Monday, December 31, 2012

DO'A SEORANG AYAH (Mac Arthur)


Tuhan ku,

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakalah ia lemah,

Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut

Manusia yang selalu memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan

Rendah hati serta jujur dalam kemenangan



Bentuklah putraku menjadi manusia kuat dan mengerti

Bahwa mengetahui dan kenal akan dirinya sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar



Tuhan ku

Janganlah putraku dibimbing atas jalan yang mudah dan lemah

Biar Kau bimbing di bawah tempa dan desak kesulitan tantangan hidup

Bimbinglah putraku supaya tegak berdiri di tengah badai

Berbelas kasih pada mereka yang jatuh



Bentuklah putraku menjadi manusia berhati bening

Dengan cinta meninggi langit

Seorang putra yang mengjangkau kehari depan, tapi tak melupakan masa lampau



Dan setelah segalanya menjadi miliknya, semoga putraku dilengkapi hati yang ringan untuk menari

Serta selalu akan bersungguh hati, tetapi jangan sekali-kali menganggap dirinya terlalu bersungguhan

Berikan kepadanya kerendahan hati

Kesederhanaan dari keagungan hakiki

Fikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan sebenarnya



Dan aku orang tuanya akan berani berbisik :

“Hidup kami tidaklah sia-sia”

Friday, December 28, 2012

The Power Of Love - Celine Dion

video


The whispers in the morning
Of lovers sleeping tight
Are rolling like thunder now
As I look in your eyes

I hold on to your body
And feel each move you make
Your voice is warm and tender
A love that I could not forsake

(first chorus)
'Cause I am your lady
And you are my man
Whenever you reach for me
I'll do all that I can

Lost is how I'm feeling lying in your arms
When the world outside's too
Much to take
That all ends when I'm with you

Even though there may be times
It seems I'm far away
Never wonder where I am
'Cause I am always by your side

(repeat first chorus)

(second chorus)
We're heading for something
Some where I've never been
Sometimes I am frightened
But I'm ready to learn
Of the power of love

The sound of your heart beating
Made it clear
Suddenly the feeling that I can't go on
Is light years away

(repeat first chorus)
(repeat second chorus)

Wednesday, December 26, 2012

Doa yang Tolol


Dalam untaian do’a, kuhasung namamu,
Mengikat rindu pada buluh-buluh nostalgia.
Mengenangmu adalah membuka peti mati,
Yang terkubur dua dasawarsa lebih,
Mengingatmu adalah memantik api dalam tungku yang beku,

Kita memang pernah ada, dan .....
Kita, memendam rasa dan asa dalam sandiwara tolol,
Tolol karena itu seharusnya tak terjadi, dan
Ketololan itu berbuah luka menganga,
Membiru.
Luka yang bernama penyesalan

Waktu memang terus berputar, dan
Tak kan pernah berhenti.
Apatah lagi kembali, dan
Kita masih sama-sama tolol, dan
Menyukai untuk tetap tolol

Dik,
Dalam ketololan ini,
Aku tetap mencintaimu, dan
Memupukmu agar tetap tumbuh dan
Berakar kuat dalam jerami hati, dan
Karena ketololan ini,
Justru yang mempertemukan kita

Indonesia Dari Masa ke Masa

ORDE KEBETULAN DAN KESALAHAN
(Refleksi Ujung Tahun 2012 untuk Indonesia Raya)


Waktu telah menulis rentetan peristiwa perjalanan Indonesia Raya. Cikal bakal Indonesia dari zaman pra sejarah sampai dengan zaman pat gulipat (abad 21). Tingkah polah para penguasa tercatat dengan rapi dari era homo wajakensis, homo soloensis sampai dengan era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis, era trio macanensis –iwak peyek hingga era Acengensis - Garut.

