Thursday, December 1, 2011

PENGEMBANGAN DIRI


PENGEMBANGAN DIRI

Bagi kebanyakan orang pengembangan diri masih merupakan kata yang abstrak. Apa itu cuma sekedar pemberian motivasi ketika Anda sedang down? Apa hubungan pengembangan diri dengan kreatifitas? Kapan itu harus dilakukan? Dari sekian banyak pengertian mengenai pengembangan diri, saya ingin menyimpulkan bahwa pengembangan diri dimulai dari pengetahuan tentang:
  1. Siapa diri kita
  2. Apa yang kita mau dan tujuan kita
  3. Apa yang kita punya untuk mencapai tujuan itu
Tiga hal ini menjadi peta dasar untuk pengembangan diri kita. Untuk mencapai apa yang kita mau kita harus tahu siapa diri kita dan apa yang kita punya untuk mencapai tujuan itu. Dari sana kita bisa menyiapkan diri dengan belajar, berusaha, dan bekerja.
Pengembangan diri merupakan topik yang luas karena didalamnya ada manajemen waktu, personal goal setting, creative thinking, self healing, motivation, problem solving dan masih banyak lagi. Tetapi kita selalu kembali ke 3 hal diatas karena pengembangan diri merupakan proses yang harus terjadi di dalam DIRI SENDIRI, bukan orang lain. Artinya kita menciptakan kondisi baru di luar dengan melakukan perubahan di dalam diri sendiri.
Di tulisan berikutnya saya akan membahas lebih detil apa saja yang terkandung dalam peta dasar pengembangan diri tersebut.
Pengembangan Diri: Dimulai darimana? disini saya ingin membahas pengetahuan tentang siapa diri kita yang pada dasarnya merupakan awal dari segala hal yang berhubungan dengan pengembangan diri. Kita sebagai individu sering mengkaitkan identitas diri dengan segala hal yang kita punya: pekerjaan, keluarga, hobi, dll. Ketika seseorang bertanya, "Siapa Anda?", biasanya Anda cenderung menjawab, "Saya manajer di perusahaan A" atau "Saya suami si anu". 
Pernahkan Anda berpikir bahwa jawaban seperti itu cenderung mendorong Anda ke kotak yang sempit?Ini karena Anda menghubungkan siapa Anda dengan jabatan atau status Anda. Padahal semua itu hanya bersifat sementara yang satu hari pasti akan musnah.
Nah, kalau Anda ingin mengembangkan diri, Anda sebaiknya mulai bertanya dengan jujur siapa diri Anda sebenarnya diluar segala hal yang sifatnya sementara. Diri Anda yang sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak pernah pudar dan selalu berkembang. Diri Anda tidak terwakili oleh sekedar pekerjaan, status, uang, dsb. Ketika Anda menyadari hal ini Anda akan terbebas dari belenggu keterbatasan dan pada saat yang sama membuka ruang seluas-luasnya untuk belajar dan tumbuh.
Mengapa banyak orang gagal padahal mereka punya uang dan berpendidikan tinggi? Jawaban singkatnya adalah meskipun uang dan pendidikan adalah hal penting tetapi itu semua bukan faktor yang menentukan sebuah keberhasilan.Sebaliknya kesadaran diri bahwa Anda adalah individu tak terbatas dan selalu berkembang bisa mengundang uang, pendidikan dan dukungan dari orang-orang disekitar Anda sebagai pembuka jalan menuju keberhasilan.
Banyak kisah orang sukses yang dimulai hanya dengan sebuah tekad.Mereka mampu melewati rintangan yang menghadang.Jatuh dan bangkit kembali sampai akhirnya menemukan jalan menuju keberhasilan. 

Tentunya keberhasilan tidak bisa dicapai dalam satu malam. Tetapi dengan kesadaran bahwa Anda adalah individu tak terbatas, selalu berkembang, dan terbebas dari penjara identitas akan menumbuhkan konsistensi dalam mengembangkan diri sehingga suatu hari Anda bisa berkata, "Saya bangga dengan keberhasilan saya".
Sangatlah sulit untuk mengenal diri kita, karena sesungguhnya kita sendiri tidak pernah menyelami dan ingin tahu siapa kita, bagaimana kita dan darimana kita. Itulah makanya hal yang terpenting dalam kehidupan kita adalah mengenal diri kita dan mampu menguasai diri kita sehingga kita mampu mengembangkan segala potensi yang kita miliki.Yang menjadi masalah adalah tidaklah mudah untuk melakukan itu semua. Perlu suatu reformasi diri yang dilakukan secara bertahap sehingga mampu merubah sikap negatif yang selalu tertanam dalam diri kita menjadi hal yang positif. Contoh bagaimana seorang Thomas Alfa Edison yang selalu berusaha walaupun ratusan kali dia gagal, akhirnya dia berhasil. Inilah sebenarnya hakekat hidup yaitu terus berusaha karena Alloh berfirman bahwa Alloh tak akan merubah nasib suatu kaum jika mereka sendiri yang tidak merubahnya. Dalam pandangan ini jelas etos kerja dan keikhlasan akhirnya akan membawa kita sedikitnya mengenal siapa diri kita

