Tuesday, August 16, 2011

ORDE KEBETULAN DAN KESALAHAN (Refleksi 66 Tahun Indonesia Raya)


Waktu telah menulis rentetan peristiwa perjalanan Indonesia Raya. Cikal bakal Indonesia dari zaman pra sejarah sampai dengan zaman pat gulipat (abad 21). Tingkah polah para penguasa tercatat dengan rapi dari era homo wajakensis, homo soloensis sampai dengan era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis.
*      Era Purba/Prasejarah tanah air ini belum bernama Indonesia, tulisan ataupun artikel tentang bagaimana para pemimpin purba memimpin kaumnya dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi, tidak jarang sering berperang hanya demi mempertahankan/memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin akan dipilih karena memang layak memimpin dan memiliki daya linuwih, bahkan pemimpin dianggap sebagai tuhan/dewa yang mengejawantah. Ini kita ketahui dari arteefak-arteefak peninggalan pada masanya. (ternyata menelusuri fakta sejarah dari arteefak atau benda-benda peninggalan lebih mudah dari pada menelusuri fakta kejahatan para mafia tender, mafia hukum dan menelusuri fakta rentetan korupsi para “seniman koruptor” yang buktinya sudah nyata-nyata terlihat, teraba dan terasa)
*      Abad 21 (era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis). Adalah era millennium, pat gulipat. Ternyata sudah jauh dari rencana awaal mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 17-08-1945. Bapak-bapak kita menjadi pemimpin karena memiliki daya linuwih (lebih Nasionalis, lebih ideologis, lebih merakyat dan lebih-lebih yang lain). Sekarang pemimpin negeri ini ternyata memimpin karena 2 (dua) hal saja, yakni KEBETULAN dan KESALAHAN.
·         Kebetulan karena KEBETULAN menang PILEG, PILPRES, PILKADA dan PIL-PIL yang lain, jadi memang nawaetu-nya bukan memimpin bangsa ini, nawaetu-nya adalah niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll. Jadi walaupun sudah jadi pemimpin nagara (negarawan), jadi anggota dewan misinya tetap kembali kehati nurani sebagaimana nawaetu-nya tadi yaitu niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll.
·         Kesalahan karena ternyata kita SALAH memilih. Kita tahu bahwa pemilihan apapun selalu sarat dengan money politic, sarat dengan intrik, penuh dengan tipu muslihat dan janji palsu. Kita tahu bahwa para kandidat adalah kaum burisrawa, para drakula atau bahkan dedemit mrakayangan. Namun masih dipilih juga. Ini adalah kesalahan fatal total-tal
Setelah merenungi teorinya TATANG SUTARMA sebagaimana sodara kita Sule, akhirnya didapati satu kesimpulan. Yakni 2014 jangan ada lagi kebetulan dan kesalahan, karena kebetulan dan kesalahan ini sudah terjadi kita harus legowo menikmati, pahit getir ini tingkah polah bangsa ini. Dan untuk memperbaiki kerusakan akibat kebetulan dan kesalahan tadi tidak cukup hanya KPK, karena KPK konon Komite Penuh Kroni. Yang kita butuhkan adalah profil HAKIM BAO dari China yang piawai dalam menegakkan hukum. Wallahu a’lam ………………