Era Purba/Prasejarah tanah air ini belum bernama Indonesia, tulisan ataupun artikel tentang bagaimana para pemimpin purba memimpin kaumnya dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi, tidak jarang sering berperang hanya demi mempertahankan/memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin akan dipilih karena memang layak memimpin dan memiliki daya linuwih, bahkan pemimpin dianggap sebagai tuhan/dewa yang mengejawantah. Ini kita ketahui dari arteefak-arteefak  peninggalan pada masanya. (ternyata menelusuri fakta sejarah dari arteefak atau benda-benda peninggalan lebih mudah dari pada menelusuri fakta kejahatan para mafia tender, mafia hukum dan menelusuri fakta rentetan korupsi para “seniman koruptor” yang buktinya sudah nyata-nyata terlihat, teraba dan terasa)

Abad 19, Indonesia raya merdeka, pejuang & revolusioner kita mempu melepaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah yang karena ketololan leluhur kita pula, seperti bagaimana Sultan Haji dari Banten merangkul mesra VOC yang hanya sebuah organisasi dagang kafir hanya demi merebut tahta dari sang ayah Sultah Ageng Tirtayasa, bagaimana kaum adat yang mengirim berita “SOS” kepada VOC hanya demi memerangi Kaum Padri Imam Bonjol, bagaimana dampak perjanjian Giyanti yang merobek kedaulatan tanah jawa menjadi skoci-skoci mungil. Sehingga dampak ketololan itu semua semakin member angin segar bagi kaum penjajah untuk lebih eksis hingga 3,5 abad. Era kebangkitan, tamil sang guru, tokoh yang menetaskan banyak revolusioner cendekia beliau adalah Al-Mukarom Kyai Haji Sam’an Hudi yang membidani lahirnya organisasi dagang dengan nama Serikat Dagang Islam sebagai balancing bagi organisasi dagang VOC, yang dari padanya mengalir insan-insan hebat seperti H O S Cokro Aminoto yang meremajakan SDI menjadi SI dan sudah lebih merambah ranah politik, dari tangan dingin HOS Cokro Amionoto inilah lahir tokoh-tokoh seperti Soekarno, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, K. H. Agus Salim dll, rupanya kemesraan tokoh-tokoh kita harus terbelah menjadi beberapa bagian setelah menyusup konstruktor komunis “Tan Malaka” dan semakin kentara dengan adanya “SI Hijau” & “SI Merah”. SI Hijau berafiliuasi menjadi PSII dan SI Merah menjadi PKI hingga lahir goro-goro Madiun. Jabang bayi NKRI lahir jua dengan kebersahajaan dan liuk liku perjalananannya, lahir dengan ruh Piagam Jakarta dengan mencantumkan syari’at Islam didalamnya sebagai penghargaan atas perjuangan para mujahid dan cendekia Islam dalam membidani kelahiran NKRI, bergulirnya waktu sampai kepada geger GESTOK/G30S/GESTAPU lagi-lagi ulah PKI dengan ideologi kirinya. Hikmah dari peristiwa ini adalah melahirkon tokoh sentral SOEHARTO dari KOSTRAD bersinergi dengan SARWO EDI WIBOWO dari RPKAD (Sekarang KOPASUS) dan peran penting para ulama dan kyai yang mendorong semangat jihad umat Islam hingga PANCASILA kendatipun sudah tanpa “Syari’at Islam” tetap sakti dan eksis hinga hari ini. Orde Baru, sebuah orde dimana Indonesia merangkak dari keterpurukan akibat ulah PKI hingga menjadi “Macan Asia”, Indonesia kita “dulu” pernah menjadi lumbung pangan dunia, pernah menjadi pengekspor beras karena para petini mencintai sawah ladangnya, Pak Harto sering kali turun kesawah untuk menemui kaumnya dengan program “KLOMPECAPIR”-nya. Saya masih ingat betul diathun 1990 Pak Harto pernah dating ke kampung kami di “Belitang – OKU – Sumsel” kebetulan pada waktu itu saya ikut menyambut kedantangannya sebagai anggota pramuka waktu itu saya kelas II SMA Negeri Belitang. Tak lupa sebelum pamit ke Jakarta pak Harto menyumbang pembangunan Masjid Agung Belitang yang kebetulan waktu itu sedang di bangun. Bangga sekali rasanya kalau saya ingat masa-masa itu. Pk Harto hebat, seorang pemimpin yangb disegani dunia dan megayomi rakyatnya terlepas dari segala kekurangannya. Semoga Allah mengampuninya dan memuliakannya, Amien.

