Monday, November 5, 2012

Laluku Jelagaku

Semalam mataku terpicing hingga fajar menjelang
Semalam aku menorehkan namamu di gumpalan mega
Denting senar gitarku menjadi melodi yang menyayat dan sendu
Aku menyesali masa laluku

Aku mencintaimu,
Setulus embun yang jatuh dihelai daun kering
Jika cintaku ini hanya mimpi,
Izinkan aku kembali tidur tuk mengulanginya
Dan jika ini cinta abadiku,
Bolehlah aku menyimpannya
Sampai aku aku amnesia,
Jika aku harus melupakan semua
Hanya sekuntum melati putih yang menemaniku
Mungkin tidak ada orang yang setuju
Mungkin tidak ada yang merestui
Tapi kau tetap sekuntum melati putih

Menjelang subuh,
Aku beranjak menggapai cermin yang retak
Semakin jelas terpapar kelam hitam laluku,
Aku beringsut mundur
Dinginnya udara pagi menamparku,
Menghujatku
Memakiku
Dan berkata
“Kau mahluk tuhan paling hina”.
“Kau legam bagai jelaga”
“Masih pantaskah kau sunting melati putihku?”

Akupun hanya bisa diam
Aku layak
Matipun
Layak
Sangat layak