Wednesday, December 26, 2012

Indonesia Dari Masa ke Masa

ORDE KEBETULAN DAN KESALAHAN
(Refleksi Ujung Tahun 2012 untuk Indonesia Raya)


Waktu telah menulis rentetan peristiwa perjalanan Indonesia Raya. Cikal bakal Indonesia dari zaman pra sejarah sampai dengan zaman pat gulipat (abad 21). Tingkah polah para penguasa tercatat dengan rapi dari era homo wajakensis, homo soloensis sampai dengan era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis, era trio macanensis –iwak peyek hingga era Acengensis - Garut.

Era Purba/Prasejarah tanah air ini belum bernama Indonesia, tulisan ataupun artikel tentang bagaimana para pemimpin purba memimpin kaumnya dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi, tidak jarang sering berperang hanya demi mempertahankan/memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin akan dipilih karena memang layak memimpin dan memiliki daya linuwih, bahkan pemimpin dianggap sebagai tuhan/dewa yang mengejawantah. Ini kita ketahui dari arteefak-arteefak  peninggalan pada masanya. (ternyata menelusuri fakta sejarah dari arteefak atau benda-benda peninggalan lebih mudah dari pada menelusuri fakta kejahatan para mafia tender, mafia hukum dan menelusuri fakta rentetan korupsi para “seniman koruptor” yang buktinya sudah nyata-nyata terlihat, teraba dan terasa)

Abad 19, Indonesia raya merdeka, pejuang & revolusioner kita mempu melepaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah yang karena ketololan leluhur kita pula, seperti bagaimana Sultan Haji dari Banten merangkul mesra VOC yang hanya sebuah organisasi dagang kafir hanya demi merebut tahta dari sang ayah Sultah Ageng Tirtayasa, bagaimana kaum adat yang mengirim berita “SOS” kepada VOC hanya demi memerangi Kaum Padri Imam Bonjol, bagaimana dampak perjanjian Giyanti yang merobek kedaulatan tanah jawa menjadi skoci-skoci mungil. Sehingga dampak ketololan itu semua semakin member angin segar bagi kaum penjajah untuk lebih eksis hingga 3,5 abad. Era kebangkitan, tamil sang guru, tokoh yang menetaskan banyak revolusioner cendekia beliau adalah Al-Mukarom Kyai Haji Sam’an Hudi yang membidani lahirnya organisasi dagang dengan nama Serikat Dagang Islam sebagai balancing bagi organisasi dagang VOC, yang dari padanya mengalir insan-insan hebat seperti H O S Cokro Aminoto yang meremajakan SDI menjadi SI dan sudah lebih merambah ranah politik, dari tangan dingin HOS Cokro Amionoto inilah lahir tokoh-tokoh seperti Soekarno, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, K. H. Agus Salim dll, rupanya kemesraan tokoh-tokoh kita harus terbelah menjadi beberapa bagian setelah menyusup konstruktor komunis “Tan Malaka” dan semakin kentara dengan adanya “SI Hijau” & “SI Merah”. SI Hijau berafiliuasi menjadi PSII dan SI Merah menjadi PKI hingga lahir goro-goro Madiun. Jabang bayi NKRI lahir jua dengan kebersahajaan dan liuk liku perjalananannya, lahir dengan ruh Piagam Jakarta dengan mencantumkan syari’at Islam didalamnya sebagai penghargaan atas perjuangan para mujahid dan cendekia Islam dalam membidani kelahiran NKRI, bergulirnya waktu sampai kepada geger GESTOK/G30S/GESTAPU lagi-lagi ulah PKI dengan ideologi kirinya. Hikmah dari peristiwa ini adalah melahirkon tokoh sentral SOEHARTO dari KOSTRAD bersinergi dengan SARWO EDI WIBOWO dari RPKAD (Sekarang KOPASUS) dan peran penting para ulama dan kyai yang mendorong semangat jihad umat Islam hingga PANCASILA kendatipun sudah tanpa “Syari’at Islam” tetap sakti dan eksis hinga hari ini. Orde Baru, sebuah orde dimana Indonesia merangkak dari keterpurukan akibat ulah PKI hingga menjadi “Macan Asia”, Indonesia kita “dulu” pernah menjadi lumbung pangan dunia, pernah menjadi pengekspor beras karena para petini mencintai sawah ladangnya, Pak Harto sering kali turun kesawah untuk menemui kaumnya dengan program “KLOMPECAPIR”-nya. Saya masih ingat betul diathun 1990 Pak Harto pernah dating ke kampung kami di “Belitang – OKU – Sumsel” kebetulan pada waktu itu saya ikut menyambut kedantangannya sebagai anggota pramuka waktu itu saya kelas II SMA Negeri Belitang. Tak lupa sebelum pamit ke Jakarta pak Harto menyumbang pembangunan Masjid Agung Belitang yang kebetulan waktu itu sedang di bangun. Bangga sekali rasanya kalau saya ingat masa-masa itu. Pk Harto hebat, seorang pemimpin yangb disegani dunia dan megayomi rakyatnya terlepas dari segala kekurangannya. Semoga Allah mengampuninya dan memuliakannya, Amien.