Melihat Kegagalan Dari Konteks Pencapaian
Apa yang dimaksud dengan kegagalan dan apakah kita perlu mempelajarinya untuk mencapai sukses?
Menarik untuk disimak, kegagalan bisa diartikan berbeda oleh banyak orang. Satu pandangan mengatakan kegagalan adalah ketidakmampuan mencapai apa yang diinginkan. Sementara ada juga yang menganggap kegagalan terjadi akibat terlalu memaksakan diri melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan yang ada atau istilahnya “nafsu besar tenaga kurang”.
Lantas pertanyaannya, apakah kita perlu mempelajari kegagalan? Kalau kita bercermin pada perusahaan-perusahaan dan tokoh-tokoh besar dunia, mempelajari kegagalan hanya berguna dalam konteks pencapaian sukses. Dalam hal ini, kegagalan memberikan pengetahuan tentang apa yang kita luput lakukan di masa lalu dan bagaimana kita sebaiknya melakukannya di masa depan agar sukses tercapai.
Eksperimen hari ini:
1. Pilih satu hal yang ingin Anda tampilkan berbeda? Misalnya: bagaimana tindakan saya bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang?
2. Ambil contoh tiga orang yang Anda anggap mewakili “role model yang sukses” di area ini
Misalnya: Nelson Mandela, Soekarno, Ayah Anda sendiri.
3. Sikap apa yang kira-kira mereka sama-sama miliki? Adakah kesamaan karakter dan strategi mereka? Misalnya: mereka punya keyakinan diri, mereka mau mengambil risiko, mereka menyayangi orang-orang disekitarnya.
4. Sekarang ambil satu orang yang Anda anggap gagal di area ini Misalnya: Hitler
5. Apa yang sama antara orang ini dengan ketiga orang yang sukses? Misalnya: barangkali dia juga punya keyakinan diri, juga mau mengambil risiko (meskipun dijalan yang merugikan)
6. Apa perbedaannya? Misalnya: Dia mengajarkan kebencian, memposisikan dirinya diatas orang lain.

7. Sekarang kembali ke role model yang sukses. Jika Anda ingin seperti mereka, apa yang bisa Anda lakukan yang berbeda dengan contoh yang gagal? Misalnya: mengajarkan kasih sayang, memperlakukan orang lain setara, berani mengambil risiko tanpa merugikan orang lain.


