Wednesday, December 26, 2012

Doa yang Tolol


Dalam untaian do’a, kuhasung namamu,
Mengikat rindu pada buluh-buluh nostalgia.
Mengenangmu adalah membuka peti mati,
Yang terkubur dua dasawarsa lebih,
Mengingatmu adalah memantik api dalam tungku yang beku,

Kita memang pernah ada, dan .....
Kita, memendam rasa dan asa dalam sandiwara tolol,
Tolol karena itu seharusnya tak terjadi, dan
Ketololan itu berbuah luka menganga,
Membiru.
Luka yang bernama penyesalan

Waktu memang terus berputar, dan
Tak kan pernah berhenti.
Apatah lagi kembali, dan
Kita masih sama-sama tolol, dan
Menyukai untuk tetap tolol

Dik,
Dalam ketololan ini,
Aku tetap mencintaimu, dan
Memupukmu agar tetap tumbuh dan
Berakar kuat dalam jerami hati, dan
Karena ketololan ini,
Justru yang mempertemukan kita