Monday, October 1, 2012

Siapa Menunggani Siapa

Sejumlah pertanyaan masih menyelimuti peristiwa kelam 1 Oktober 1965 lalu. Siapa memanfaatkan siapa? Siapa menunggangi siapa?


Benarkah Letkol Infanteri Untung Sjamsuri adalah otak di balik peristiwa ini. Ataukah Untung hanya dimanfaatkan oleh Ketua CC PKI DN Aidit? Atau justru Soeharto yang memanfaatkan Untung?

Sejarawan Petrik Metanasi menilai Untung bukanlah otak Gerakan 30 September. Benar kala itu Untung yang memimpin gerakan militer untuk menculik para jenderal ke Lubang Buaya. Tapi dia meyakini kalau Untung bukanlah pimpinan utama. Untung hanyalah komandan pasukan militer Gerakan 30 September.

"Kita lihat Untung adalah sosok prajurit yang kurang pandai berpolitik. Untung terlibat gerakan itu mungkin karena mendengar isu Dewan Jenderal. Sebagai Komandan Batalyon Cakrabirawa, Untung merasa punya kewajiban menyelamatkan Soekarno," kata Petrik saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (28/9).

Saat aksi 30 September, memang tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Tapi satu hal yang pasti sebagaimana kebiasaan komunis, politik mengendalikan tentara. Dalam G30S, Kepala Biro Chusus PKI Sjam Kamaruzaman justru yang lebih dominan mengendalikan gerakan itu. Empat perwira militer, Brigjen Soepardjo, Kolonel Latief, Letkol Untung dan Mayor Soejono, berada di bawah kendali Sjam.

Biro Chusus PKI adalah lembaga rahasia yang bertugas merekrut para anggota militer untuk kepentingan PKI. Tak semua petinggi PKI tahu soal biro chusus ini. Hanya Ketua Comite Central (CC) PKI DN Aidit yang mengendalikan mereka.

Dalam pengakuannya soal G30S, Brigjen Soepardjo juga mengaku bingung. Sebagai jenderal yang biasa memegang komando dan bekerja secara cermat, Soepardjo bingung dengan organisasi G30S.

"Apa yang terjadi pada waktu itu adalah suatu debat, atau diskusi yang langdradig (tak berujung pangkal), sehingga kita semua bingung melihatnya. Siapa sebenarnya komandan? Kawan Sjamkah? kawan Untungkah? kawan Latifkah?" Mengenai hal ini perlu ada peninjauan yang lebih mendalam karena letak kegagalan kampanye di ibu kota sebagian besar karena tidak ada pembagian komandan dan kerja yang wajar," tulis Soepardjo seperti dikutip John Roosa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal.

Soepardjo juga menyayangkan Untung tak berbuat sesuatu saat musuh dalam kondisi bingung. Kala itu seharusnya Untung bisa melakukan tindakan, memukul satuan-satuan militer yang tak mendukung G30S, atau mengambil kendaraan lapis baja untuk memperkuat posisi mereka.

"Radio RRI yang kita kuasai juga tidak kita manfaatkan. Sepanjang hari hanya dipergunakan untuk membacakan pengumuman saja. Harusnya radio digunakan semaksimal mungkin oleh barisan agitasi propaganda," tulis Soepardjo.

Maka setelah para jenderal dibunuh dan Presiden Soekarno memerintahkan Gerakan 30 September menghentikan aksinya, yang terjadi adalah kekalutan. Untung bingung, tak tahu harus melakukan apa.

Secara nyata memang pasukannya kalah jauh dengan pasukan Kostrad Mayjen Soeharto yang didukung RPKAD.
Untung membubarkan pasukannya. Dia kemudian lari ke Jawa Tengah. Sebagai komandan, seharusnya Untung memberikan keterangan kemana harus lari, lalu dimana daerah aman. Kapan bertemu kembali. Tapi pasukan itu dibubarkan seperti membubarkan anak ayam.

Wakil Perdana Menteri kepercayaan Soekarno, Soebandrio, juga punya analisa sendiri. Soebandrio menyebut tanggal 15 September 1965, Untung menemui Soeharto. Untung melaporkan akan ada aksi Dewan Jenderal. Dia pun mengaku akan menangkap para jenderal itu dengan kapasitasnya sebagai komandan batalyon Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden.

Apa kata Soeharto? "Bagus kalau kamu punya rencana begitu sikat saja. Jangan ragu-ragu. Kalau perlu bantuan akan saya bantu," tutur Soebandrio.

Soeharto menawarkan pasukan bantuan yaitu Yon Raiders 530 dari Jatim dan Yon 454 dari Jateng.

Kebetulan menjelang HUT ABRI 5 Oktober. Pasukan inilah yang pada 1 Oktober stand by di Lapangan Monas depan Istana Negara.

Tapi pasukan ini ternyata tak bisa diandalkan Untung. Yon 530 segera kembali saat diminta Soeharto kembali ke Kostrad. Yon 545 mundur ke Lubang Buaya dan sempat terlibat baku tembak dengan RPKAD. Tak ada dukungan logistik membuat dua pasukan ini kocar-kacir.

Maka sejarawan Petrik Metanasi meragukan jika Untung benar-benar siap melakukan kudeta. Untung hanya menjadi pimpinan gerakan militer, bukan operasi seluruhnya.

"Untung tak siap. Dia tidak punya rencana matang," kata Petrik.

Maka Untung harus membayar kudeta bingungnya dengan eksekusi mati di depan regu tembak Soeharto. Ironisnya, sampai saat terakhir dia masih berharap Soeharto akan datang menyelamatkannya.

sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/g30s-kudeta-bingung-letkol-untung.html