Selamat bereksperimen dan salam sukses!
Ada tiga kata kunci sukses pengembangan diri. Ketiganya harus ada, jika tidak maka pengembangan diri Anda tidak akan berhasil. Sering kali sebuah buku pengembangan diri hanya membahas hanya salah satu atau dua dari ketiga kata kunci ini, sehingga buku tersebut tidak memberikan manfaat langsung kepada pembacanya. Dengan memahami ketiga kata kunci ini, insya Allah Anda akan mendapatkan manfaat lebih dari setiap buku atau ebook yang Anda baca.
Kata kunci pengembangan diri yang pertama adalah “what”. Atau apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan diri? Jika Anda ingin menjadi seorang pembicara publik, apa saja yang diperlukan dan apa saja yang harus dilakukan. Anda ingin percaya diri? Apa saja yang diperlukan dan apa saja yang harus dilakukan? Jika Anda ingin berpikir positif, Anda pun harus bertanya apa saja yang diperlukan atau apa saja yang harus dilakukan. Kata kuncinya ialah “apa”. Kata “apa” akan memberikan kerangka kerja untuk mencapai sesuatu.
Namun tidak cukup dengan pertanyaan “what” saja. Banyak buku yang membahas “what” saja sehingga setelah membaca buku tersebut, kita masih bingung. Semua orang tahu bahwa sukses harus bertindak, tetapi bagaimana caranya? Semua orang tahu bahwa jika ingin sukses berbisnis harus banyak bersilaturahim, tetapi bagaimana cara bersilaturahim? Oleh karena itu, kata kunci pengembangan diri yang kedua ialah “how” atau lebih lengkapnya ialah “how to do”.
Jangan salahkan jika sebuah buku atau seminar yang hanya membahas “what to do”, karena memang itu tujuannya. Yang diperlukan ialah usaha kita untuk mengetahui bagaimana melakukannya atau “how to do”-nya. Seorang entrepreneur haruslah kreatif, namun bagaimana agar kreatif? Anda harus mencari cara bagaimana supaya kita kreatif? Anda harus memiliki ilmu tentang kreativitas dan kemudian melatihnya.  Jawaban ini baru dalam tahap “what to do”. Lalu, bagaimana caranya?
Yang ketiga ialah “why”. Menurut Robert T Kiyosaki ini adalah kata kunci terpenting dibanding kedua kata kunci lainnya.“Why” adalah alasan yang mendorong Anda melakukan sesuatu. Jika Anda ingin memiliki keterampilan menulis, mengapa Anda harus memiliki keterampilan menulis? Semakin kuat jawaban Anda terhadap pertanyaan “why”, maka dorongan untuk melakukan akan semakin besar. Percuma Anda sudah mengetahui jawaban dari “what” dan “how”, tetapi tidak memiliki jawaban dari “why” atau jawabannya lemah. Jawaban dari “why” adalah motivasi Anda memiliki keterampilan tersebut.
Jadi dalam pengembangan diri Anda harus mengetahui what to do, how to do, dan why. Tanpa ketiga kata kunci ini, pengembangan diri Anda tidak akan berhasil.
Bagaimana cara meyakinkan diri sendiri untuk memiliki rasa percaya diri? Pertanyaan ini bagus sekali, karena kunci dari percaya diri adalah keyakinan akan diri sendiri. Jadi, pertanyaan ini ialah bagaimana cara meyakinkan diri sendiri. Jika Anda sudah memiliki keyakinan akan diri sendiri, maka percaya diri akan muncul.
Banyak orang yang mengatakan tidak yakin kalau belum melihat dengan mata sendiri. Meski ungkapan ini “rancu” namun itulah apa yang ada di pikiran banyak orang. Mereka hanya yakin jika sudah melihat. Padahal kalau sudah melihat bukan keyakinan lagi, itu namanya sudah pengetahuan.Justru, yakin itu terhadap sesuatu yang belum kita lihat.
OK, tidak masalah. Bagaimana pun itulah apa yang ada di pikiran kebanyakan orang. Termasuk Anda?  Sekarang kita akan belajar bagaimana “melihat” kemampuan Anda, sehingga Anda menjadi lebih yakin bahwa diri Anda mampu. Inilah cara meyakinkan diri.
Cara melihat kemampuan Anda ialah dengan melakukan apa yang disebut: “tantangan“. Banyak penulis buku mengatakan, jika kita ingin percaya diri, maka lakukanlah tantangan.Tantangan adalah sebuah tindakan yang selama ini Anda anggap sulit bahkan tidak mungkin dilakukan.
Mengapa harus melakukan tantangan? Karena ini langkah awal cara meyakinkan diri. Jika Anda hanya melakukan apa yang Anda bisa, Anda tidak bisa melihat kemampuan Anda yang sesungguhnya. Dengan melakukan tantangan, mata Anda akan terbuka, ternyata Anda bisa melakukan sesuatu yang selama ini Anda anggap tidak bisa. Maka percaya diri pun akan naik.
Masalahnya. Banyak orang yang enggan melakukan tantangan. Baru mendengar saja, sudah terlintas sesuatu yang berat. Melakukan tantangan adalah keluar dari zona nyaman, sehingga banyak orang yang tidak mau melakukannya. Termasuk Anda? Coba saja periksa, seberapa banyak tantangan yang pernah Anda lakukan.
Oleh karena itu, ada strategi khusus bagaimana cara kita melakukan tantangan. Strategi itu adalah: bertahap. Anda akan merasa berat atau sulit jika langsung menghadapi tantangan yang berat. Tantangan harus bertahap, mulai dari tantangan yang kecil, kemudian dinaikan lagi sampai Anda mampu melakukan tantangan besar dalam hidup Anda. Cara meyakinkan diri harus dilakukan secara bertahap.

