Sunday, April 21, 2013

Mengapa Kartini Bukan Tjoet Nyak Dhien?!!

Semalam saya mendapat BC dari sohabat saya di Jogja (Bro @Sholihul Hadi Al Bimasyru) sebuah renungan tentang “Mengapa harus kartini?” selanjutnya saya harus bersibuk ria mempersiapken perhelatan “Kartinian” anak-anak PAUD Taman Hati – Kedaung, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang diperuntukkan bagi anak-anak dhuafa. Lembaga PAUD Taman Hati didirikan di tengah perkampungan pemulung, karena untuk dhuafa sehingga FREE atau GRATIS TIS. (Et Dah… maaf saya malah promo tentang pendidikan anak usia dini di PAUD Taman Hati, maklum siapa tahu berminat menjadi donaturnya hahaha... ngarep) karena kebetulan saya termasuk pendirinya. Hehehe… Hari ini bangsa Indonesia memperingati hari “Kartini” yang konon katanya merupakan pahlawan emansipasi wanita. Namun jauh sebelum Kartini sesunggunya banyak wanita-wanita Indonesia yang memiliki cita-cita luhur bahkan sudah mengaplikasikannya.

Cut Nyak Dhien

Semestinya Cut Nyak Dhien, Mengapa harus Kartini!
R.A. Kartini

Tertarik untuk menulis tentang pahlawan perempuan (Kartini) yang hari kelahirannya di peringati oleh seluruh bangsa ini (kecuali saya dan teman-teman sepikiran, karena saya tidak ikut merayakannya, hehehe), bukan bermaksud mengadili atau membandingkan profil Kartini dengan pahlawan perempuan lainnya namun alangkah baiknya, kita lihat dengan obyektif apa dan bagaimana Kartini menjadi populer. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, kumpulan surat-surat Kartini yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengadjaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatken Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya.

Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu. (yang bener aja, PADAHAL Kartini hanya curhat melalui surat kepada sahabat-sahabat londho-nya, dan curhatnya cenderung LEBAAAY, untunglah pada masa itu belum ada Face Book, kalau sudah ada FB maka bisa dipastikan status Kartini sangat lebay dan wall-nya penuh dengan foto-foto narsisnya hahaha….).

Mari sejenak heningkan cipta (dimulai…. – Penulis), heningkan rasa, heningkan pikir supaya menjadi jernih dalam melihat dan memandang sebenarnya seperti apa isi kepala, isi hati (jiwa) sang Kartini, berikut petikan pemikiran atau tulisan (surat) Kartini dan sebagai pertimbangan pemikiran saya cantumken pula pemikiran dan semangat sang pejuang Tcoet Nyak Dhien;
•    6 November 1899, Kartini menulis keluh kesahnya (kalau sudah ada FB pasti update status) : “Duh Tuhan,…. Kadang aku ingin, hendaknya tak ada satu agama pun diatas dunia ini, karena agama-agama ini yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad telah lewat menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam” ini mencerminken bahwa pemikiran Kartini cenderung skeptic dan atheis)
•    Tjoet Nyak Dhien, Pejuang sejati berkata : “Islam adalah agama kebenaran dan harus diperjuangkan sampai akhir darah menitik”.
•    Kartini menulis keluh kesahnya : “Hatiku menangis melihat segala tatacara ningrat yang rumit itu”. (Ini mencerminken betapa lemahnya jiwa sang Kartini). Lebay kan?!
•    Tjoet Nyak Dhien berkata (Pesan yang disampaikan kepada “Tjoet Gambang” anaknya, ketika ayahnya Teuku Umar tertembak mati sebagai Syuhada): “Kita perempuan seharusnya tidak menangis dihadapan mereka yang telah syahid”. Dari ucapannya tercermin ketegaran hati dan bagaimana ia menanamkan jiwa besar kepada anaknya.
•    Kartini menuliskan cita-cita dan harapannya : “Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1990). Pernahkah kita tahu tugas besar apa sesungguhnya yang di bebankan kepada Kartini oleh Belanda?
•    Tjoet Nyak Dhien berkata untuk membangkitkan semangat juang bangsanya : “Untuk apa bersahabat dengan ulanda kaphe (Belanda Kafir – Penulis) yang telah membakar masjid-masjid kita dan merendahkan martabat kita sebagai muslim!”

Beberapa sejarawan sudah mengajuken bukti bahwa klaim Kartini sebagai pahlawan dan diperingati sebagai hari pahlawan karena peran sertanya dalam hal emansipasi wanita, hal semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasiken. Tapi yang mereka lakuken lebih dari yang dilakuken Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Selanjutnya Tjoet Nyak Dhien, Tengku Fakinah, Tcoet Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh.
Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bachtiar (Guru Besar Universitas Indonesia) mengungkapken : “Penokohan Kartini tidak terlepas  dari peran Belanda”. Didukung oleh pakar sejarah melayu, Prof Naquib Al-Attas mengingatkan bahwa ada upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Nusantara. Mari kita ingat jauh kebelakang, bahwa sebelum Belanda datang ke Indonesia, kerajaan Aceh telah memiliki seorang panglima angkatan laut perempuan yakni Malahayati, jadi mengapa harus Kartini? (Why… hehehe…..)
Laksmana Malahayati
So .…. sebaiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Tjoet Nyak Dhien?..... Mengapa Abendanon memilih Kartini? dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Tjoet Nyak Dhien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Bayangken, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi:
Ibu kita Tjoet Nyak Dhien.
Putri sejati.
Putri Indonesia…,
Mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini? Woiii mengapa?

(Terima kasih untuk Kang Mas Sholihul - untuk BC-nya saya jadi pengen nulis)