Tuesday, November 19, 2013

LAPAR..?! (Medali Kepekatan) - Agung T N


Ini... memang hanya ini yang kita punya nak...
Tak ada lagikah..?
Tak ada, Bapak tak mau membohongi mu dengan merebus batu kemudian kukatakan itu ubi..
Ini hanya beberapa butir nasi.. tak sampai dua puluh butir..
Itu juga kutemukan bukan di piring, walau sisa orang...
Tapi di tepi dinding warung nasi sisa dari nasi yang menyelip di gigi orang yg makan,
Kemudian di tiupnya hingga nempel di dinding dan kemudian kuambil untuk mu...
Apa kita sesusah ini Bapak..?
Tidak..!!, Walau sudah tentu kau rasakan ini pahit..

Angin kemudian hilir mudik di selip ketiak kami..
"Nyaman ya anak ku.."
"Iya, tapi tidak perutku".
"Perutku tidak berkeringat Bapak, yang akan hilang saat sepoi menyapa". " Perut ku lapar".
Inilah sekarang, walau lapar tak menahan, tapi kita tak hidup dalam mimpi.
Tidak seperti orang yg diatas sana, yang dengan tega membunuh Civil Education
Dan mengembar-gemborkan fitnah, padahal mereka dan kita masihlah family..

Bagimu mungkin rumit anakku..
Yang masa depannya lekang seperti rusukmu yang keluar karena sering tak makan.
Tapi bapakmu tetap bersyukur..
Hidup bapak mu tak didalam mimpi, dan orang jadi berpikir tentang realita.
Meski durjana benar orang di atas sana, yang seolah orang seperti kita hanya khayal saja..
"Anak ku.." ku guncang tubuh mu.. kecil ringkih, seolah tak berdaging..
"Hembuskan nafasmu"
"Hembuskan nafasmu"
"Hembuskan nafasmu"
............................. Uugh... anakku...

Tuhan damaikanlah anakku dan mimpinya..
Dalam serong lihai munajat para Nabi..
Semoga terendus oleh tinta zaman, bahwa adab tentulah bertuan.
Kemasyhuran anakku yang hanya bertulang, tapi tetaplah ia Medali Kepekatan.
Tentang jiwa penindas, atau penolong yg bertele-tele..
Bukankah sama saja..

Lapar tentulah kini.. tapi Idealis ini tak terganti..
Anakku dan mimpinya, tentang lapar dan tulang rusuknya..