Wednesday, August 24, 2011

BENGKOKNYA SEJARAH KITA


Selama ini kita telah membaca buku-buku sejarah serta berbagai publikasi sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia. Kita tertipu. Sukses besar yang diperoleh dua rezim penguasa di Indonesia dalam mendistorsi sejarah Darul Islam, adalah munculnya trauma politik di kalangan umat Islam. Hampir seluruh kaum muslimin di negeri ini, memiliki semangat untuk memperjuangkan agamanya, bahkan seringkali terjadi hiruk pikuk di ruang diskusi maupun seminar untuk hal tersebut. Tetapi begitu tiba-tiba memasuki pembicaraan menyangkut perlunya mendirikan Negara Islam, kita akan menyaksikan segera setelah itu mereka akan menghindar dan bungkam seribu bahasa.
Pernah seorang tokoh Islam yang menampakkan ketakutannya terhadap persoalan Negara Islam. Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid (Almarhum) misalnya, secara terus terang bahkan mengatakan: "Musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan Islam dan menginginkan berlakunya syari'at Islam". (Republika, 22 September 1998, hal. 2 kolom 5). Selanjutnya ia katakan : "Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa mengatakan hal itu sekularisme".
Bahkan pernah pula salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reformasi ini, malah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika melalui slogan gagah: "Kita tidak memerlukan Negara Islam. Yang penting adalah negara yang Islami". Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden partai tersebut mengatakan: "Bagi kita tidak masalah, apakah pemimpin itu muslim atau bukan, yang penting dia mampu mengaplikasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan keadilan".
Demikian besar ketakutan kaum muslimin terhadap isu Negara Islam, melebihi ketakutan orang-orang kafir dan sekuler, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa segala isme (faham) atau pun Ideologi di dunia ini berjuang meraih kekuasaan untuk mendirikan negara berdasarkan isme atau ideologi yang dianutnya.
Selama 32 tahun berkuasanya rezim Soeharto, sosialisasi tentang Negara Islam Indonesia seakan terhenti. Oleh karena itu adanya bedah buku atau pun terbitnya buku-buku yang mengungkapkan manipulasi sejarah ini, merupakan perbuatan luhur dalam meluruskan distorsi sejarah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari khazanah sejarah bangsa Indonesia.
Sejak berdirinya Republik Indonesia, Bangsa Indonesia umumnya, telah ditipu oleh penguasa, hingga saat sekarang. Umat Islam yang menduduki jumlah mayoritas telah disesatkan pemahaman sejarah perjuangan Islam itu sendiri. Sudah seharusnya, di masa reformasi ini, umat Islam menyadari bahwa di Indonesia pernah ada suatu gerakan anak bangsa yang berusaha membangun supremasi Islam, yaitu Negara Islam Indonesia yang berhasil diproklamasikan, 7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13 tahun lamanya (1949-1962). Namun rezim yang berkuasa telah memanipulasi sejarah tersebut dengan seenaknya, sehingga umat Islam sendiri tidak mengenal dengan jelas sejarah masa lalunya.
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, adalah sebuah nama yang cukup problematis dan kontroversial di Indonesia, dari dulu hingga saat ini. Bahwa dia dikenal sebagai pemberontak, harus kita luruskan. Bukan saja demi membetulkan fakta sejarah yang keliru atau sengaja dikelirukan, tetapi juga supaya kezaliman sejarah tidak terus berlanjut terhadap seorang tokoh yang seharusnya dihormati.
Semasa Orla (Soekarno CS) berkuasa (1947-1949) yang merupakan puncaknya perjuangan Negara Islam Indonesia, SM. Kartosuwiryo memang dikenal sebagai pemberontak. Tetapi fakta yang sebenarnya adalah, Kartosuwiryo sesungguhnya tokoh penyelamat bagi bangsa Indonesia, lebih dari apa yang dilakukan oleh Soekarno dan tokoh tokoh nasionalis lainnya. Pada waktu Soekarno bersama tentara Republik pindah ke Yogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Renville, yang menyebutkan bahwa wilayah Indonesia hanya tinggal Yogya dan sekitamya saja, dan wilayah yang masih tersisa itu pun, dipersengketakan antara Belanda dan Indonesia, sehingga pada waktu itu nyaris Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Dan yang ada hanyalah negara-negara serikat, baik yang sudah terbentuk, atau pun yang masih dalam proses melengkapi syarat-syarat kenegaraan. Seperti Jawa Barat, ketika itu dianjurkan oleh Belanda supaya membentuk Negara Pasundan, namun belum terbentuk sama sekali, karena belum adanya kelengkapan kenegaraan.