Orde baru ahirnya harus tumbang dan digantikan orde reformasi yang meledak hiruk pikuk tanpa kendali. Reformasi melahirkan singa podium “Amin Rais” dan sederet nama kemudian, walaupun sebelum itu sesungguhnya telah berteriak dengan lantang meskipun tanpa kawan seorang pembaharu “SRI BINTANG PAMUNGKAS”. Dan ……… reformasi pula yang berperan melahirkan dan membangkitkan kembali tokoh MERAH seperti “BUDIMAN SUJATMIKO – PRD”, CIPTANING – anak PKI yang bangga dengan ke-PKI-annya dan sukses menjadi anggota dewan yang terhormat, RIEKE “ONENG” DYAH PITALOKA – anggota dewan, dll. Mereka semua bernaung di bawah pendera partai peserta pemilu, Partai …………, (kasih tahu ga ya?) udah pada tahukan?!

Abad 21 (era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis hingga era trio macanensis dan era Acengensis - Garut). Adalah era millennium, era pat gulipat penuh tipu muslihat. Kalau dulu Indonesia menjadi “Macan Asia” sekarang ada juga macannya “Trio Macan” yang lepas dari kebun binatang dan dengan nafsu hewaninya mengumbar erotisme. Ternyata sudah melenceng jauh dari rencana awal mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 17-08-1945. Abad 21 juga telah melahirkan KGB (Komunis Gaya Baru) yang menyusup melalui berbagai media dan ormas,
Bapak-bapak kita menjadi pemimpin karena memiliki daya linuwih (lebih Nasionalis, lebih ideologis, lebih merakyat dan lebih-lebih yang lain). Sekarang pemimpin negeri ini ternyata memimpin karena 2 (dua) hal saja, yakni KEBETULAN dan KESALAHAN.
•    Kebetulan karena KEBETULAN menang PILEG, PILPRES, PILKADA dan PIL-PIL yang lain, jadi memang nawaetu-nya bukan memimpin bangsa ini, nawaetu-nya adalah niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll. Jadi walaupun sudah jadi pemimpin nagara (negarawan), jadi anggota dewan misinya kembali kehati nurani sebagaimana nawaetu-nya tadi yaitu niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll.
•    Kesalahan karena ternyata kita SALAH memilih. Kita tahu bahwa pemilihan apapun selalu sarat dengan money politic, sarat dengan intrik, penuh dengan tipu muslihat dan janji palsu. Kita tahu bahwa para kandidat adalah kaum burisrawa, para drakula atau bahkan dedemit mrakayangan. Namun masih dipilih juga. Ini adalah kesalahan kita yang fatal total-tal!!!

Setelah merenungi teorinya TATANG SUTARMA sebagaimana sodara kita Sule yang sedang membentuk "Partai Suleker's" , akhirnya didapati satu kesimpulan. Yakni 2014 dan selanjutnya jangan ada lagi kebetulan dan kesalahan, karena kebetulan dan kesalahan ini sudah terjadi kita harus legowo-lapang dada menikmati, pahit getir ini tingkah polah pemimpin bangsa ini. Dan untuk memperbaiki kerusakan akibat kebetulan dan kesalahan tadi tidak cukup hanya KPK, karena KPK konon Komite Penuh Kroni. Yang kita butuhkan adalah profil “HAKIM BAO” seorang hakim legendaris dari China yang piawai dalam menegakkan hukum. Wallahu a’lam ………………

Selamat taon baru mas bro dan mba sis
Moga taon depan semakin baek
Salaman nyok
Maapin segale salah aye ye, kalu ade sale kate, sale tulis, sale komen
Setaon, waktu nyang kaga lame, Cuma bentaran koq
Cius, Enelan….. Cumpah, Miyapapaun