Orde baru ahirnya harus tumbang dan digantikan orde reformasi yang meledak hiruk pikuk tanpa kendali. Reformasi melahirkan singa podium “Amin Rais” dan sederet nama kemudian, walaupun sebelum itu sesungguhnya telah berteriak dengan lantang meskipun tanpa kawan seorang pembaharu “SRI BINTANG PAMUNGKAS”. Dan ……… reformasi pula yang berperan melahirkan dan membangkitkan kembali tokoh MERAH seperti “BUDIMAN SUJATMIKO – PRD”, CIPTANING – anak PKI yang bangga dengan ke-PKI-annya dan sukses menjadi anggota dewan yang terhormat, RIEKE “ONENG” DYAH PITALOKA – anggota dewan, dll. Mereka semua bernaung di bawah pendera partai peserta pemilu, Partai …………, (kasih tahu ga ya?) udah pada tahukan?!

Abad 21 (era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis hingga era trio macanensis dan era Acengensis - Garut). Adalah era millennium, era pat gulipat penuh tipu muslihat. Kalau dulu Indonesia menjadi “Macan Asia” sekarang ada juga macannya “Trio Macan” yang lepas dari kebun binatang dan dengan nafsu hewaninya mengumbar erotisme. Ternyata sudah melenceng jauh dari rencana awal mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 17-08-1945. Abad 21 juga telah melahirkan KGB (Komunis Gaya Baru) yang menyusup melalui berbagai media dan ormas,
Bapak-bapak kita menjadi pemimpin karena memiliki daya linuwih (lebih Nasionalis, lebih ideologis, lebih merakyat dan lebih-lebih yang lain). Sekarang pemimpin negeri ini ternyata memimpin karena 2 (dua) hal saja, yakni KEBETULAN dan KESALAHAN.
•    Kebetulan karena KEBETULAN menang PILEG, PILPRES, PILKADA dan PIL-PIL yang lain, jadi memang nawaetu-nya bukan memimpin bangsa ini, nawaetu-nya adalah niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll. Jadi walaupun sudah jadi pemimpin nagara (negarawan), jadi anggota dewan misinya kembali kehati nurani sebagaimana nawaetu-nya tadi yaitu niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll.
•    Kesalahan karena ternyata kita SALAH memilih. Kita tahu bahwa pemilihan apapun selalu sarat dengan money politic, sarat dengan intrik, penuh dengan tipu muslihat dan janji palsu. Kita tahu bahwa para kandidat adalah kaum burisrawa, para drakula atau bahkan dedemit mrakayangan. Namun masih dipilih juga. Ini adalah kesalahan kita yang fatal total-tal!!!

Setelah merenungi teorinya TATANG SUTARMA sebagaimana sodara kita Sule yang sedang membentuk "Partai Suleker's" , akhirnya didapati satu kesimpulan. Yakni 2014 dan selanjutnya jangan ada lagi kebetulan dan kesalahan, karena kebetulan dan kesalahan ini sudah terjadi kita harus legowo-lapang dada menikmati, pahit getir ini tingkah polah pemimpin bangsa ini. Dan untuk memperbaiki kerusakan akibat kebetulan dan kesalahan tadi tidak cukup hanya KPK, karena KPK konon Komite Penuh Kroni. Yang kita butuhkan adalah profil “HAKIM BAO” seorang hakim legendaris dari China yang piawai dalam menegakkan hukum. Wallahu a’lam ………………

Selamat taon baru mas bro dan mba sis
Moga taon depan semakin baek
Salaman nyok
Maapin segale salah aye ye, kalu ade sale kate, sale tulis, sale komen
Setaon, waktu nyang kaga lame, Cuma bentaran koq
Cius, Enelan….. Cumpah, Miyapapaun