Ketika segala peristiwa yang telah disebutkan di atas, menggelayuti atmosfir politik Nusantara, pada saat itu Indonesia dalam keadaan vacuum of power. Pada saat itulah, Soekarno memerintahkan semua pasukan untuk pindah ke Yogyakarta berdasarkan perjanjian Renville. Guna memberi legitimasi Islami, dan untuk rnenipu umat Islam Indonesia dalam memindahkan pasukan ke Yogya, Soekarno telah memanipuiasi terminologi al-Qur'an dengan menggunakan istilah "Hijrah" untuk menyebut pindahnya pasukan Republik, sehingga nampak Islami dan tidak terkesan melarikan diri. Namun S.M. Kartosuwiryo dengan pasukannya tidak mudah tertipu, dan menolak untuk pindah ke Yogya. Bahkan bersama pasukannya, ia berusaha mempertahankan wilayah jawa Barat, dan menamakan Soekarno dan pasukannya sebagai pasukan liar yang kabur dari medan perang.
Jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1930-an, istilah"hijrah" sudah pernah diperkenalkan, dan dipergunakan.sebagai metode perjuangan modern yang brillian oleh S.M. Kartosuwiryo, berdasarkan tafsirnya terhadap sirah Nabawiyah. Ketika itu, pada tahun 1934 telah muncul dua metode perjuangan yaitu cooperatif dan non cooperatif. Metode non cooperatif, artinya tidak mau masuk ke dalam parlemen dan bekerja sama dengan pemerintah Belanda namun bersifat pasif, tidak berusaha menghadapi penguasa yang ada. Metode ini sebenamya dipengaruhi oleh politik SWADESI, politik Mahatma Gandhi dari India. Lalu muncullah S.M. Kartosuwiryo dengan metode Hijrah, sebuah metode yang berusaha membentuk komunitas sendiri, tanpa kerjasama dan aktif, berusaha untuk melawan kekuatan penjajah.
Akan tetapi, pada waktu itu, metode ini dikecam keras oleh Agus Salim, karena menganggap S.M. Kartosuwiryo menerapkan metode hijrah ini di dalam suatu masyarakat yang belum melek politik. Sehingga ia kemudian berusaha menanamkan politik dan metode hijrah itu kepada anggota PSII pada khususnya. Dengan harapan setelah memahami politik, mereka mau menggunakan metode ini, karena paham politik sangat penting. Namun, Agus Salim menolaknya, karena ia tidak setuju dengan politik tersebut. Menurutnya rakyat atau anggota partai hanyalah boleh mengetahui masalah mekanisme organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik yang sedang berlangsung, dan hanya elit pemimpin saja yang boleh mengetahui. Sedangkan "hijrah" adalah berusaha menarik diri dari perdebatan politik, kemudian berusaha membentuk barisan tersendiri dan berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mengantisipasi sistem perjuangan yang tidak cukup progresif dan tidak Islami. Faktor inilah yang menjadi awal perpecahan PSII, yaitu melahirkan PSII Hijrah yang memakai metode hijrah dan PSII Penyadar yang dipimpin Agus Salim.
Sekalipun metode Hijrah, bagi sebagian tokoh politik saat itu, terlihat mustahil untuk digunakan sebagai metode perjuangan, namun ternyata dapat berjalan efektif pada tahun 1949 dengan terbentuknya Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan dibawah bendera Bismillahirrahmaniirrahim. Sehingga pantaslah, jika kita tidak memperhatikan rangkaian sejarah sebelumnya secara seksama, memunculkan anggapan bahwa berdirinya Negara Islam Indonesia berarti adanya negara di dalam negara, karena Proklamasi RI pada tahun 1945 telah lebih dahulu dilakukan.
Namun sebenamya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena negara RI hanya tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa Barat dan mengalami ekspansi (pemekaran) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan dukungan itu bukan hanya berupa pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung secara revolusional. Barangkakali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di indonesia.
Melihat sambutan yang gegap gempita dan penuh kemesraan dari saudara muslim lainnya, maka rezim Soekarno berusaha untuk menghambat tegaknya Negara Islam Indonesia bersama A.H. Nasution, seorang tokoh militer beragama Islam yang dibanggakan hingga sekarang, tetapi ternyata mempunyai kontribusi yang negatif dalam perkembangan Negara Islam Indonesia. Dia bersama Soekarno berusaha menutupi segala hal yang memungkinkan S.M. Kartosuwiryo dan Negara lslam Indonesia kembali terangkat dalam masyarakat, seperti penyembunyian tempat eksekusi dan makam mujahid Islam tersebut.