Sunday, December 23, 2012

Menguak Misteri Ekskusi Karto Suwiryo

Misteri Ekskusi Imam Kartosoewiryo Ahirnya Terkuak
Berkat Sejarawan Fadli Zon

As-Syahid Imam Kartosuwiryo sedang diikat di tiang ekskusi

Komandan regu tembak, melakukan tembakan terakhir

Usai penembakan

Imam Karto Suwiryo sedang dituntun keluar kapal menuju area ekskusi

Pengawalan ketat menuju lapangan eksusi di pulau ubi kepulauan seribu

Tampak Imam As-Syahid keluar dari kapal

Tampak Imam usai makan siang terahirnya

Pemeriksaan kesehatan mejelang ekskusi

Upacara yang dilaksanakan oleh regu tembak sebelum ekskuid dilaksanakan
Misteri terkait kematian pejuang Islam dan bangsa Imam DI/TII Sekarmadji Marijan Kartosoewiryo akhirnya terkuak. Setidaknya bagaimana proses eksekusi dan lokasi pekuburannya dapat masyarakat ketahui sekarang.


Selama 50 tahun, pemerintah Soekarno dan Soeharto menyembunyikan lokasi eksekusi sang Imam untuk mencegah balas dendam dan reaksi para pengikutnya yang militan.

Selama ini Kartosoewiryo dipercaya masyarakat dieksekusi dan dikubur di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Bahkan ada makam yang disebut sebagai makam sang imam di sana. Ternyata salah besar.
Adalah sejarawan dan budayawan Fadli Zon yang membuka misteri yang tersimpan 50 tahun lalu itu. Lewat buku ‘Hari terakhir Kartosoewiryo: 81 Foto Eksekusi mati Imam DI/TII’, terungkap Kartosoewiryo dieksekusi mati dan dikuburkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.

Buku foto ini merangkai perjalanan akhir sang imam. Mulai makanan terakhir yang dimakannya, perjalanannya ke pulau, hingga ditembak mati tentara dan disalatkan serta dimakamkan. “Sebuah fakta yang terkubur selama 50 Tahun, Kartosoewiryo dieksekusi September 1962,” kata Fadli dalam undangan peluncuran bukunya yang digelar di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (4/9), seperti dikutip muslimdaily.
Kartosoewiryo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Soekarno kemudian mengirimkan tentara dari Divisi Siliwangi dan satuan-satuan lain untuk menumpas gerakan Kartosoewiryo. Peperangan gerilya di belantara Jawa Barat berlangsung lama. Baru tahun 1962 gerakan ini dipatahkan. Kartosoewiryo ditangkap tentara Siliwangi saat bersembunyi dalam gubuk di Gunung Rakutak, Jawa Barat tanggal 4 Juni 1962.

Soekarno menjatuhkan hukuman mati pada Kartosuwiryo. Sebenarnya, Kartosoewiryo adalah sahabat karibnya. Dulu Soekarno, Muso dan Kartosoewiryo sama-sama ngekos di rumah Tjokroaminoto di Surabaya. Tapi ketiganya akhirnya memilih ideologi dan jalan yang berbeda. Soekarno menjadi nasionalis, Muso menjadi komunis, sedangkan Kartosuwiryo menjadi Islamis. Nasib Kartosoewiryo pun berakhir diterjang timah panas regu tembak tentara Soekarno, mantan sahabatnya sendiri.

4 Permintaan Terkhir Imam Karto Soewiryo

Ditolak grasinya oleh Presiden Soekarno, Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo meminta empat hal pada Soekarno sebelum eksekusi. “Ada permintaan terakhir bapak. Ada empat,” kata anak bungsu Kartosoewiryo, Sardjono, saat diskusi buku Hari-hari terakhir Kartosoewiryo di TIM, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (5/9).

