Monday, January 14, 2013

Syari'at Islam Itu Penting

Urgensi Nabi Muhammad Saw dan Syariat Islam bagi Bangsa


KH. Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI

Bangsa Indonesia adalah mayoritas muslim dan sudah hidup dengan ajaran Islam sejak nenek moyang kita masuk Islam sejak sekitar abad 12M — menurut catatan sejarah Palembang dan Jambi sudah sejak abad ke 7. Bahkan ketika para penguasa di seluruh nusantara masuk Islam, maka mereka memerintah dengan syariah.  Menurut catatan KH. Ali Yafie, para sultan telah menerapkan hukum-hukum syariat Islam dalam bidang pemerintahan, ekonomi, hukum pidana, sosial, dan ibadah ritual.  Ketika VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda menjajah nusantara, maka pemerintah kafir kolonial Belanda mencabut hukum-hukum Islam dalam bidang pemerintahan, ekonomi, dan hukum pidana lalu digantikan dengan sistem kapitalis yang diadopsi pemerintah kafir kolonialis Belanda. Sedangkan hukum dalam hubungan sosial kemasyarakatan seperti perkawinan tidak dicabut, namun Belanda memperkenalkan hukum sipil Belanda dan lembaga Kantor Catatan Sipil.  Sedangkan hukum-hukum Syariat Islam dalam bidang ibadah ritual dibiarkan berkembang oleh Belanda.

Ketika Indonesia mau merdeka, umat Islam di BPUPKI mengajukan agar negara yang akan didirikan nanti menerapkan hukum syariat Islam kepada seluruh warga negara, baik muslim maupun non muslim.  Usulan tersebut mendapatkan tentangan dan tantangan keras dari orang-orang Nasrani dan kaum nasionalis sekuler. Lalu dicapailah jalan kompromi dengan apa yang disebut Piagam Jakarta, yakni negara berdasarkan Ketuhanan dengan menjalankan syriat islam bagi para pemeluknya.  Kompromi ini dirumuskan oleh panitia 9 dan disebut oleh Bung Karno sebagai gentlemen agreement dan disepakati pada tanggal 22 Juni 1945 sebagai mukadimah UUD 1945.  Namun sayang sehari setelah proklamasi Kemerdekaan, yakni pada tanggal 18 Agustus 1945, mukadimah atau pembukaan UUD 1945 itu diubah menjadi negara berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan kalimat dengan menjalankan Syariat Islam bagi para pemeluknya dicoret. 

Sejak itulah hingga hari ini siapapun yang menjalankan pemerintahan di Indonesia tidak berani mengadopsi syariat Islam sebagai hukum dan perundanganformal di Indonesia, khsusnya dalam hukum syariat yang dihapus oleh Belanda, yakni  hukum-hukum Islam dalam bidang pemerintahan, ekonomi, dan hukum pidana.  Sekalipun sudah merdeka, bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini tidak diurus kemaslahatannya dengan hukum dan perundangan syariat Islam dalam bidang pemerintahan, ekonomi, dan hukum pidana. Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim masih diatur dengan sistem kapitalis warisan pemerintah kafir kolonialis Belanda.  Kalau ada UU atau peraturan baru dibuat dengan referensi kaum kafir kolonialis, baik itu Belanda, AS, Australia, dan lain-lain sesuai dengan alumni mana para pembuat peraturan dan perundangan itu.

Bangsa Indonesia Butuh Nabi Muhammad saw. dan Syariat-Nya

Nabi Muhammad saw. adalah rasul yang diutus oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, untuk seluruh umat manusia (QS. Saba 28) dengan membawa jalan hidup dan aturan hidup yang sempurna, yakni aturan hidup Islam. Allah SWT berfirman: “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu”. (QS. Al Maidah 3). 

Islam sebagai aturan hidup yang telah disempurnakan dan diridlai oleh Allah SWT untuk umat manusia itu telah diajarkan semuanya dan dicontohkan semuanya secara praktis oleh Baginda Nabi Muhammad saw. 

Jadi Nabi Muhammad saw. adalah manusia utama dan mulia yang telah berjasa menyampaikan jalan hidup sempurna, yakni jalan hidup Islam, dalam teori dan praktek yang bisa kita telusuri dalam Al Quran, As Sunnah, maupun Sirah Nabi Muhammad saw. sepanjang kehidupan beliau, khususnya sejak turunnya Al Quran hingga wafatnya beliau saw. 

Selayaknya seluruh umat manusia bersyukur dengan kedatangan nabi Muhammad saw. Yang telah mempersembahkan seluruh kehidupannya untuk membuka kegelapan jahiliyah dengan sinar hidayah Allah Pencipta manusia, kehidupan, dan seluruh alam semesta (QS, Al Ahzab 45-46). Keberadaannya diperlukan oleh umat manusia. Namun sayang banyak yang tidak mau bersyukur atas kedatangan Nabi Muhammad saw. dan tidak mengerti bahwa sesungguhnya mereka sangat butuh dengan kedatangan Nabi saw dan mereka menyia-nyiakan syariat Islam yang beliau saw. bawa.   