Nampaklah sekarang bahwa sebenarnya penguasa Orla dan Orba, telah melakukan kejahatan politik dan sejarah sekaligus, yang dosanya sangat besar yang rasanya sulit untuk dima’afkan. Mungkin bisa diumpamakan, hampir sama dengan dosa syirik dalam pengertian agama, yang merupakan dosa terbesar dalam Islam. Karena perilaku politik yang mereka pertontonkan, telah menyesatkan masyarakat dalam memahami sejarah perjuangan Islam di Indonesia dengan sebenarnya. Berbagai rekayasa politik untuk memanipulasi sejarah telah dilakukan sampai hal yang sekecil-kecilnya mengenai perjuangan serta pribadi S.M. Kartosuwiryo. Seperti pengubahan data keluarganya, tanggal dan tahun lahirnya. Semua itu ditujukan agar Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo dan Negara Islam Indonesia jauh dari ingatan masyarakat.
Sekalipun demikian, S.M. Kartosuwiryo tidak berusaha membalas tindakan dzalim pemerintah RI. Pernah suatu ketika Mahkamah Agung (Mahadper) menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan, namun dengan sikap ksatria ia menjawab, "Saya tidak akan pernah meminta ampun kepada manusia yang bernama Soekarno".
Kenyataan ini pun telah dimanipulasi. Menurut Holk H. Dengel (sejarawan Jerman) dalam bukunya berbahasa Jerman, dan dalam terjemahan Indonesia berjudul: "Darul Islam dan Kartosuwiryo, Angan-angan yang gagal", mengakui bahwa telah terjadi manipulasi data sejarah berkenaan dengan sikap Kartosuwiryo menghadapi tawaran grasi tersebut. Tokoh sekaliber Kartosuwiryo tidak mungkin minta maaf, namun ketika kita baca dalam terjemahannya yang diterbitkan oleh Sinar Harapan (dibaca Penggelapan Harapan – menurut saya begitu) telah diubah sebaliknya, bahwa Kartosuwiryo meminta ampun kepada Soekarno, dan kita tahu Sinar Harapan adalah bagian dari kekuatan Kristen yang bahu-membahu dengan penguasa sekuler dalam mendistorsi sejarah Islam.
Tempo 1983, pernah memuat kisah seorang petugas eksekusi S.M. Kartosuwiryo, yang menggambarkan sikap ketidak perdulian Kartosuwiryo atas keputusan yang ditetapkan Mahadper RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa 3 hari sebelum hukuman mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak, padahal petugas eksekusinya tidak bisa tidur sejak 3 hari sebelum pelaksanaan hukuman mati. Dari ekskutor inilah akhimya diketahui kemudian dimana pusara Kartosuwiryo berada, yaitu di pulau Seribu.
Usaha untuk mengungkapkan manipulasi sejarah adalah sangat berat. Satu di antara fakta sejarah yang dimanipulasi, adalah untuk mengungkap kebenaran tuduhan teks proklamasi dan UUD Negara Islam Indonesia adalah jiplakan dari proklamasi Soekarno-Hatta. Yang sebenamya terjadi justru kebalikannya. Ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom (6 - 9 Mei 1945) S.M. Kartosuwiryo sudah tahu melalui berita radio, sehingga ia berusaha memanfaatkan peluang ini untuk sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia. Ia datang ke Jakarta bersama pasukan Hisbullah dan mengumpulkan massa guna mensosialisasikan kemungkinan berdirinya Negara Islam Indonesia, dan rancangan konsep proklamasi Negara Islam lndonesia kepada masyarakat. Sebagai seorang tokoh nasional yang pernah ditawari sebagai menteri pertahanan muda yang kemudian ditolaknya, melakukan hal ini tentu bukan perkara sulit. Salah satu di antara massa yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Sukarni dan Ahmad Subarjo.
Mengetahui banyaknya dukungan terhadap sosialisasi ini, mereka menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi RI sehingga Negara Islam Indonesia tidak jadi tegak. Bahkan dalam bukunya, Holk H. Dengel menyebutkan tanggal 14 Agustus 1945 Negara Islam Indonesia telah di proklamirkan, tetapi yang sebenarnya baru sosialisasi saja. Ketika di Rengasdengklok Soekamo menanyakan kepada Ahmad Soebardjo, sebagaimana ditulis Mr. Ahmad Soebardjo dalam bukunya "Lahirnya Republik Indonesia".
Pertanyaan Soekarno itu adalah: "Masih ingatkah saudara, teks dari bab Pembukaan Undang-Undang Dasar kita?"
"Ya saya ingat, saya menjawab,"Tetapi tidak lengkap seluruhnya".
"Tidak mengapa," Soekarno bilang, "Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut Proklamasi dan bukan seluruh teksnya".
Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuai dengan apa yang saya ucapkan sebagai berikut : "Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan".
Jika kesaksian Ahmad Soebardjo ini benar, jelas tidak masuk akal, karena kita tahu bahwa UUD 1945 baru disahkan dan disetujui tanggal 18 Agustus 1945 setelah proklamasi. Sehingga pertanyaan yang benar semestinya adalah, "Masih ingatkah saudara akan sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia?" Maka wajarlah jika naskah Proklamasi RI yang asli terdapat banyak coretan. Jelaslah bahwa ternyata Soekarno-Hatta yang menjiplak konsep naskah proklamasi Negara Islam Indonesia, dan bukan sebaliknya. Memang sedikit sejarawan yang mengetahui mengenai kebenaran sejarah ini. Di antara yang sedikit itu adalah Ahmad Mansyur Suryanegara, beliau pernah mengatakan bahwa S.M. Kartosuwiryo pernah datang ke Jakarta pada awal Agustus 1945 bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah.
"Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945, Kartosuwiryo telah lebih dahulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan Islam, ketika kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan laskar Hisbullah, dan segera bertemu dengan beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia. Untuk memahami mengapa pada tanggal 16 Agustus pagi Hatta dan Soekamo tidak dapat ditemukan di Jakarta, kiranya Historical enquiry berikut ini perlu diajukan: Mengapa Soekarno dan Hatta mesti menghindar begitu jauh ke Rengasdengklok padahal Jepang memang sangat menyetujui persiapan kemerdekaan Indonesia? Mengapa ketika Soebardjo ditanya Soekarno, apakah kamu ingat pembukaan Piagam Jakarta? Mengapa jawaban yang diberikan dimulai dengan kami bangsa Indonesia ...? Bukankah itu sesungguhnya adalah rancangan Proklamasi yang sudah dipersiapkan Kartosuwiryo pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945 kepada mereka? Pada malam harinya mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, yaitu Soekarni dan Ahmad Soebardjo, ke garnisun PETA di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota Karawang, dengan dalih melindungi mereka bilamana meletus suatu pemberontakan PETA dan HEIHO. Ternyata tidak terjadi suatu pemberontakan pun, sehingga Soekamo dan Hatta segera menyadari bahwa kejadian ini merupakan suatu usaha memaksa mereka supaya menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang, tujuan ini mereka tolak. Laksamana Maida mengirim kabar bahwa jika mereka dikembalikan dengan selamat maka dia dapat mengatur agar pihak Jepang tidak menghiraukan bilamana kemerdekaan dicanangkan. Mereka mempersiapkan naskah proklamasi hanya berdasarkan ingatan tentang konsep proklamasi Islam yang dipersiapkan SM. Kartosuwiryo pada awal bulan Agustus 1945. Maka, seingat Soekarni dan Ahmad Soebardjo, naskah itu didasarkan pada bayang-bayang konsep proklamasi dari S.M. Kartosuwiryo, bukan pada konsep pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh BPUPKI atau PPKI." (Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, hal. 65, Pen. Darul Falah, Jakarta).
Demikianlah, berbagai manipulasi sejarah yang ditimpakan kepada Darul Islam dan pemimpinnya, sedikit demi sedikit mulai tersibak, sehingga dengan ini diharapkan dapat membuka cakrawala berfikir dan membangun kesadaran historis kita sebagai bangsa yang besar. Lebih dari itu, upaya mengungkap manipulasi sejarah Negara Islam Indonesia yang dilakukan semasa orla dan orba oleh para sejarawan merupakan suatu keberanian yang patut didukung, supaya bangsa Indonesia dan generasi penerus mendapatkan informasi yang berimbang dari apa yang selama ini ditanamkan.
Kita wajib bersyukur kepada Allah Malikurrahman atas antusiame generasi muda Islam dalam menerima informasi yang benar dan obyektif mengenai sejarah perjuangan menegakkan Negara Islam dan berlakunya syari'at Islam di negeri ini. Semoga Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita semua, sehingga perjuangan menjadikan hukum Allah sebagai satu-satunya sumber dari segala sumber hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara segera terwujud di Indonesia yang, menurut sensus adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.
Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar!!!