Permintaan tersebut adalah bertemu dengan perwira-perwira terdekat Kartosoewiryo. Permintaan ini ditolak karena dikhawatirkan akan menimbulkan dampak politik. Permintaan kedua, eksekusi mati disaksikan perwakilan keluarga. Namun permintaan ini juga ditolak. Permintaan yang ketiga, jenazah dikembalikan pada pihak keluarga. Ini pun juga ditolak oleh Soekarno. Baru permintaan yang keempat dikabulkan oleh Soekarno. “Permintaan keempat, agar dipertemukan dengan pihak keluarga untuk terakhir kalinya. Permintaan ini yang dikabulkan,” kata Sardjono Kartosoewiryo.

Sebelum di eksekusi, sang imam besar pun dipertemukan terlebih dahulu dengan keluarganya untuk terakhir kali. Mereka makan bersama dan mengobrol untuk terakhir kali di rumah tahanan militer, Jakarta. Setelah makan bersama, Kartosoewiryo kemudian dibawa ke Pulau Ubi dan ditembak mati regu penembak.
Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo mengakhiri perjuangannya dan ditangkap bulan Juni 1962 oleh tentara Republik Indonesia. Dia kemudian diadili secara kilat dan dijatuhi hukuman mati. 

Terima kasih untuk Bung Fadli Zon (GERINDRA), berkat pencerahannya menguak tabir misteri ini

Komunisme dalam Pergumulan Wacana Ideologi Masyumi Artikel MILLAH 2001 PDF
Found at ebookbrowse.com

Saturday, December 8, 2012

Terbunuh Sepi - SLANK

video

Gerimis ditengah malam ..
Ditempat sedingin ini ..
Aku sendiri ..
Dan tak ada ..
Tempat mengadu ..
Dan bibir untuk kucium..
Sepi membunuhku ..

Kuterlepas tak terkendali ..
Dan aku tenggelam ..
Semakin dalam ..
Oh tak ada ..
Tempat berteduh
Dan tubuh untuk kupeluk..
Sepi membunuhku

Wednesday, December 5, 2012

Hati dan Belati

Aku mendatangimu dengan dua malaikat di kedua sisiku. Malaikat di sebelah kananku, semenjak hari kelahiranku, hanya mengharapkan aku melakukan kebaikan, lalu menuliskan semua kebaikan itu di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain sutra putih yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah yang nanti akan ia bangga-banggakan kepada penciptanya. Malaikat di sebelah kiriku, hingga hari kematianku, tidak pernah mengharapkan aku melakukan kejahatan, meski yang ia lakukan hanya menuliskan kejahatan-kejahatan yang kulakukan di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain lusuh hitam yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah nanti yang akan ia perlihatkan kepada penciptanya.

Bajuku tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku. Rambutku panjang melebihi punggung dan tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering maka sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Kuku di tangan kiri dan kananku panjang-panjang sehingga mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu.
Tidak ada alas kaki, tidak ada mahkota berlian, tidak ada kereta kuda.

Kedua telapak tanganku terbuka, menampung hatiku yang merah di tangan kanan namun tidak berlumur darah karena telah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu, lalu belati mengkilat di tangan kiri, yang belum lama kupakai untuk merobek dadaku dan sudah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu.

Inilah kabar yang seharusnya dilihat dan didengar semua orang. Sebuah berita, bukan cerita, karena ada beda yang nyata antara aksara kedua dengan aksara ketiga, meski hanya satu, karena sebuah berita seharusnya berguna, begitu pula cerita. Bukan tentang jubah yang dikenakan si Anak Pertama. Bukan tentang makanan yang masuk ke perut si Anak Kedua. Bukan tentang permata yang mengelilingi lengan si Anak Ketiga. Sampah. Bukan tentang si Mata Besar yang menawarkan cincin kepada si Mata Kecil. Bukan tentang si Kuping Besar yang memberi cincin kepada si Kuping Kecil. Bukan tentang si Hidung Besar yang mengambil cincin dari jari si Hidung Kecil. Sampah. Sampah. Bukan tentang si Gemuk yang tubuhnya kurus tiba-tiba. Bukan tentang si Kurus yang tubuhnya menggelembung tiba-tiba. Bukan tentang si Hidup yang mati tiba-tiba. Sampah. Sampah. Sampah.

