ketepi Vistula ini hanya untuk ekspresi sepimu, dan aku seorang miskin dari Turin, dengan tanpa kesempurnaan cacat di kakiku yang sengaja datang kesini, ketepi Vistula ini untuk uang dan untuk hidupku. Kita sangat lah jauh berbeda.
Ada beragam macam yang berkecamuk di hatiku.. sa’at kau pernah utarakan bahwa ingin mu agar ada seseorang yang mampu membaca not yang kau buat menjadi melodi, kau mencari seseorang yang bagimu mungkin tak pernah datang..

Kita tak pernah bicara semenjak itu. Kau seperti menjauh, seperti menyangkal bahwa sebenarnya ada seseorang yang bisa membaca melodi biola mu.. melodi – melodi satir hatimu yang muaranya ada di timfani hatimu.. tentang sepi yang tak pernah reda dalam hidupmu, dan itu adalah aku.
Apa kau malu menatap ku.?
Melodi mu sesungguhnya adalah keindahan, keindahan yang sungguh-sungguh. Seperti aku yang menatapmu.

Sore ini kau tak datang, aku benar – benar merenungi ketakadaan mu di sini…
Vistula ini menjadi sangat sepi… temaram senja menjadi tak hangat.., pandangan ku kosong, ini tak terduga bagi ku bahwa kau telah menjadi aroma hidupku. Adakah kau sekarang yang entah ada dimana merasakan hal yang sama dengan ku..

Sore ini di hari berikutnya ketika ada seseorang turis yang memintaku untuk melukiskan wajah istrinya.. aku bertanya “Anda punya fotonya?. Dia menggeleng atau begini saja, bisa anda terangkan bagaimana bentuk wajahnya, oval, atau… dan dia menggeleng lagi. Katanya, istriku adalah yang tercantik dan teranggun, jadi lukislah orang yang tercantik di dunia ini maka itu adalah isteriku. Aku pun menurutinya.. aku memejamkan mata mencoba manatapi memoryku untuk kembali mengingat wajah tercantik yang pernah aku lihat. Tak ada, tak ada yang terlintas, ada kamu, hanya adakamu. Memoryku mengingat gamblang wajah mu. Dan mulailah ku buatan background violet, lalu wajahmu, lekukan wajahmu, gaun mu, geraian rambutmu, tapi tak ada biola di sisi wajahmu. Dan selesai..

Perfect..!! itu katanya istriku sangat lah cantik, sangatlah anggun, tapi ini bukan istriku, ini adalah amazing yang tercipta dari imajinasimu, sempurna warnanya seperti hati mu yang melukiskannya dengan cinta.. Apakah dia kekasih mu..? Aku hanya tersenyum..
Sudah dua hari ini kau tak di sini, Vistula ini dan aku sangat merinduimu..
Apakah semburat jingga mentari di sana memberitahumu bahwa di sini ada pelangi – pelangimu. Ku putarkan kursi roda ku, ku arahkan pada tepi Vistula , semoga semilir yang melewati sungai dan wajahku bisa merapikan jenuh hari ku sa’at tak ada kamu. Burung yang terbang gembira, menyambar-nyambar di atas riak sungai.. sepertiku yang sa’at ini sedang berusaha untuk membuang satu – satu ejaan hati tentang mu, memang aku bermelody sendiri berupaya mampu untuk membaca melodi mu padahal ..

“Aku minta kau melukis ku..!! Lamunan ku buyar seketika.. Aku kenal suara itu, meski aku lebih mengenal suara biola mu, Kau..!! mendatangiku untuk minta ku lukis. “Kenapa diam.., bisa melukisku?. “Ya..” aku tergopoh menjawabnya, seolah tak percaya bahwa didepanku itu kamu. Kau ambil biola mu.. kau mainkan tetapi nadanya sedikit agak riang tak lagi chord – chord sayu.
Aku tak bisa menggoreskan kuas pada kanvasku, kujulurkan tangan ku untuk memintanya agar berhenti memainkannya.

“Lukisan ku ada di melodimu, lukisan itu adalah jiwa ku, yang menapakimu diam–diam sampai kau tak sadar bahwa ada aku di sana . Cinta kah yang kau cari, Bukankah cinta itu membuatmu, hidup mu lebih berwarna, samakan dengan lukisan ku, warna yang mewarnai kanvas kemudian mencipta gradasi dan sketsa. Aku lima meter di sebelahmu berbulan–bulan lamanya, yang menghasrati mata agar tak pindah menatap yang lain, meski semburat jingga sering menggodaku untuk menatapnya. Aku memang tak bisa membungkuk untuk mengambil mawar di taman Turin , untuk mu, karena aku cacat, tak sempurna. Tapi hati ini telah menyemai ribuan mawar yang lebih indah untuk mu, yang dapat kau petik di tiap harimu. Ada senggang yang ku lewatkan kemarin, aku tak sadar, begitu remahnya jiwaku berkeping–keping, betapa risaunya hariku, dada ini tak berhenti mengiramakan mu. Kau lihat langit biru itu, mengapa Tuhan membuatnya berawan, mendung. Mengapa tak biru indah itu saja. Itu adalah keserasian, bahwa awan dan mendung di ciptakan ada bukan untuk memburukkan tampilan jiwa.

Kami terdiam.. Lama… Sampai satu dua lampu taman menyala, itu pertanda bahwa mentari hanya tinggal mempunyai sedikit sinar untuk bumi.

“Aku mencintaimu..” Suara pelan itu sangat indah terdengar di telingaku. Bukan karena maksud yang terkandung didalamnya, tapi karena aku seperti mendengar lyric bahagia di gesekan biolamu.

“ Kau tidak menjawabnya..?” tanyamu pelan.

“Apakah genggaman erat tangan ku ini tak mewakilinya..”. Dia tersenyum.

“Aku mencintaimu“ jawabku. Diatas sana bintang – bintang mulai bermunculan.

Dan kami hingga tengah malam ada di sini, tepi sungai Vistula .. yang mengalirkan nada–nada indahnya untuk kami, yang mewarnakan sketsa bahwa cinta itu ada di dalam hati yang paling dalam, yang mengikhlaskan keagungan cinta itu berada pada kesungguhan hati untuk dapat mengibarkannya tanpa harus memiliki wajah indah, tubuh yang sempurna.
Karena cinta akan memberimu keindahan hidup yang hakiki, sa’at yang kau sadari adalah benar sesuatu itu di hatimu.

Buah karya @Ngeblus Ngerock N Roll