Apa kebutuhan manusia termasuk bangsa Indonesia kepada Nabi Muhammad saw.?

Pertama, manusia punya kebutuhan untuk beribadah, karena manusia punya naluri beragama (gharizah tadayyun) sehingga ingin selalu mensucikan dan menyembah Tuhan yang menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta ini. Namun bagaimana caranya? Tentu manusia tidak boleh ngarang sendiri. Tapi manusia harus mengikuti cara beribadah yang ditetapkan oleh Allah Tuhan pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Cara ibadah kepada Allah SWT telah Dia ajarkan kepada Rasulullah saw. agar disampaikan dan dicontohkan kepada manusia supaya manusia bisa beribadah dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, dzat yang tidak ada yang disembah kecuali Dia, laa ma’buuda illallah.

Inilah kenapa dalam tata cara ibadah sholat Rasulullah saw. bersabda: “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Sedangkan dalam ibadah haji Rasulullah saw. bersabda: “Ambillah dariku manasik kalian”. 

Artinya, manusia tidak boleh mengarang-ngarang sendiri gerakan dan bacaan sholat, termasuk dalam hal ini misalnya menambah rakaat sholat subuh menjadi 4 rakaat dan mengurangi rakaat sholat Isya’ menjadi satu rakaat, apapun alasannya. Demikian juga misalnya tidak dibenarkan orang Indonesia menyelenggarkan ibadah haji tidak ke bitullah di Makkah tapi di monas Jakarta.  

Kedua, dalam memenuhi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari, baik kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan sosial, sering terjadi benturan kepentingan antara manusia yang satu dengan yang lain, bahkan tidak jarang konflik tersebut mengantarkan kepada terjadinya pembunuhan dan peperangan yang menghancurkan satu sama lain. 

Oleh karena itu, diperlukan suatu hukum yang adil dan mumpuni yang betul-betul tahu karakter manusia dan tahu apa sebenarnya kebutuhan manusia. Hukum itu tentunya harus datang dari Yang Maha Adil dan Yang Maha Tahu, yakni Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan manusia, kehidupan, dan alam  semesta maha tahu  apa  yang baik dan buruk buat manusia. Itulah hukum syariat Allah SWT. Maka di sinilah perlunya dan butuhnya manusia kepada Nabi Muhammad saw., rasul utusan Allah SWT yang membawa hukum Allah SWT, syariat Allah SWT, untuk menyelesaikan berbagai persengketaan dan perselisihan di antara umat manusia.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik". (QS. Al An’am 57).

Ketika terjadi konflik antara para pemimpin Yahudi dengan pihak lain, mereka  mendatangi Rasulullah saw. dan mengatakan kepada Nabi saw. bilamana beliau saw. memenangkan perkara mereka, mereka akan masuk Islam. Rasulullah saw. enggan memenuhi aspirasi mereka. Lalu turunlah firman Allah SWT: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Maidah 49).

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. di atas adalah merupakan implementasi dari Piagam Madinah yang sudah dibuat sebelumnya antara Rasulullah saw. sebagai kepala negara dengan seluruh komunitas yang ada di kota Madinah, termasuk kaum Yahudi.

Isi yang paling penting dari Piagam Persatuan Kota Madinah itu adalah bahwa hubungan antara Yahudi dengan kaum muslimin dibangun atas dasar berhukum kepada Islam, mereka tunduk kepada kekuasaan kaum muslimin, dan terikatnya Yahudi kepada kemaslahatan negara Islam. Di antara poin dalam piagam tersebut yang menunjukkan hal itu adalah: bahwasanya bilamana terjadi suatu peristiwa atau konflik di antara penandatangan shahifah ini  yang dikhawatirkan terjadi kerusakan, maka perkaranya dikembalikan kepada Allah SWT dan Muhammad Rasulullah saw. 

Khatimah

Dengan melihat praktek Rasulullah saw. dalam penerapan syariah di kota Madinah, bahkan terhadap para pemimpin Yahudi di kota Madinah, maka menjadi urgensi bangsa Indonesia hari ini untuk mendapatkan penerapan syariat Islam secara formal oleh negara dalam hukum-hukum pidana, kebijakan ekonomi makro maupun mikro,  serta hukum syairat dalam bidang politik dan pemerintahan untuk melengkapi pelaksanaan hukum syariat Islam yang selama ini secara kultural  dalam masalah-masalah ibadah ritual. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq.

sumber dari http://www.suara-islam.com/detail.php?kid=4191&aksi=postcomment#commentpost