Sering kepalaku berputar-piutar dan mataku menjadi gelap gulita bila memikirkan anak-anak perempuan setiap hari, dari pagi hingga malam, hingga kembali pagi, melahap sampah-sampah di dalam rumah-rumah mereka, sampah beku dan sampah bergerak, begitu pula perempuan-perempuan berketurunan puluhan yang hanya bergerak dari kasur ke sumur ke dapur, dari sumur ke dapur ke kasur, dari dapur ke kasur ke sumur, dari sumur ke kasur ke dapur.

Sang Kejahatan dan Sang Kebaikan sering bertengkar di dalam kepalaku. Suaranya membuatku gundah dan berputar-putar tiga belas putaran. Mereka bersuara sama memekakkan, bahkan selalu memukul-mukul tempurung kepalaku dengan tombak besi merah dan tongkat kayu putih di tangan kanan mereka hingga membuat kepalaku semakin berputar-putar dua puluh enam putaran.
Bila Sang Kejahatan memenangkan pertengkaran karena suaranya lebih memekakkan, maka ia akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke  tempurung kepalaku.

Bila Sang Kejahatan kalah dalam pertengkaran karena suaranya kurang memekakkan, maka ia akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke  tempurung kepalaku.
Maka aku sering diam, dan berpikir lebih baik tidak berkeinginan mempunyai keinginan.

Hati dan belati bukan pilihan yang harus kau pilih. Engkau bukan sedang ikut berjudi dalam lingkaran empat-lima orang, atau permainan mengadu nasib yang dilihat berjuta-juta orang semalam suntuk di seluruh negeri. Hati dan belati, hari ini, bukan perumpamaan yang diucapkan para lelaki yang sepanjang hari menyembunyikan taring dan tanduknya dengan wajah laksana Sang Kebaikan dan mengenakan mahkota berlian di atas kereta kuda mewah berpahat lambang-lambang kerajaan.

Hati kuberikan dengan kerelaan, karena aku ingin engkau menyimpannya di dadamu, sebelum aku merobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, maka kita tidak perlu mempertarungkan kata-kata tentang isinya sewaktu-waktu hingga berhari-hari dan membuat kita bagai orang tanpa kepala.

Belati kubawakan bukan untuk mengancammu, melukaimu, bahkan membunuhmu. Aku hanya ingin melindungimu dari iblis-iblis bertaring dan bertanduk dan berbulu dan berekor dan berlidah cabang tiga belas yang akan mencakari tubuhmu dari kiri dan kanan, dari depan dan belakang, dan dari pencoleng-pencoleng yang akan merobek dadamu dan mengambil hatiku yang disangkanya hatimu dan menyimpannya di dada mereka, padahal seharusnya mereka tahu ruang di dadamu hanya cukup untuk hatiku dan ruang di dadaku hanya cukup untuk hatimu, karena hati kita sama besar, sungguh-sungguh sama, maka itulah yang membuat kita bisa hidup selamanya bila kita telah merobek dada dan menukarnya. Tidak mati salah satunya hanya lebih dahulu beberapa helaan, karena sudah pasti disusul kematian berikutnya.
Kematianku, atau kematianmu.

Terimalah hati dan belati yang kubawa, karena inilah harta yang kumiliki. Semata. Aku tidak akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, karena aku tidak memilikinya dan aku bukan lelaki yang akan menyimpan perempuan-perempuan mereka di dalam kamar-kamar rahasia dan menyetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan.
Bila sudah kurobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, dan hatiku yang kubawa di tangan kananku kuletakkan di dadamu, maka akan kuhadiahi engkau dengan bunga-bunga setiap pagi dan malam.
Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah, padahal pernah kudengar seorang perempuan tua berkata, “Seorang perempuan nyata indahnya ketika ia terbangun dari tidur pagi harinya.”