Tuesday, August 16, 2011

ORDE KEBETULAN DAN KESALAHAN (Refleksi 66 Tahun Indonesia Raya)


Waktu telah menulis rentetan peristiwa perjalanan Indonesia Raya. Cikal bakal Indonesia dari zaman pra sejarah sampai dengan zaman pat gulipat (abad 21). Tingkah polah para penguasa tercatat dengan rapi dari era homo wajakensis, homo soloensis sampai dengan era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis.
*      Era Purba/Prasejarah tanah air ini belum bernama Indonesia, tulisan ataupun artikel tentang bagaimana para pemimpin purba memimpin kaumnya dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi, tidak jarang sering berperang hanya demi mempertahankan/memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin akan dipilih karena memang layak memimpin dan memiliki daya linuwih, bahkan pemimpin dianggap sebagai tuhan/dewa yang mengejawantah. Ini kita ketahui dari arteefak-arteefak peninggalan pada masanya. (ternyata menelusuri fakta sejarah dari arteefak atau benda-benda peninggalan lebih mudah dari pada menelusuri fakta kejahatan para mafia tender, mafia hukum dan menelusuri fakta rentetan korupsi para “seniman koruptor” yang buktinya sudah nyata-nyata terlihat, teraba dan terasa)
*      Abad 21 (era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis dan sekarang era Nazarudinensis). Adalah era millennium, pat gulipat. Ternyata sudah jauh dari rencana awaal mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 17-08-1945. Bapak-bapak kita menjadi pemimpin karena memiliki daya linuwih (lebih Nasionalis, lebih ideologis, lebih merakyat dan lebih-lebih yang lain). Sekarang pemimpin negeri ini ternyata memimpin karena 2 (dua) hal saja, yakni KEBETULAN dan KESALAHAN.
·         Kebetulan karena KEBETULAN menang PILEG, PILPRES, PILKADA dan PIL-PIL yang lain, jadi memang nawaetu-nya bukan memimpin bangsa ini, nawaetu-nya adalah niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll. Jadi walaupun sudah jadi pemimpin nagara (negarawan), jadi anggota dewan misinya tetap kembali kehati nurani sebagaimana nawaetu-nya tadi yaitu niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll.
·         Kesalahan karena ternyata kita SALAH memilih. Kita tahu bahwa pemilihan apapun selalu sarat dengan money politic, sarat dengan intrik, penuh dengan tipu muslihat dan janji palsu. Kita tahu bahwa para kandidat adalah kaum burisrawa, para drakula atau bahkan dedemit mrakayangan. Namun masih dipilih juga. Ini adalah kesalahan fatal total-tal
Setelah merenungi teorinya TATANG SUTARMA sebagaimana sodara kita Sule, akhirnya didapati satu kesimpulan. Yakni 2014 jangan ada lagi kebetulan dan kesalahan, karena kebetulan dan kesalahan ini sudah terjadi kita harus legowo menikmati, pahit getir ini tingkah polah bangsa ini. Dan untuk memperbaiki kerusakan akibat kebetulan dan kesalahan tadi tidak cukup hanya KPK, karena KPK konon Komite Penuh Kroni. Yang kita butuhkan adalah profil HAKIM BAO dari China yang piawai dalam menegakkan hukum. Wallahu a’lam ………………

Thursday, August 11, 2011

SEPUTAR SOAL JAWAB SEPUTAR MAKAN MEMAKAN

Soal    : Apakah yang membedakan antara rakyat jelata, konglomerat dan pejabat dalam urusan makan?
Jawab : Rakyat jelata ; berpikir hari ini bisa makan, besok makan apa?,
            Konglomerat : hari ini makan menu apa dan dimana?,
            Kalau pejabat; hari ini makan SIAPA?

senyap

sepi mengigit, bagai tungku tak berapi

Wednesday, August 10, 2011

AKU

AKU


Ku lacuri prahara,

Ku dapati luka.
Namun ku rasa suka cita.
Ku gauli cemas,
Ku cumbui was-was.
Sampai aku lemas.
Sampai darahku panas.


Drahku......

Tak lagi biru.
Tak lagi merah


Tak lagi berwarna.



Lalu aku cumbui maut, dan.....
Aku dapati birahi, kepada sang mati.


Lalu.....
Ketika ku larutkan embun pada bara,
Ku temukan uap, yang menggeliat, 
Membuncah dalam tikaman langit.
Lalu, 


Aku diam.
Kulihat aku mati.
Tanpa ideologi, apalagi arti !!



Aku harus terus bergerak !!!
Biar limbung,! 

Biar gontai,! 
Biar lebai,! 

Biar lunglai ……….
Aku harus terus bergerak!!! 



Aku bukan petir, 
Yang melesat menghantam,
Yang memercik mambutakan.
Aku bukan pula bayu,
Yang menelisik masuk sampai keparu-paru.



Aku ini aku !!!.
Yang mengendarai petir,
Melesat dalam zikir. 
Aku ini hanya hamba
Yang meniti takdir