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku, padahal pernah kudengar seorang lelaki tua berkata, “Keindahan perempuan untuk di mata dan  di badan.”
Akan kuberikan engkau ciuman di kening setiap malam dan pagi hari sebagai rasa bungah cintaku kepadamu. Bukan lumatan di bibir atau buah dadamu, karena aku mencintai hadirmu, bukan semata tubuhmu, maka aku tidak akan memperkosamu sejak sebelum tengah malam hingga ayam jantan berkokok bersama keluarnya matahari.

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku. Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah. Semata-mata.

Akan kuganti baju tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku, dengan jubah berwarna merah bersulam naga-naga dari benang emas, meski tetap panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku.

Akan kuhabisi rambut panjang melebihi punggung yang tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering dan sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Maka rupaku akan laksana Penguasa Negeri Pasir, meski aku membenci manusia bodoh yang menganggap dirinya Sang Maha Segala dan aku selalu tertawa bila mengingatnya tenggelam bersama pasukan berkudanya di laut luas saat mengejar lelaki yang dijadikannya sebagai musuh besar, yang pergi bersama pengikut-pengikutnya, padahal saat kanak-kanak lelaki itu dijadikannya sebagai saudara sedarah karena mereka datang dari dua rahim.

Akan kupotong kuku di tangan kiri dan kanan yang panjang-panjang sehingga aku mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu. Maka tanganku akan begitu indah hingga tidak lagi membuatku laksana setan yang datang dari lubang-lubang besar di kaki gunung.
Terompah dari kulit domba dengan lapis sutra dan butir-butir emas akan membungkus kedua kakiku. Mahkota dari emas dengan butir-butir berlian dan permata akan melindungi kepalaku. Sebuah kereta dengan kuda-kuda yang kuat dan bersih akan mengikutiku kemana angin.

Namun aku tidak akan memaksamu. Bila hari ini engkau mengutuk sebuah ketiba-tibaan, maka aku akan menunggumu hingga beberapa hari berpikir meski kerut-kerut membuat keningmu hilang indahnya, dan hari ketujuh aku akan kembali mendatangi dengan sebuah pertanyaan berhari lalu: “Bersediakah engkau menerima hati dan belati yang kubawakan untukmu?”

Bila hari itu engkau belum pula memiliki kata, maka aku akan mendatangimu tujuh hari kemudian, lalu pada hari ke-21, 28, 35, 42, 49, 56, 63, 70, 77, 84, 91, 98, 105, 112, 119, 126, 133, 140, 147, 154, 161, 168, 175, 182, 196, 203, 210, 217, 224, 231, 238, 245, 252, 259, 266, 273, 280, 287, 294, 301, 308, 315, 322, 329, 336, 343, 350, 357, 364.

Lalu pada hari ke-365 aku akan berhenti, karena aku tahu, engkau tidak berkenan.
Tentu tubuhku terlalu bau dan kotor, meski tidaklah buruk, maka engkau menampik diriku. Tentu aku membawa persembahan yang tidak akan membawamu ke atas menara emas, maka engkau tapi-kan diriku. Tentu engkau mengharapkan seorang lelaki akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, meski engkau tahu akan disimpannya bersama  perempuan-perempuan lain di dalam kamar-kamar rahasia dan engkau akan disetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan semata. Dengan kerakusan. Semata.

Namun aku bahagia karena hari ini suara Sang Kejahatan kalah memekakkan. Ia menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke  tempurung kepalaku.
Meski membuatku semakin pusing tiga belas putaran.
Kubawa sakit di kepala dan kakiku yang retak-retak kepanasan, mengelilingi tanah-tanah dan pasir-pasir dan debu-debu dengan kedua telapak tanganku yang terbuka, mencari tempat menghadap laut untuk menanam hatiku yang merah dan tidak lagi berlumur darah di tangan kanan, dan belati mengkilat di tangan kiri.
Aku akan menunggumu di gerbang ruh-ruh keabadian.


Worldwide copyright © 2011. Chairil Gibran Ramadhan. All rights reserved